Entri Populer

Minggu, 03 April 2011

Kegunaan

Kegunaan adalah nilai fungsi dari suatu benda atau yang dapat membantu memudahkan, memperingan,mempunyai makna atau arti dari hal tersebut.

Memang terlihat jelas bila kegiatan sampul-menyampul buku itu tidak sangat sekali nampak kegunaan objektif dan subjektifnya. Namun jangan bilang bila tidak ada sama sekali kegunaan dari kegiatan sampul-menyampul buu itu sendiri. Karena terbilang jelas bila menyampul adalah kegiatan berseni yang memiliki nilai positif. Nilai positif itulah yang menjadi nilai subjektif bagi mereka yang menyenangi atau gemar dan bahkan hobi dengan menyampul buku-buku mereka. Namun, dimanakah nilai kegunaan objektif dari sampul buku itu sendiri ? Banyak sekali tentunya nilai fungsi objektif dari sampul itu sendiri. Satu diantaranya yang bisa disebutkan sebelumnya adalah, bila mereka menyampul buku, maka nilai fungsi objektifnya adalah sampul itu akan melindungi buku itu sendiri dari kerusakan, dan mengawetkan buku mereka.

Beberapa kegunaan yang umumnya ditimbulkan dari sampul buku itu adalah sebagai berikut :

1. Melindungi buku dari kerusakan dan cacat.
2. Memperindah dan menggambarkan prilaku penyampulnya.
3. Bernilai positif bagi pemiliknya. Seperti menambah keinginan untuk selalu
membaca buku-buku mereka itu yang tersampul.
4. Meningkatkan kreatifitas dan kecerdasan dalam berusaha mengkreatifitaskan buku.
5. Membuat mereka menjadi lebih peduli akan hal-hal yang kecil, seperti menyampul
buku.
6. Menggambarkan sikap cinta terhadap buku.
7. Menjauhkan buku dari kotoran, khususnya debu.
8. Memperawet usia fisik buku.
9. Mencegah buku dari kehilangan.


Dari kesembilan kegunaan diatas dari apa-apa gunanya menyampul buku itu sendiri, terlihat bahwa menyampul selalu memberikan nilai guna positif bagi mereka yang mau repot melakukannya. Bagi yang tidak, mereka lah yang kurang peduli, namun tidak bisa disalahkan pula.
Jadi ambilah semua kegunaan-kegunaan positif dari kegiatan sampul-menyampul buku tersebut dengan begitu kebiasaan positif ini dapat kita tularkan kepada orang-orang lain yang mau peduli.

Luaran Yang Diharapkan

Segala tindakan pastinya menghendaki suatu harapan dari hal yang tengah atau telah dijalankan, dilaksanakan atau sedang dikerjakan. Layaknya seperti berdoa dan ikhtiar.

Namun, harapan apa sih yang bisa didapat dari kegiatan sampul-menyampul buku itu ?
Kayaknya nggak penting juga sih, nyampul-nyampul buku gitu, iyakan ? Kebanyakan orang-orang memang beranggapan seperti sedemikian rupa. Namun, pastinya sesuatu yang memiliki nilai positif pastinya memiliki luaran harapan yang baik, sebagai suatu usaha yang dilaksanakan.

Memang hasl luaran harapan yang diharapkan dari kegiatan ini tidak begitu seroyal harapan seperti kegiatan lainnya, seperti kegiatan merakit komputer dan menjualnya, atau dari bisnis tahu petis. Namun masih ada luaran harapan yang pastinya dimiliki dari kegiatan ini dan pastinya baik untuk diketahui dan didapatkan itu semua.

Beberapa luaran yang diharapkan dari kegitan sampul-menyampul buku ini adalah sbb :

a. Meningkatkan kreatifitas dan kecerdasan.
b. Memacu seseorang untuk hidup rapi.
c. Menginginkan setiap orang yang peduli akan menyampul buku menjadi lebih mencin
tai keindahan dan seni.
d. Diharapkan orang-orang menjadi ingat kembali akan positifnya dari menyampul buku
e. Dengan menyampul buku-bku mereka orang-orang akan memiliki nilai pandangan posi
tif dari orang lain.
f. Menyadarkan kembali orang-orang tentang budaya menyampul saat TK dulu.
g. Diharapkan orang-orang yang mau menyampul buku itu menjadi trendsetter bagi
orang-orang lain yang menggemari budaya menyampul buku itu.

