Entri Populer

Minggu, 28 Oktober 2012

BERINTERAKSI DI BUMI RAFLESIA BENGKULU I N T E R A K S I B U D A Y A

Mungkin kegiatan “home stay” yang sangat efektif untuk seseorang meletakkan diri sebagai objek dalam melakukan aktifitas berinteraksi budaya. Karenanya hal tersebut seseorang akan bertukar tempat dari suatu lingkungan budaya yang lama dengan budaya yang baru saat seseorang ber-homestay. Home stay yang berarti mendiami atau berada di lingkungan keluarga dengan orang-orang lain (baru) merupakan suatu hal yang teramat baik untuk berinteraksi budaya bahkan dalam hal mempelajari suatu budaya baru, jadi tidak hanya bertukar budaya baik secara verbal atau non-verbal, tetapi juga mendapatkan pelajaran baru, entah itu budaya secara keilmuan, moral, norma, atau etos hidup keseharian (kerja). Biasanya home stay adalah perpindahan atau tukar tempat antar Negara, sebab itulah disebut sangat efektif dalam mempelajari interaksi budaya. Bagi seorang mahasiswa sangat mungkin melakukan hal itu dengan cara yang beragam. Misal, kuliah beasiswa ke luar negeri, dan akhirnya tinggal di sana dan mempelajari budaya baru di sana, atau pertukaran pelajar (mahasiswa). Namun, jujur Saya sebagai mahasiswa belum pernah ke luar negeri. Maksimal saya ke luar negeri melalui media cetak dan elektronik (buku dan televisi). Namun bukan berarti Saya atau setiap orang-orang pada umumnya, dan khususnya mahasiswa yang senasib seperti Saya ini tidak mungkin dapat berinteraksi budaya dikarenakan tidak dapat tembus ke luar tanah air. Yang bisa Saya amati dan sedikit pelajari tentang berinteraksi budaya, Saya tertarik dengan tradisi masyarakat kita yang terjadi dan dilakukan pada setiap harinya. Tepatnya setiap menjelang dan setelah tanggal 1 hijriah dalam kalender Islam. Ya, apalagi kalau bukan tradisi meninggalkan kampung halaman beramai-ramai, atau membahana istilahnya disebut sebagai mudik lebaran, atau istilah lainnya adalah pulang kampung. Disini Saya sedikit mencoba mempelajari seraya ingin mampu memahami fenomena tahunan tersebut dari kacamata interaksi budayanya. Yang sedikit Saya lihat dan amati pada fenomena tersebut adalah, bagaimana pulang kampung dapat dijadikan sebagai sarana berinteraksi budaya satu dengan yang satunya selain bersilahturahmi dengan sanak saudara pada umumnya. Saya mengambil peristiwa mudik tersebut karena memiliki hal yang sedikit atau banyaknya dengan home stay pada penjelasan di atas yang sangat memungkinkan interaksi budaya terjadi. Mengapa ? Karena home stay yang pada dasarnya adalah melakukan perpindahan (perjalanan), dan berdiam di suatu tempat yang baru (lain), maka mudik (pulang kampung) pun bisa juga menjadi salah satu cara untuk berinteraksi budaya. Dari sinilah kembali cerita Saya bermulai. Setahun yang lalu pada mudik lebaran tahun 1433 Hijriah, Saya yang berasal asli dari daerah asal kelahiran Saya yaitu Bogor, Jawa Barat, pada tahun tersebut Saya berpulang kampung ke tempat asal desa kelahiran Orang Tua Saya (Ayah) Saya, di desa Curup, Rejang Lebong, provinsi Bengkulu, Sumatera. Di sana direncanakan bila Saya akan menginap di rumah Kakek-Nenek Saya yang Alhamdulillah masih ada selama 5 hari berturut-turut. Setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan mobil pribadi serta memalui perjalanan panjang lintas provinsi selama 2 hari 2 malam, Saya pun dengan rombongan keluarga Saya tiba di desa Curup, Bengkulu pada dini hari. Setting rumah dari Orang Tua Ayah Saya merupakan rumah yang masih sangat tradisional. Berlantai kayu, berdinding kayu, beratap kayu, dan berpondasi serta bertiang-tiang kayu. Ya, di tempat tinggal semasa kecil Ayah Saya masih menggunakan rumah adat Bengkulu (rumah panggung). Kedatangan Saya sekaligus kedatangan rombongan keluarga Saya disambut dengan perasaan keluarga disana yang menanti kedatangan kami. Saya pun dalam keadaan setengah mengantuk, mendengar pembicaraan Ayah Saya dengan kakek-nenek Saya mulai menggunakan bahasa daerah setempat (bahasa Rejang). Walaupun mengantuk pembicaraan yang menggunakan nada agak tinggi tersebut membuat Saya mencoba untuk mengartikan arti dari percakapan tersebut walaupun sampai Saya menyerah Saya tidak dapat mengartikannya, meskipun samar-samar, hanya terlihat senyuman mereka saat bertemu. Kedatangan kami yang dini hari sontak membuat kami masih mengantuk, dan tanpa pikir panjang lagi kami pun semua yang baru datang langsung tertidur untuk beristirahat. Namun, selang beberapa jam Saya terlelap tidur, sekitar pukul 02.00 dini hari dari arah dapur terdengar suara-suara orang-orang sedang sibuk memasak. Benar saja, hampir sedikit lupa akibat kelelahan dalam perjalanan, kalau waktu itu masih hari berpuasa pada esok harinya. Dan akhirnya Saya pun tersadar bahwa beberapa keluarga Saya sedang menyiapkan santap sahur untuk berpuasa keesokan harinya. Terbangun pada keesokan harinya disaat matahari belum menderang, beberapa aktifitas di rumah panggung pun semakin ramai. Beberapa keluarga terlihat sudah mondar-mandir sibuk dengan aktifitasnya masing-masing di pagi hari yang masih dingin tersebut. Ada yang bersiap menuju ke kali untuk mandi pagi, ke kebun mencari kayu bakar, dan ada yang bersiap menuju ke kali dengan membawa cucian diember plastik. Dengan keadaan setengah terbangun, Saya pun dihampiri oleh paman Saya, yang biasa Saya panggil dengan sebutan om. Endeng. Kopi hitam sudah ditawarkannya kepada Saya dengan beberapa camilan khas Bengkulu yang sudah disiapkan. I N T E R A K S I B U D A Y A Di hari tersebut Saya mulai menyesuaikan diri sebelum Saya terkena efek dari “culture shock”. Gejala yang sama biasa dialami oleh setiap orang yang menempati suatu tempat baru seperti