Jadi intinya seperti diatas itulah gambaran luaran yang ingin diharapkan dan semoga tewujud dari kegiatan sampul-menyampul buku ini. Jadi kembali kepertanyaan sebelumnya 'Ngapain sih nyampul buku segala ?' pertanyaan yang mungkin juga ada benarnya namun sekedar untuk mengajak hal positif dari kegiatan sampul-menyampul buku ini, jawabannya adalah karena buku perlu dihargai dan diperlakukan baik pula.

Tujuan

Ngapain sih buku pake disampul segala ?

Hal tersebut adalah pertanyaan yang simpel pastinya, mengingat bagi kebanyakan orang-orang sekarang, mereka malas untuk menutupi bukunya terutama buku tulisnya dengan sampul, apalagi dengan sampul yang indah dan kreatif. Terus, bagaimana untuk menanggapi pertanyaan simpel tersebut ?

jawaban untuk pertanyaan diatas mudah saja mengingat pertanyaan tersebut mudah pula, maka mereka yang tidak menyenangi dan menganggap kegiatan menyampul buku itu hanya sekedar iseng dan ada desakan khusus untuk melakukannya. maka jawabannya adalah, karena dengan menyampul buku-buku kita, kita akan diapresisai dan dianggap sebagai orang yang mengerti arti dari perfeksionitas.

Beberapa tujuan dari menyampul buku disamping dari tujuan yang umum dari menyampul buku antara lain :

1. Menerapkan acuan awal untuk hidup tertib.
2. Mencintai kerapian.
3. Menerapkan kesenian.
4. Berpikir positif.
5. Berupaya menciptakan daya berpikir akan suau kesadaran.
6. Menghindari kerusakan buku.
7. Menanamkan nilai positif tentang budaya rapi.
8. Menimbulkan kesan mencintai apa ang dimiliki.
10. Memupuk rasa kerapihan.

Bila dapat dipahami dengan pemikiran yang positif dan netral akan tujuan-tujuan diatas mengenai apa sih bagusnya nyampul buku itu ? Maka pikirkan sekali lagi pertanyaan tersebut. Karena menyampul buku tidak ada hal buruknya. Bernlai banyak positifnya ketimbang bodo amat dengan buku yang telanjang. Walaupun memang ada biaya yang harus dibayar untuk melakukan kegiatan ini. Karena memang selalu ada harga yang harus dibayar.

Minggu, 20 Maret 2011

MENYAMPUL

Coba untuk kembali ke TK, atau SD mungkin, dimana kebanyakan guru meminta untuk menyampul buku murid-muridnya. Bila memang guru itu menyuruh anda menyampul buku waktu itu, berarti memang benar.

Apa kaitan seni dan keindahan itu ?

Adakah kaitannya dengan sampul buku ?

Sampul ibarat baju dalam kehidupan manusia normal. Dan baju yang sering dikenakan oleh kebanyakan orang pada setiap harinya (diluar seragam kantor, sekolah atau Pegawai pemerintahan) bisa jadi adalah bahasa non verbal mereka. Mengapa orang mengenakan baju bergambar artis pujaannya ? mengapa orang mengenakan baju yang bertuliskan misal, 'I love you; dan lain-lain ?
Dalam pemikiran yang tidak cuek, kemungkinan besar orang-orang tersebut mengenakan baju-baju atau dapat di bilang sampul mereka untuk menutupi tubuh mereka adalah untuk menyampaikan perasaan yang ada dalam hatinya baik yang mengena pada hari, suatu kejadian atau memang suka saja. Tapi secara tidak langsung mereka juga melakukan seni berbahasa atau berkomunikasi secara non verbal dengan lingkungannya, khususnya orang-orang.

Mengapa dikatakan seni ?