halnya home stay dan mudik. Culture shock merupakan gejala yang dialami seseorang di awal mendiami tempat baru yang biasanya diringi dengan rasa rindu terhadap rumah yang biasa ditempatinya. Biasanya ada yang bertahan dan tidak sedikit juga yang tidak, dan akhirnya mengalami kebosanan dan keterasingan dengan di tempat baru yang ia diami. Gejala culture shock tidak Saya alami sebab setalah 10 tahun tidak mudik ke Bengkulu, baru Saya kembali ke Kampung Saya ini. Jadi yang ada malah Saya rindu dengan suasana pedesaan yang kental masih terasa tradisionalnya, dan perasaan yang senang yang mengalami batin Saya. Di daerah tempat tinggal Kakek-Nenek Saya di Bengkulu, tidak hanya keluarga dari pihak keluarga Saya yang ramah menyambut kedatangan kami sekelurga dari Bogor melainkan tetangga-tetangga lain disekitar. Ini disebabkan dari pernyataan yang Saya dapat mengenai hal tersebut dari Ayah Saya ternyata jawabannya adalah karena satu dusun di daerah rumah Saya di Bengkulu tersebut adalah masih satu keluarga, jadi tidak heran apabila kedatangan kami disambut hangat dengan tetangga-tetangga lainnya. Selain penyambutan yang hangat dari tetangga-tetangga sekitar rumah, tradisi yang Saya ingat setiap kali Saya kembali ke kampung “Nek-Bi” (sebutan untuk Kakek dalam bahasa Rejang) ini, adalah tradisi memotong kambing, dan dagingnya dibagikan kepada seluruh tetangga sekitar dengan mengundang tetangga untuk turut serta makan di rumah Nek-Bi sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan di perjalanan hingga tiba di tempat tujuan. Dulu ketika Saya masih duduk di Sekolah Dasar, tradisi ini hingga sekarang masih dijaga dengan cara diterapkan terus-menerus. Keseharian hidup yang ramah dan semuanya adalah para pekerja keras merupakan suatu kebanggan Saya sendiri sebagai anak keturunan dari salah satu desa di Bengkulu. Walaupun kebanyakan dari bahasa mereka saat mencoba berinteraksi dengan Saya tidak Saya pahami namun melalui gesture tubuh dan isyarat membuat Saya mengerti maksud dari pembicaraan dengan bahasa tersebut. Ya, Saya sedikit agak sedih dikarenakan Saya yang mempunyai Orang Tua, Ayah dari Bengkulu, Ibu dari Yogyakarta, dan Saya lahir, besar di Bogor dari ketiga kota tersebut Saya tidak mampu mengusai ketiga bahasa daerah tersebut, dengan sebab yang Saya dan beberapa teman Saya pun mengherankan hal tersebut. Bahasa sebagai alat komunikasi berinteraksi setiap hari yang digunakan oleh semua anggota keluarga Saya di Bengkulu sangat membuat Saya semakin cinta dengan Negara Indonesia dengan keragaman bahasa dan bahasa Indonesia sebagai pemersatunya. Sebagaian anggota keluarga Saya di Bengkulu bisa berbahasa Indonesia, dan keponakan Saya yang masih duduk di bangku SMP, membantu Saya dalam mengerti bahasa Bengkulu di sana, untuk dapat berkomunikasi. Selain bahasanya yang menjadi warisan tak ternilai harganya, dan sebagai warisan Saya ingin memperlajarinya di lain kesempatan yang panjang. Salah satu aksara bahasanya yang dimuat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bahasa Rejang dari Bengkulu, dengan bahsa-bahasa daerah lainnya seperti aksara bahasa dari Yogyakarta dan bahasa Sunda dari tanah Sunda Jawa Barat. Mengetahui hal tersebut, kebanggaan Saya semakin lengkap, karena Saya hidup di tiga kota yang kesemuanya memiliki aksara bahasa, yang Saya juga sangat tertarik mempelajarinya di waktu lain yang panjang. Bahasa, tradisi, dan etos kerja keluarga Saya di Desa Curup Bengkulu membuat Saya kagum. Bahasanya yang suatu hari nanti harus bisa Saya pahami karena Saya adalah salah satu penerus dari keluarga Saya yang memiliki keturunan dari Desa dari provinsi yang dikenal pula dengan bunga Raflesia Arnoldinya. Tradisi, tradisi yang harus Saya dalami makna setiap tradisi yang Saya jumpai setiap kali Saya kembali ke Rumah Panggung tersebut karena Saya akan menjadi pewaris tradisi tersebut kelak. Dan etos kerja yang sangat luar biasa para pekerja kerasnya yang harus Saya teladani selepas Saya bergabung dalam lingkungan dunia kerja, mengingat Ayah Saya yang merantau merupakan suatu kerja keras yang patut diteladani di jaman serba keras dan cepat seperti sekarang ini. Memang cerita yang Saya tulis ini sedemikian rupa sepeti narasi dan lebih berat kepada lintas budanyanya. Namun terdapat pula unsur interaksi budayanya di dalam lintas budaya, itulah mengapa Saya tulis tulisan ini. Masyarakat di Desa Saya khususnya, orang-orangnya berinteraksi dengan siapapun akan selalu ramah. Memang nada-nada dalam setiap pembicaraan mereka agak sedikit tinggi namun itulah kekhasan masyarakat Desa Saya, bukan berarti kasar. Kekentalan bahasa di Desa Saya justru diaksen bahasa Rejang tersebut. Yang Saya artikan melambangkan nafas-nafas kerja keras mereka bersama dengan alam yang masih sangat alami di Desa Saya tersebut. Hal tersebut ditandai dengan aktifitas keseharian yang sangat tradisional dan mengandalkan alam, seperti memasak dengan bahan bakar berupa kayu bakar, mandi di sungai/kali, dan berladang. Yang dapat Saya pelajari selama menetap di sana dalam beberapa hari yaitu, bagaimana kita bisa mempertahankan posisi kita sebagai yang katakanlah asing di suatu lingkungan/tempat lain/baru. Mempertahankan posisi yang Saya maksud di sini adalah beradaptasi. Beradaptasi yaitu berinteraksi dengan semua hal yang bersesuaian dengan tempat di mana kita berada di lingkungan baru tersebut bukan hanya pada bahasa yang digunakannya. Berinteraksi banyak artiannya yaitu dengan mulai mengetahui, menghormati, menghargai, mempelajari, dan mengaplikasikannya. Itulah seidikit cerita mengenai interaksi budaya dari tanah yang mempunyai banyak keramahannya, bumi Raflesia, Bengkulu Indah. ARNZ

Minggu, 21 Oktober 2012

SPOOLASI ALUMNI (i n t e r a k s i b u d a y a)

B aru-baru ini Saya mendapatkan masalah yang cukup melelahkan Saya dalam bagaimana Saya memecahkan masalah tersebut. Kurang lebih sekitar tiga Minggu yang lalu permasalahan Saya tersebut bermulai. Ketika kendaraan sehari-hari Saya yang setiap harinya Saya gunakan dalam berkendara pulang pergi ke kampus mengalami permasalahan pada pengisian listriknya yang menyebabkan seluruh lampu-lampu, starter motor, dan klakson lumpuh. Pada akhirnya selama hampir dua Minggu susah payah Saya mencari suku cadang untuk memperbaiki masalah tersebut dan didapat, Saya pun dapat berkendara kembali ke kampus menggunakan motor Saya tersebut. Saya memang sangat tidak begitu mengenal komponen-komponen apa saja yang ada di tubuh sebuah kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor, atau lebih tepatnya skuter motor Saya. Namun tidak dapat ditolak lagi Saya mau-tidak-mau harus mengetahui sedikit banyaknya mengenai bagian-bagian motor Saya tersebut. Untuk itulah Saya mulai bertanya kepada kakak laki-laki Saya yang punya pengalaman sendiri mengenai motor. Dari situlah Saya dapat mengetahui bahwa permasalahan pada pengisian motor Saya dan sedikit-sedikit Saya pun jadi belajar mengenai isi-isi motor Saya. Dan diketahui bahwa permasalahan pada motor Saya tersebut adalah pada spoolasi motor. Mungkin bagi kebanyakan orang yang mengetahui isi-isi pada motor akan mudah mengetahui permasalahan pada kendaraannya tersebut. Lain halnya dengan Saya yang hanya tau tentang menggunakan, mengendarai, dan merawat motor secara sederhana. Beruntungnya, melalui pengetahuan dari kakak laki-laki Saya tersebut yang menjelaskan dengan secara sederhana mengenai spoolasi motor, ia mendeskripsikan dengan kegiatan sehari-hari yang biasa orang kerjakan. Ia menjelaskan bahwa spoolasi motor tersebut seperti “saat kita madi, apabila bak penampungan air dalam kamar mandi digunakan tanpa diisi, maka air di dalam penampungan air tersebut akan habis. Akan tetapi lain ceritanya apabila saat kita mandi keran air tetap menyala, maka walaupun kita mandi air di dalam penampungan air tidak akan habis karena air terus terisi saat kita mandi.” Begitulah bagaimana Saya tau tentang cara kerja alat spoolasi motor tersebut. Spoolasi memberikan suplai listrik kepada aki yang dilambangkan pada analogi di atas sebagai penampungan air, sedangkan spool sebagai keran air yang menyala, jadi apabila spool tidak berfungsi maka aki pun akan lumpuh, dan menyebabkan pelistrikan pada motor mati. Memikirkan hal tersebut, Saya pun kembali menggunakan prinsip cara kerja spool motor tersebut dalam kehidupan berinteraksi Saya dalam organisasi di kampus yang Saya ikuti. Sebagai aktifis organisasi di kampus, Saya mempunyai suatu beban moral untuk belajar lebih dari Saya sebagai mahasiswa saja. Karena hal tersebutlah Saya mau-tidak-mau mencari tahu dan belajar lebih dalam mengatasi permasalahan yang ada pada organisasi. Setahun Saya mengikuti kegiatan yang ada pada organisasi kampus yang Saya ikuti, tidak dapat dipungkiri permasalahan yang ada pada tubuh organisasi sangat rumit, dan terkadang terjadi situasi yang saling silih tegang. Namun pada akhirnya dapat dipecahkan dengan kepala dingin dan bersolusi. Salah satu cara yang Saya gunakan dalam memecahkan permasalahan yang ada di dalam organisasi yaitu dengan bertanya dan bertanya selain berdasarkan dengan landasan-landasan organisasi yang ada. Sosok yang Saya tanyakan adalah alumni-alumni. Alasan Saya memilih alumni untuk mendapatkan saran, masukan, dan solusi dalam memecahkan masalah yang ada pada organisasi dikarenakan sebagai alumni di mind set Saya beranggapan bahwa mereka lebih luas dan lebih banyak pengalamannya pada saat-saat mereka ada di posisi yang sama seperti Saya saat ada masalah pada organisasi dan harus dipecahkan. Sebenarnya ada pembina dan penasihat pada suatu organisasi yang dapat ditanyai untuk memecahkan suatu masalah yang ada pada di organisasi yang Saya masih ikuti sampai sekarang ini. Namun waktu yang Saya harus atur untuk bertanya dan sikap serta keterbatasan dalam penyampaian masalah-masalah yang ada haruslah formal. Beda dengan alumni yang Saya bisa dengan secara informal bertemu disuatu tempat dan sangat flexible dalam masalah waktu untuk memperbincangkan masalah tersebut. Menganalogikannya dengan prinsip spool pada motor, maka alumni pun bisa disamakan seperti spool bagi Saya. Kenapa ? karena melalui alumni-alumni Saya bisa dapat mendapatkan banyak ilmu, saran, masukan, dan tawaran-tawran solusi yang mereka berikan sebagai cara Saya dalam memecahkan permasalahan dalam tubuh organisasi secara tak henti-henti, lebih banyak, dan yang terpenting ilmu bagi Saya sendiri. Bagi Saya, Saya menganalogikan diri sendiri sebagai aki pada motor, dimana Saya menampung berbagai saran-saran, masukan-masukan