Jelas hal tersebut adalah seni, karena dengan cara mengenakan baju-baju yang unik dan berwarna, apapun warnanya, mereka telah menggunakan kesenian. Kesenian itu adalah kesenian berbicara tidak langsung, suatu keanehan mungkin, namun juga suatu hal pemikiran juga. Berpikir bagaimana kita bisa menebak, mengapa seseorang mengenakan baju itu, tau yang itu dan atau yang itu ??. Bukankah permainan menebak adalah juga seni..?

Lalu apa kaitannya dengan sampul buku.

Menyampul Buku sama pentingnya dengan mengenakan baju. Bila kita mau menghargai buku, khususnya buku tulis kita. Maka sampulah buku itu. Apalagi kita memang menyenangi keindahan dan seni.

Bukankah dengan kreatif menyampul buku dengan sampul buku yang 'asik' merupakan keindahan dan kesenangan dan bisa jadi menjadikannya suatu hobi positif yang bagus pula.

Melihat banyaknya manfaat yang secara langsung sebelum manfaat lainnya di sebutkan dari menyampul buku ini ada, maka mari kita coba mulai menyampul buku, buku tulis atau fotokopian yang berlembar-lembar itu dengan baik dan indah. Bukankah seni itu hak semua orang untuk menikmati keindahannya. Bagaimana orang yang tidak mengetahui apa itu seni..?? pastinya orang tersebut sangatlah tidak menyenangi keindahan dalam hidupnya dan sangat ironis (ade arya).

WIRAUSAHA 'QUESTION MARK' ?

Apa itu wirausaha…???

Menurut pemikiran sendiri dari beberapa bacaan dan pelajaran yang didapati setiap bertemu atau mendengar kata wirausaha, dapat ditarik kesimpulan menurut pemikiran sendiri bila wirausaha adalah hal ‘nekat’ dari seseorang untuk keluar dari satu lingkaran umum ke lingkaran lingkungan dari keahlian masing-masing setiap individhu untuk, berinovasi, berkreasi dan mencari uang tentu saja.

Dengan kreatifitas yang pasti bisa dimiliki semua individhu, menciptakan suatu kegiatan berusaha sendiri, mandiri dan bebas adalah wirausaha. Dimana setiap individhu-individhu memiliki hasrat untuk tidak mau ikut dengan orang atau organisasi lain. Hal ini merupakan kebenaran bila seseorang berpikir untuk bebas dalam berusaha yang menghasilkan, dan memiliki pemikiran yang maju.

Hambatan, tantangan dan kesulitan dalam wirausaha merupakan satu-kesatuan yang saling berusaha untuk menghentikan niat seseorang untuk mengambil langkah wirausaha ini. Jadi diperlukan semangat ‘Ke-nekatan’ untuk terus maju dalam wirausaha.

Jadi, wirausaha patut di coba dan dibudayakan, mengingat, pekerjaan apa yang mudah di dapat di jaman sekarang ini. Dari pekerjaan untuk yang setingkat ijasah SMA sampai setingkat Sarjana, di jaman sekarang dari beberapa orang-orang yang melamar pekerjaan khususnya yang saya perhatikan sahabat-sahabat saya, tanpa perantara orang dalam, keahlian khusus dan keberuntungan, pekerjaan tak mudah didapat seperti semudah kita membuat lamaran pekerjaan itu (ade arya).

Senin, 14 Februari 2011

Yang Lazimnya Dimiliki Oleh Wirausahawan

Dari beberapa pengalaman saya mengikuti ESQ dan seminar,dimana dalam kegiatan tersebut saya mendpatkan pencerahan dari orang-orang yang hidupnya telah bisa dikatakan sukses melalui bidang wirausahanya,saya dapat membuat daftar beberapa poin-poin yang lazim dimiliki oleh wirausahawan.namun,maklum saya lupa nama-nama wirausahawan-wirausahawan tersebut,tapi saya Insya Allah ingat poin-poin penting di kegiatan itu dan saya coba mendaftar beberapa poin-poin yang lazimdmiliki oleh wirausahawan,baik yang tangguh maupun masih pemula.berikut menurut pendapat dari pengalaman saya mendengarkan dan memerhatikan,saya godok menjadi sebagai berikut ini :

1. Berani
2. Inovatif
3. Kreatif
4. Imajinatif
5. Bekerja Keras
6. Pantang Menyerah
7. Kompetitif
8. Fokus
9. Senyum

Sedikit Penjelasan:
1. Berani
Seorang Wirausahawan,harus berani.berani disini ia harus mau keluar dari hal yang lama menuju hal yang belum pernah dilakukan oleh orang lain.ibarat bila kita membuatsatu lingkaran dan kita disuruh membuat satu titik,ia harus membuat titik itu diluardari lingkaran tengah, buatlah titijk diluar lingkaran tersebut saat yang lain akan membuat titik itu didalam tengah lingkaran tersebut.