dan ilmu-ilmu dari pengalaman alumni yang lalu yang memungkinkan Saya dengan efisien dalam memecahkan permasalahan yang ada. Namun Saya pun selalu melihat pada sisi positif dan negatif dari hal tersebut, karena Saya pun harus selektif dalam menerima aliran listrik yang dilambangkan sebagai saran-saran dan lain-lain tersebut dalam memecahkan permasalahan yang ada. Seperti permasalahan yang belum lama terjadi pada organisasi Saya ini yaitu permasalahan mengenai status kenaggotaan. Dimana ada beberapa anggota yang merasa dirinya pernah terdaftar sebagai anggota, namun ada beberapa pula anggota yang memang sudah kukuh sebagai anggota menganggap beberapa anggota tersebut belumlah kukuh sebagai anggota. Setelah itu terjadilah ketegangan mengenai hal tersebut. Parahnya ketegangan tersebut diluapkan oleh anggota yang tidak terima tersebut akan statusnya yang dianggap oleh beberapa anggota bahwa mereka belum kukuh lewat jejaring sosial twitter. Bukannya menyampaikan ketidakterimaan anggota tersebut yang dapat dikatakan sakit hati dengan etiket yang ada dalam bersosial media dengan media sosial elektronik maya dengan santun, parahnya sebaliknya, mereka melakukannya dengan cara menegatifkan. Tanpa disadari dengan sifat jejaring sosial tersebut yang tidak dapat dikontrol bagi penggunanya dan akses yang mudah, hal tersebut diketahui oleh alumni. Alumni yang mengetahui bahwa pada jejearing sosial tersebut bukan hanya anggota-anggota organisasi ini yang ada, namun banyak orang-orang lain bahkan orang-orang dari organisasi kampus yang sama merasa resah akan jatuhnya nama baik organisasi. Yang memperparah keadaan menjadi lebih parah, anggota-anggota tersebut membawa nama organisasi yang dinegatifkannya. Hal tersebutlah yang membuat semua anggota dan alumni tambah resah dan tidak mungkin terjadi kemarahan. Untuk menegahi hal tersebut, maka Saya mengambil langkah awal dengan menyampaikan masalah tersebut ke alumni yang Saya mempunyai anggapan bahwa alumni mempunyai segudang pengalaman dengan permasalahan yang pernah ada pada organisasi, meskipun masalah tersebut baru pertama. Hanya dengan bertemu di sebuah warung kopi, alumni yang rata-rata sudah bekerja dapat ditemui pada jam-jam malam. Suatu kekurangan yang Saya harus korbankan untuk dapat meluangkan waktu lebih lama dari biasanya untuk mendapatkan saran untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan membagikan keilmuannya berdasarkan pengalaman yang pernah dialami oleh alumni-alumni saat mengahadapi dan menyelesaikan permasalahan yang ada, maka spoolasi alumni pun berjalan. Sebagai “akinya” Saya hanya perlu selektif untuk menerima saran-saran dan masukan-masukan untuk akhirnya Saya bisa menemukan solusi yang baik dan memecahkan masalah tersebut. Bersama dengan anggota-anggota lain, Saya memusyawarahkan masalah tersebut dengan apa yang telah Saya pelajari dari alumni. Hasil dari keputusannya adalah dengan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan memanggil anggota tersebut untuk selanjutnya diproses berdasarkan keputusan yang diambil secara mufakat berasaskan landasan-landasan dan peraturan-peraturan organisasi yang ada dalam memperkuat organisasi. Alumni sebagai anggota yang telah lulus terlebih dahulu yang membawa segenap banyak kenangan dalam memecahkan permasalah yang ada pada organisasi saat mereka berorganisasi, dapat menjadi tempat yang paling efektif dalan mencari saran-saran bagi anggota yang sekarang seperti halnya seperti Saya. Bagi Saya alumni sebagai spool dan spoolasi dalam mentransfer ilmu tentang organisasi yang masih Saya ikuti sampai sekarang. Dan bagi Saya juga, setelah lulusnya Saya dari organisasi yang Saya ikuti yang berarti lulusnya juga Saya dari kampus Saya, Saya pun akan memposisikan diri Saya nanti sebagai alumni sebagai spool motor dan spoolasi kepada anggota yang nanti mencari seputar saran-saran, masukan-masukan, dan solusi-solusi dalam memecahkan permasalahan yang ada nantinya. Karena permasalahan tidak ada hentinya. Pentingnya roda perputaran dalam mentransfer pengalaman yang sudah dienyam oleh alumni-alumni kepada seluruh anggota-anggota sama pentingnya seperti penyaluran listrik oleh spool motor kepada aki dan kepada seluruh komponen pelistrikan yang ada di motor. Namun meskipun demikian haruslah mencari “aki” (anggota) yang dapat selektif menerima spoolasi saran-saran dari alumni. Hubungannya dengan interaksi budaya pada hal ini adalah transfer pengalaman yang diberikan oleh alumni merupakan suatu bentuk saling aksi budaya pengalaman dari pengalaman dulu yang dipilih secara selektif dan relevan dengan permasalahan yang sekarang. Dengan demikian proses interaksi budaya yang terpisah waktu terjadi, hanya saja kita perlu melakukan seleksi terhadap hal-hal yang relevan untuk digunakan pada saat ini sehingga permasalahan dipecahkan secara kekinian.arnz

Selasa, 12 Juni 2012

Kpeariwisataan (kesimpulan)

KESIMPULAN Teater merupakan sebua kesenian kompleks karena melibatkan banyak unsur kesenian yang dipadukan menjadi sebuah pertunjukan dengan cerita yang menarik yang dikonsep oleh sutradaranya agar apa yang ingin disampaikan naskah oleh penulisnya dapat disampaikan secara baik kepada penontonnya. Selain sebuah bentuk kesenian dan kebudayaan teater merupakan sebuah tatanan organisasi yang kompleks untuk membangun sebuah pementasan yang melibatkan orang banyak. Terdiri atas dua bagian dalam menciptakan sebuah pementasan pada teater. Yaitu ; tim penyutradaraan dan tim produksi. Di dalam tim penyutradaraan terdapat actor dan sutradara yang membawakan cerita dalam naskha dan bertugas menyampaikan isi cerita sedangkan tim produksi merupakan sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang siap sedia di belakang panggung selama proses maupun saat pementasan yang fungsinya mendukung penuh pemain dan sutradara di atas panggung untuk segala keperluan yang diperlukan dalam naskah. Dilihat dari kacamata pariwisata teater awalnya memang terlihat seperti sebuah pertunjukan biasa saja yang dilakukan oleh beberapa orang saja dan lewat begitu saja yang maksud artinya pentas setelah itu selesai. Namun apabila kita lihat bagaimana teater memadukan banyak unsur kesenian yang ada, bukan hal yang mustahil apabila teater dapat dijadikan sebuah objek wisata hiburan di sisi budaya dan kesenian dan dapat juga mendatangkan keuntungan (profit). Mengapa demikian ? disebabkan teater menciptakan sebuah tontonan pertunjukan yang mampu menarik perhatian masa yang sangat besar apabila sebuah pertunjukan tersebut dapat dilaksanakan dengan sangat baik. Pariwisata sendiri berarti jalan-jalan sambil berkunjung yang dilakukan oleh seseorang. Dan kebetulan juga pertunjukan sebuah teater dapat dilakukan di luar (outdoor) dan pariwisata pun terjdi bagi mereka yang melintas di area pementasan tersebut dan tanpa tidak disengaja menyaksikan pertunjukan teater tersebut berlangsung. Artinya, teater memberikan objek wisata bagi setiap orang-orang yang lewat dan menyaksikannya, dan orang-orang tersebut dapat dianggap sebagai wisatawan. Jadi, teater layak dijadikan sebuah objek pariwisata karena dapat menarik banyak penonton yang penasaran akan bentuk kesenian teater dan ingin menyaksikan sebuah pertunjukan hiburan dari pementasan teater. Teater dapat dipentaskan untuk menarik orang-orang banyak untuk datang dan menyaksikan pertunjukan teater tersebut apabila kesadaran untuk menjaga nilai-nilai dan melestarikan kesenian dan kebudayan bagi setiap penerus bangsa dapat selalu dipertahankan. Sebuah pertunjukan merupakan sebuah proses yang sangat memiliki nilai pembelajaran bagi setiap manusia yang terlibat di dalamnya, tidak hanya belajar tentang kesenian namun juga beorganisasi, dengan organisasi kepariwisataan dapat diterapkan dalam berteater dengan mempertunjukan kesenian dengan menjaring masyarakat umum yang butuh hibran tentu saja dengan menyajikan sebuah pertunjukan yang menarik pula. “teater adalah kehidupan karena peran yang kita mainkan di dalamnya merupakan bagian dari kehidupan sebenarnya dalam hidup kita di luar panggung.” DAFTAR PUSTAKA Wikipedia.com Hamzah Adjib A., Pengantar Bermain Drama, CV Rosda, Bandung. Noer C. Arifin, Teater Tanpa Masa Silam, DKJ, Jakarta, 2005. Iman Sholeh & Rik Rik El Saptaria, Module Workshop Keaktoran Festamasio 3, TGM, Yogyakarta, 2005