2. Inovatif
Seorang Wirausahawan,harus memakai kemampuan berinovasi untuk menciptakan satu halyang berprospek baik dalam tiap-tiap kesempatan.kemampuan ini lumrah dimiliki tiap orang.dengan berinovasi kita mampu menciptakan dengan menciptakan kita terhindardari kata yang namanya konsumtif,dsan INsya Allah kita beralih menjadi orang yang produktif.

3. Kreatif
Seorang Wirausahawan mutlak harus memiliki kreatifitas untuk membantu,menyokong dan menyeimbangkan Inovasinya. Seorang sukses selain kepintaran dan keberuntungan, hal lainnya adalah kreatif ini.seorang yang kreatif, akan mengkreatifkan dirinya sendiri untuk berfikir maju,walauhanya dengan menjual tahu.

4. Imajinasi
Imajinasi merupakan hal mudah yang seorang dapat melakukannya. Namun, untuk seorang yang ingin sukses.mulailah membuat Imajinatif itu bukan sekedar mentok dalam mimpi dan impian,tapi buatlah jadi nyata untuk meraih kesuksesan. Dengan imajinasi seorang telah menggunakan kemampuan menciptanya.

5. Bekerja Keras
Sukses harus denagn bekerja keras, tidak ada kesuksesan awaldengan yang tidak bekerja keras, memang selalu ada 'Harga yang Harus dibayar',bayaran dari seorang mau bekerja keras mutlak adalah mutlak kebahagiaan kesuksesan.

6. Pantang Menyerah
Jadikan poin ini sebagai budaya ang mutlak dalam diri kita sendiri.dengan kita memiliki budaya pantang menyerah dalam diri,niscaya kita akan maju dan maju terus.

7. Kompetitif
Kemampuan ini harus berani dimiliki oleh seorang yang ingin menjadi seorang wirausahawan dan sukses. dengan berani bersaing ia akan mendapatkan hantaman-hantaman pengalaman yang baik maupun jelek yang akan menata kepribadian seorang itu untuk menjadi lebih baik dalam merebut kesuksesan.

8 Fokus
Titik berat yang harus dimiliki oleh Wirausahawan adalah fokus. dengan fokus ia akan selalu berada dalam jalannya,dan tidak terpengaruh apapun. ini yang dapat membuat ia cepat untuk meraih kesuksesan dan dewasa serta berkembang. bila seorang kehilangan fokusnya maka ia sama saja kehilangan tujuan hidupnya.

9. Senyum
dari beberapa wirausahawan-wirausahawan yang saya perhatikan, mereka tidak pernah tidak tersenyum, mereka selalu tersenyum. jadi senyum lazim dimiliki oleh mereka para oarang-orang yang ingin sukses.

demikianlah pendapat dan hasilpemikiran saya tentang bahasan ini.Segalabentuk krititk dan apresiasi saya terima untuk membangun tulisan, bacaan ini menjadi lebih baik.Terima Kasih.


Oleh : Ade Arya Dwiguna (Arreyanz), 2SA 01
UNIVERSITAS GUNADARMA
Dosen : Budi Hermana
Tugas : Kewirausahawan

Sabtu, 20 November 2010

Ilmu Sosial Dasar (Kesetiakawanan Sosial)

ILMU SOSIAL DASAR ( KESETIAKAWANAN SOSIAL )
Empat pengertian menegenai arti dari kesetiakawanan sosial
1. Menurut pandangan pribadi, ‘kesetiakawanan sosial’ merupakan suatu komitmen untuk saling berpegang teguh, taat, dan patuh untuk melaksanakan apapun yang menjadi suatu tanggung jawab diri sendiri yang terbentuk dari setiap individu khususnya individu yang berada dalam satu kelompok atau organisasi yang didalamnya banyak terdapat individu lainnya.