Kepariwisataan (isi 3) terusan

TEATER SEBAGAI ORGANISASI Proses Teater merupakan sebuah proses organisasi (bentuk kerja kolektif; dimana segala macam orang dengan segala macam fungsinya tergabung dalam suatu koordinasi yang rapih,dan juga mencakup juga pengertian sampai batas-batas yang sentimentil), seperti hal nya diri manusia itu sendiri, atau layaknya seperti sebuah negara. Keberhasilan suatu pertunjukan Teater dapat juga sebagai keberhasilan suatu seni organisasi; baik organisasi penyelenggaraannya (Panitia Produksi) maupun segi seni-seninya (Penyutradaraan, Penataan set, Permainan, Musik dan unsur-unsur lain). Berikut ini contoh Elemen dari sebuah Group Teater dalam mengadakan sebuah Produksi. - Pimpinan Produksi - Sekretaris Produksi - Keungan Produksi / Bendahara - Urusan Dokumentasi - Urusan Publikasi - Urusan Pendanaan - Urusan Ticketing atau karcis - Urusan Kesejahteraan - Urusan Perlengkapan - Sutradara - Art Director / Pimpinan Artistik - Stage Manager - Property Master - Penata Cahaya - Penata Kostum - Penata setting - Perias / Make Uper - Penata Cahaya - Penata Musik Setiap Elemen memiliki tugas sendiri-sendiri dan sudah seharusnya untuk bertanggungjawab penuh atas tugas itu (secara profesional). Sebagai Contoh seorang Urusan Pendanaan, ia harus memikirkan seberapa besar dana yang dibuhtuhkan? Dari mana dana itu didapatkan. Begitupula seorang Sutradara yang bertanggungjawab atas pola permainan panggung; (akting pemain, cahaya, bunyi-bunyian, set, property dan lain-lain). Jikalau kita memandang Elemen dalam Group Teater, ada kesamaan dengan elemen dalam tubuh kita sendiri; setiap organ tubuh memiliki fungsi sendiri, tetapi saling berhubungan dan tergabung dalam fungsi yang sempurna. Teater ibarat laboratorium kehidupan itu sendiri, seperti yang diungkapkan Peter Brook “Teater akan menjadi tempat yang indah bagi orang-orang yang mabuk dan kesepian, Teater merupakan sebuah tindak budaya, Teater bukanlah tempat untuk melarikan diri ataupun untuk mencari perlindungan”. Saat UKM teater kampus penulis (teater Tema Universitas Gunadarma) mengadakan sebuah pertunjukan teater selama dua hari-hari berturut-turut sebulan yang lalu dalam tim organisasi Saya berada dalam tim produksi tersebut, bukan sebagai pemain namun sebagai pimpinan produksi. Dengan dipercaya dan ditunjuk oleh para anggota lainnya untuk menjalankan pementasan tersebut jadilah Saya sebagai pimpinan produksi dalam pertunjukan maraton tersebut. Dengan hasil dari seluruh pemikiran terciptalah konsep pementasan 4 produksi dalam satu proses pertunjukan teater. Konsep yang diambil dalam pertunjukan tersebut merupakan perang naskah antara 2 naskah monolog berat dan 2 naskah drama realis dan surealis. Tidak itu saja kami pun mementaskan tari-tarian tradisional dan pertunjukan musik-musik tradisional. Sebagai seorang pimpinan produksi kala itu saya mengelola sumber daya yang ada dengan semaksimal mungkin. Dengan semangat berkesenian acara tersebut berlangsung sukses dan berhasil menarik perhatian pengunjung yang rata-rata terdiri dari mahasiswa kampus sendiri, kampus tetangga, kampus luar daerah, pelajar SMA Depok dan sekitarnya dan masyarakat umum lainnya yang rata-rata memiliki minat dalam berteater. Total jumlah pengunjung dalam pementasan kami tersebut mencapai kurang lebih 380 orang dengan rata-rata pengunjung perharinya sebanyak 190 orang. Dengan pencapaian tersebut penulis memikirkan bahwa bisa sebuah pertunjukan kesenian teater menjadi objek wisata ciptaan mahasiswa pada sisi kebudayaan dan kesenian. Teater yang melibatkan beberapa unsure seperti unsur musik, tari dan akting menjadi modal yang cukup untuk membuka peluang pariwisata bagi mahasiswa pencinta teater di mana pun. Awalnya memang teater bukan merupakan ajang mencari profit namun bagaimana sebuah pertunjukan seni diapresiasi oleh setiap penonton yang hadir dalam pertunjukan tersebut. Namun tidak menutup kemungkinan teater pun dapat menghasilkan apabila dikembangkan dan didukung oleh pihak-pihak yang mau membantu melestarikan dan menjaga nilai-nilai kebudayaan dan keseniaan yang ada khususnya teater yang ada di Indonesia di tingkat kampus.

Kepariwisataan (isi 2) terusan

SEJARAH TEATER Sejarah Teater Dunia Teater (bahasa Inggris: theater atau theatre, bahasa Perancis théâtre berasal dari kata theatron (θέατρον) dari bahasa Yunani, yang berarti "tempat untuk menonton"). Awalnya sendiri diperkenalkan pada kultus dyonisius,awalnya sebagai ritual upacara pengorbanan domba/lembu kepada Dyonisius dan nyanyian yang digunakan pada masa itu disebut "tragedi".dalam perkembangannya Dyonisius dewa yang berwujud hewan itu kemudian berubah menjadi manusia dan dipuja sebagai dewa anggur dan kesuburan. Adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, boneka, musik, tari dan lain-lain. Bernard Beckerman, kepala departemen drama di Universitas Hofstra, New York, dalam bukunya, Dynamics of Drama, mendefinisikan teater sebagai " yang terjadi ketika seorang manusia atau lebih, terisolasi dalam suatu waktu/atau ruang, menghadirkan diri mereka pada orang lain." Teater bisa juga berbentuk: ketoprak, ludruk, sandiwara (radio, televisi),opera, ballet, mime, kabuki, pertunjukan boneka, tari India klasik, Kunqu, mummers play, improvisasi performance serta pantomim. (Wikipedia.Com) Bentuk-bentuk pertunjukan teater di sebutkan di atas merupakan pertunjuka teater yang umum di pertunjukan. Namun yang akan penulis bahas adalah bagaimana mahasiswa/pelajar membuat sebuah pertunjukan teater sederhana dengan bentuk-bentuk umum pertunjukan teater di atas dengan juga menjadikannya sebuah objek wisata. Pertunjukan umum yang biasa dibawakan anak-anak kampus adalah pertujukan drama dan monolog serta tari atau menggabungkan ketiganya. Banyak naskah yang dapat diangkat menjadi sebuah pertunjukan dan dapat juga disesuaikan dengan momen yang bersejaah untuk membawakan pertunjukan tersebut atau kritik-kritik sosial atau pula politik. Contoh-contoh naskah yang umum dibawakan oleh kebanyakan sanggar teater kampus misalnya, naskah “Wek-wek” Karya almarhum Djaja Kusuma saduran Iwan Desember yang isi naskahnya merupakan sebiah kritik politik terhadap kejahatan KKN. Namun dengan dibawakan nuansa teater lakon, lenong, naskah wek-wek tidak begitu tegang walaupun membahas tentang KKN melainkan sebaliknya menghibur. Dengan cara menghibur teater menyampaikan suatu hal penting dan bermanfaat, dan hiburan adalah sebuah tujuan dari pariwisata. Tidak hanya sekedar mementaskah sebuah pertunjukan naskah begitu saja dengan hanya menghafal dan berlatih akting, tetapi juga butuh-butuh orang-orang yang mengurusi segala keperluan pementasan hingga pementasan berjalan. Orang-orang tersebut biasa disebutnya dengan sebutan orang belakang panggung. Sebuah pertunjukan teater merupakan simulasi sederhana menciptakan sebuah film-film di televise namun kalau teater merupakan bentuk film live dan tidak ada tayangan ulang atau di cut. Inilah yang membedakan antara pembuatan film dengan pertunjukan sebuah drama. Drama sangat membutuhkan orang-orang berkemampuan kesenian dan organisasi yang kuat. Untuk itulah setiap akan melakukan sebuah pertunjukan produksi naskah drama maka dibentuklah sebuah tim produksi pementasan sama halnya tim produksi film.