Kesetiakawanan menjadi benteng yang kuat dan pula lemah dalam suatu kelompok. Saat kesetiakawanan ini begitu rekatnya, maka kelompok tersebut akan menjadi sebuah satu kesatuan yang aman dan amat solid. Apapun isu yang menerpa kelompok tersebut dengan sikap memiliki rasa saling ber-kesetiakawanan maka kelompok ini tidak akan jatuh ataupun bubar. Kesetiakawanan merupakan hal baik yang akan sangat baik diterapkan pula dengan rasa kekeluargaan dengan begitu kesetiakawanan sosial akan sangat terasa dampak positifnya dengan satu sama lainnya khususnya dalam kelompok bersama-sama. Namun, saat kesetiakawanan ini diuji namun kesetiakawanan ini tidak baik diterapkan maka satu kelompok, kelompok sosial khususnya akan menimbulkan dampak negatif, permusuhan bahkan peperangan internal.

Di dalam fenomena ditengah-tengah masyarakat biasanya, penerapan rasa kesetiakawanan sosial ini dapat dilihat saat satu daerah misal, terkena musibah bencana alam. Maka, dengan memiliki rasa saling ber-kesetiakawanan, masyarakat yang tinggal diluar daerah bencana akan terdorong untuk saling membantu masyarakat yang terkena musibah tersebut. Dengan kesetiakawan soial ini masyarakat bahu-membahu membantu orang-orang yang sedang dilanda kesulitan. Dengan begitu secara langsung sikap kesetiakawanan sosial ini menimbulkan pembentukan satu pribadi positif lagi untuk satu pribadi, yakni rasa rela berkorban.

Jadi dapat disimpulkan dilihat dari dua sisi berbeda diatas, satu kesetiakawanan sosial dalam pribadi individu dalam kelompok dan dua kesetiakawanan sosial dalam masyarakat, keduanya mengambil makna bila kesetiakawanan sosial tiap dalam diri sendiri adalah rasa saling melindungi dangan rasa setia untuk melakukan satu hal yang dapat memberikan suatu rasa saling menguatkan diantara sesama dengan berkomitmen agar tidak terjadi sikap negatif yang berbahaya seperti pengkhianatan dan permusuhan serta sikap saling bodo amat.



2. Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘kesetiakawanan sosial’ terdiri dalam beberapa bentukan kata yang artinya dapat kita ambil satu persatu yang saling memiliki arti yang berkaitan, kemudian dapat kita simpulkan menjadi arti dari ‘kesetiakawanan sosial’ itu sendiri.

Bila kita pecah secara ilmu perbahasaan kata ‘kesetiakawanan’ terdiri dari dua affiksasi dan dua kata dasar. Yaitu, konfik dari ke–an dan kata dasar setia dan kawan. Dapat diperoleh arti dari kesetiakawanan sosial tersebut. Namun terlebih dahulu memisahkan kata setia dan kawan untuk diartikan satu-persatu. Pertama diartikan kata setia. Bila ditambah affiksasi tadi (ke-an), maka kata setia berubah menjadi kata diversifikasi ‘kesetiaan’. Arti dari kata setia dalam KBBI adalah patuh;taat. Tetap;teguh hati dan Berpegang teguh. Dan bila ditambah konfik ke-an maka kata tersebut berubah menjadi kata kesetiaan namun tetap bentukan kata sifat. Arti dari diversifikasi kata kesetiaan dalam KBBI adalah keteguhan hati;ketaatan;kepatuhan. Belum selesai sampai disini, kata kesetiaan ini selanjutnya disisipkan kata dasar ‘kawan’, maka terbentuklah kata gabungan diversifikasi ‘kesetiakawanan’ . Namun, dapat diartikan terlebih dahulu kata dasar kawan. Didalam KBBI, arti kawan adalah teman;sahabat;pengikut;sekutu;orang ramah dsb. Kata kawan ini ditambah dengan akhiran –an, menjadi kata baru yakni, kawanan yang berarti sekumpulan. Jadi kata kesetiakawanan didalam KBBI memiliki arti dari beberapa gabungan kata dan afiksasi tersebut, kesetiakawanan diartikan, perihal setia kawan. Setia kawan itu sendiri memiliki arti perasaan bersatu; sependapat dan sekepentingan dan solider. Jadi ditarik kesimpulan bila kesetiakawanan adalah suatu sikap yang saling merasa bersatu berpegang teguh (komitmen) untuk berkawan/bersahabat.

Terakhir, kata kesetiakawanan ditambahkan dengan kata dasar sosial. Sosial dalam KBBI memiliki arti, berkenaan dengan masyarakat. Jadi dari kata kesetiakawanan yang berarti suatu sikap yang saling merasa bersatu berpegang teguh (komitmen) untuk berkawan/bersahabat dan sosial yang memiliki arti berkenaan dengan masyarakat, maka ‘kesetiakawanan sosial’ adalah suatu Perasaan bersatu, sependapat dan sekepentingan (solider) yang sangat taat (berkomitmen) untuk berkawan/bersahabat didalam hubungannya hidup berdampingan didalam masyarakat luas dengan saling rasa membutuhkan (Gresgariosness). Kesetikawanan sosial disebut juga dengan kata solider, yang tetap saja memilki arti yang sama, yakni saling isi antar sesama khususnya didalam sebuah kelompok. Untuk itu sikap kesetiakawanan ini sangat baik sekali diterapkan di masyarakat sehingga timbul kata Kesetiakawanan Sosial.





3. Kesetiakawanan sosial dalam Islam
Perbincangan seputar kesetiakawanan atau yang juga dikenal dalam bahasa Inggris dengan sebutan solidarity, hingga kini menjadi sebuah diskusi yang masih menarik, dan ditengarai akan selalu menarik perhatian setiap anggota masyarakat, karena artipentingnya pranata sosial ini sebagai pilar penyangga bangunan harmoni sosial, di mana pun kapan pun dan bagi siapa pun
Memang tidak mudah untuk mendefinisikan makna kesetiakawanan sosial dalam konteks yang beragam. Tetapi, untuk sekadar memetakan pengertian esensialnya, kesetiakawanan adalah sebuah pranata sosial yang di dalamnya terkandung ciri-ciri penting, yaitu: kepedulian, rasa sepenanggungan, kasih sayang, kebersamaan dan ketulusan.
Sejumlah tantangan kompleks yang muncul, termasuk potensi konflik yang ditimbulkan oleh dorongan ego setiap manusia, yang pada saatnya bisa menjebak mereka menjadi manusia-manusia yang tidak peduli terhadap kepentingan orang lain, karena menganggap yang terpenting adalah dirinya. Sedang orang lain baru dianggap (menjadi) penting karena berpotensi “menguntungkan” bagi dirinya. Oleh karena itu, untuk membangun kesetiakawanan sosial, setiap orang, sebagai anggota mansyarakat, dituntut untuk memiliki kepedulian dan ketenggangrasaan terhadap orang lain, dan bahkan menganggap orang lain sebagai entitas yang penting, sepenting dirinya.
Dalam merespon wacana kesetiakawanan (sosial) tersebut, kita (umat Islam) bisa mengajak dialog dengan al-Quran, sebagaimana nasihat Ali bin Abi Thalib terhadap para sahabatnya: istanthiq al-Quran, yang ternyata menurut M. Quraish Shihab – dalam bukunya yang berjudul “Wawasan al-Quran”, tersirat dalam gagasan “ukhuwwah”.
Kajian mengenai ukhuwah (Ar.: Ukhuwwah), dalam pandangan M. Quraish Shihab, dewasa ini menjadi dianggap memiliki arti penting, karena adanya fenomena yang sangat meresahkan: sinyal-sinyal menuju “disintegrasi sosial”. Banyak orang mempertanyakan: “sejauhmana peran Islam di dalamnya?” Di sini, Islam menawarkan gagasan “ukhuwah Islamiyah”. Bukan sekadar penjelasan normatif, tetapi sampai pada solusi atas problem sosial yang sudah pernah, sedang dan akan dialami oleh umat manusia secara kongkret.
Kata Ukhuwah (ukhuwwah) yang biasa diartikan sebagai “persaudaraan”, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti “memperhatikan”. Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara.
Boleh jadi, perhatian itu pada mulanya lahir karena adanya persamaan di antara pihak-pihak yang bersaudara, sehingga makna tersebut kemudian berkembang, dan pada akhirnya ukhuwah diartikan sebagai “setiap persamaan dan keserasian dengan pihak lain, baik persamaan keturunan, dari segi ibu,
bapak, atau keduanya, maupun dari segi persusuan”. Secara majazi kata ukhuwah (persaudaraan) mencakup persamaan salah satu unsur seperti suku, agama, profesi, dan perasaan. Dalam kamus-kamus bahasa Arab ditemukan bahwa kata akh yang membentuk kata ukhuwwah digunakan juga dengan arti “teman akrab” atau “sahabat”.
Ukhuwah Islamiyah, dalam pandangan M. Quraish Shihab, lebih tepat dimaknai sebagai ukhuwah yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam. Telah dikemukakan pula beberapa ayat yang mengisyaratkan bentuk atau jenis “persaudaraan” yang disinggung oleh al-Quran. Semuanya dapat disimpulkan bahwa kitab suci ini memperkenalkan paling tidak empat macam persaudaraan: (1) Ukhuwwah ‘ubûdiyyah atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah. (2) Ukhuwwah insâniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka semua berasal dari seorang ayah dan ibu. (3) Ukhuwwah wathaniyyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan. (4) Ukhuwwah fi dîn al-Islâm, persaudaraan antarsesama Muslim.
(Oleh, Muhsin Hariyanto (http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/?p=636)))

4. Kesetiakawanan Sosial atau rasa solidaritas sosial adalah merupakan (sic) potensi spritual, komitmen bersama sekaligus jati diri bangsa oleh karena itu Kesetiakawanan Sosial merupakan Nurani bangsa Indonesia yang tereplikasi dari sikap dan perilaku yang dilandasi oleh pengertian, kesadaran, keyakinan tanggung jawab dan partisipasi sosial sesuai dengan kemampuan dari masing-masing warga masyarakat dengan semangat kebersamaan, kerelaan untuk berkorban demi sesama, kegotongroyongan dalam kebersamaan dan kekeluargaan.
Oleh karena itu Kesetiakawanan Sosial merupakan Nilai Dasar Kesejahteraan Sosial, modal sosial (Social Capital) yang ada dalam masyarakat terus digali, dikembangkan dan didayagunakan dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia untuk bernegara yaitu Masyarakat Sejahtera.

Sebagai nilai dasar kesejahteraan sosial, kesetiakawanan sosial harus terus direvitalisasi sesuai dengan kondisi aktual bangsa dan diimplementasikan dalam wujud nyata dalam kehidupan kita.
Kesetiakawanan sosial merupakan nilai yang bermakna bagi setiap bangsa. Jiwa dan semangat kesetiakawanan sosial dalam kehidupan bangsa dan masyarakat Indonesia pada hakekatnya telah ada sejak jaman nenek moyang kita jauh sebelum negara ini berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka yang kemudian dikenal sebagai bangsa Indonesia.

Jiwa dan semangat kesetiakawanan sosial tersebut dalam perjalanan kehidupan bangsa kita telah teruji dalam berbagai peristiwa sejarah, dengan puncak manifestasinya terwujud dalam tindak dan sikap berdasarkan rasa kebersamaan dari seluruh bangsa Indonesia pada saat menghadapi ancaman dari penjajah yang membahayakan kelangsungan hidup bangsa.
Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan berkat semangat kesetiakawanan sosial yang tinggi. Oleh karena itu, semangat
kesetiakawanan sosial harus senantiasa ditanamkan, ditingkatkan dan dikukuhkan melalui berbagai kegiatan termasuk peringatan HKSN setiap tahunnya.
HKSN yang kita peringati merupakan ungkapan rasa syukur dan hormat atas keberhasilan seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam menghadapi berbagai ancaman bangsa lain yang ingin menjajah kembali bangsa kita. Peringatan HKSN yang kita laksanakan setiap tanggal 20 Desember juga merupakan upaya untuk mengenang kembali, menghayati dan meneladani semangat nilai persatuan dan kesatuan, nilai kegotong-royongan, nilai kebersamaan, dan nilai kekeluargaan seluruh rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan.
Saat ini kita tidak lagi melakukan perjuangan secara fisik untuk mengusir penjajah, namun yang kita hadapi sekarang adalah peperangan menghadapi berbagai permasalahan sosial yang menimpa bangsa Indonesia seperti kemiskinan, keterlantaran, kesenjangan sosial, konflik SARA di beberapa daerah, bencana alam (gempa bumi, gunung meletus, tsunami, kekeringan, dll), serta ketidakadilan dan masalah-masalah lainnya.

Sesuai tuntutan saat ini, dengan memperhatikan potensi dan kemampuan bangsa kita, maka peringatan HKSN ini yang merupakan pengejewantahan dari realisasi konkrit semangat kesetiakawanan sosial masyarakat. Dengan prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai dukungan dan peran aktif dari seluruh komponen/elemen bangsa, bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja melainkan tanggung jawab bersama secara kolektif seluruh masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu, makna nilai kesetiakawanan sosial sebagai sikap dan perilaku masyarakat dikaitkan dengan peringatan HKSN ditujukan pada upaya membantu dan memecahkan berbagai permasalahan sosial bangsa dengan cara mendayagunakan peran aktif masyarakat secara luas, terorganisir dan berkelanjutan. Dengan demikian kesetiakawanan sosial masih akan tumbuh dan melekat dalam diri bangsa Indonesia yang dilandasi oleh nilai-nilai kemerdekaan, nilai kepahlawanan dan nilai-nilai kesetiakawanan itu sendiri dalam wawasan kebangsaan mewujudkan kebersamaan : hidup sejahtera, mati masuk surga, bersama membangun bangsa.

(Oleh, Najmudin.cianjur (http://najmudincianjur.blogspot.com/2009/10/arti-dan-makna-kesetiakawanan-sosial.htm)))

Dari keseluruhan penjelasan mengenai arti dan makna tentang Kesetiakawanan Sosial diatas tersebut, kesemuanya mengartikan bila kesetiakawanan sosial adalah suatu sikap bentukan yang datangnya dari hati nurani sendiri dari setiap diri dalam individu-individu manusia dalam hidup bermasyarakat bersaudara untuk berpegang teguh (komitmen), taat, patuh untuk melakukan tindakan hal baik yang mementingkan kawan/saudara sesama dangan dasar saling menyayangi dan mengasihi antar sesama manusia serta saling sepenanggungan sama kepentingan juga saling membutuhkan (gresgariosness).

Kesetiakawanan sosial sama arti dengan solider sosial. Kata solider kerap kali kita dengar di masyarakat umumya dalam suatu kelompok atau organisasi. Kesetiakawanan sosial ini memang sangat berat amanahnya, namun bila dilakukan sesuai amanah maka hal ini menjadi suatu hal yang sangat luar biasa hebatnya baiknya yang terjadi dimasyarakat yang lebih tersratifikasi saat ini. dengan adanya rasa kesetiakawanan sosial ini msyarakat akan hidup dalam keharmonisan dan kedamaian. Tidak ada sikap saling acuh tak acuh dalam masyarakat sehingga menimbulkan rasa tidak peduli antar sesama. Karena lumrahnya setiap manusia sebagai makhluk sosial, kerap sekali mereka membutuhkan bantuan dan kasih saying dari orang lain. Apalagi didalam keluarga. Kesetiakawanan diiringi pula dengan dasar kekeluargaan, maka akan menjadi hal yang sangat luar biasa dampak kebaikannya dari hal tersebut. Inilah hal dan sikap yang diperlukan oleh masyarakat saat ini serta menjadi kebutuhan rohaniah yang sangat necessary bagi kelangsungan hidup bermasyarakat oleh manusia.







Nama : Ade Arya Dwiguna
NPM : 11609016
Kelas : 2SA 01
Ilmu Sosial Dasar (Kesetiakawanan Sosial)
UNIVERSITAS GUNADARMA