Kepariwisataan (ISI) Terusan

MACAM-MACAM OBJEK WISATA DI INDONESIA Indonesia yang memiliki segudang keberagaman manusianya melahirkan pula beragam adat istiadat, kesenian dan agama namun tetap dapat hidup rukun yang selalu dipersatukan oleh lambang Neagara Pancasila. Jangan lupa juga akan alam Indonesia yang sangat mempesona yang juga secara lamai menjadi tujuan wisata yang masih sangat diminati oleh setiap pengunjung yang datang ke Indonesia baik wisatawan mancanegara maupun domestik. Tidak dapat dipungkiri bila saat ini objek wisata alam masih menjadi favorit bagi setiap pengunjung tempat-tempat wisata di Indonesia. Indonesia di takdirkan oleh Tuhan Maha Pencipta dengan keberadaan Negara yang berbentuk kepulauan dan letak geografis dan astronomis yang baik sehingga pariwisata menjadi tambang emas bagi Negara maritime seperti Indonesia. Letak geografis yang memungkinkan manusia selalu lalu lalang karena di apit oleh du benua dan satu Negara besar yaitu Asia dan Australia yang menyebabkan Indonesia berada di jalur perjalanan bagi wisatawan yang hendak berlibur di benua Asia atau Australia yang memungkinkan manusia tersebut singgah di Indonesia untuk menyaksikan objek-objek pariwisata di Indonesia yang mentakjubkan. Namun meskipun demikian objek wisata lainnya di Indonesia tidaklah kalah mempesonanya dengan objek wisata alamnya. Berikut ini beberapa contoh wisata di Indonesia di luar wisata alamnya : 1. Objek wisata Belanja Wisata belanja di Indonesia dibagi menjadi dua jenis: pusat perbelanjaan tradisional dengan proses tawar-menawar antara pembeli dan penjual dan pusat perbelanjaan modern. Pasar tradisional umumnya menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari yang berlokasi dalam satu gedung atau jalan tertentu. Beberapa daerah dengan relief sungai-sungai panjang memiliki pasar terapung seperti Pasar Terapung Muara Kuin di Sungai Barito, Banjarmasin dan Pasar Terapung Lok Baintan di Banjar, namun adapula yang khusus menjual barang - barang seni atau benda khas setempat seperti Pasar Sukawati di Gianyar yang menjual berbagai kerajinan tangan dan barang seni khas Bali, Pasar Klewer di Solo yang menjual kain - kain batik, Kotagede dengan hasil kerajinan perak, dan kawasan Malioboro di Yogyakarta yang menjajakan kerajinan khas Yogya. Pusat perbelanjaan modern dapat ditemukan di kota-kota metropolitan terutama yang terletak di Pulau Jawa seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Semarang. Kebanyakan pusat perbelanjaan modern dapat ditemukan di kota Jakarta yang memiliki lebih dari 170 pusat perbelanjaan. Jakarta merupakan kota dengan jumlah pusat perbelanjaan terbanyak di dunia. Pusat perbelanjaan tertua yang pernah dibangun di Jakarta yaitu Pasar Baru yang dibangun pada tahun 1820. Pusat perbelanjaan di Jakarta, Semarang, dan Surabaya umumnya mengadakan diskon besar pada masa ulang tahun kota untuk meningkatkan daya tarik wisata belanja. Jakarta secara rutin mengadakan pesta diskon Festival Jakarta Great Sale, Semarang dengan nama Semarang Great Sale, sementara Surabaya mengadakan Surabaya Shopping Festival. Apabila kita cermati lagi bahwa objek wisata di Indonesia pada sektor wisata belanjanya, beberapa hasil dagangan di objek wisata belanja tersebut adalah hasil-hasil dari bakat-nakat sang creator dan seniman. Contohnya : di Pasar Klewer Solo, barang dagangan yang ditawarkan adalah hasil kesenian batik yang sangat terkenal dari Indonesia, kerajinan perak dari kota Gede Yogyakarta, Pasar Sukowati di Gianyar Bali yang menjual barang-barang seni dari Bali seperti contohnya adalah patung dan pasar Terapung di Lok Baintan di Banjar yang juga menjual barang-barang hasil kerajina kesenian dari kota tersebut. Untuk itu mari kita berlanjut pada objek wisata yang kedua yaitu objek wisata pada sisi kebudayaan dan kesenian yang ada di Indonesia. 2. Objek Wisata Budaya (Kesenian) Berdasarkan data sensus 2010, Indonesia terdiri dari 1.128 suku bangsa. Keberagaman suku bangsa tersebut mengakibatkan keberagaman hasil budaya seperti jenis tarian, alat musik, dan adat istiadat di Indonesia. Beberapa pagelaran tari yang terkenal di dunia internasional misalnya Sendratari Ramayana yang menceritakan tentang perjalanan Rama dan dipentaskan di kompleks Candi Prambanan. Desa Wisata Batubulan yang terletak di Sukawati, Gianyar merupakan desa yang sering dikunjungi untuk pentas Tari Barongan, Tari Kecak dan Tari Legong. Beberapa tahun belakangan ini beberapa kota di Pulau Jawa mulai mengembangkan konsep karnaval fesyen. Jember Fashion Carnaval secara rutin diadakan sejak tahun 2001 di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Karnaval fesyen lainnya namun memfokuskan tema pada batik adalah Karnaval Batik Solo yang pertama kali diadakan pada tahun 2008. Selain karnaval fesyen, adapula karnaval yang diadakan untuk memperingati hari jadi kota seperti yang diadakan di kota Yogyakarta dengan nama Jogja Java Carnaval dan di kota Jakarta dengan nama Jak Karnaval yang diadakan secara rutin setiap bulan Juni. Sejarah kebudayaan Indonesia dari zaman prasejarah hingga periode kemerdekaan dapat ditemukan di seluruh museum yang ada di Indonesia. Total jumlah museum di Indonesia berjumlah 80 museum yang tersebar dari Aceh hingga Maluku. Sejumlah museum terletak dalam satu kawasan seperti Kota Tua Jakarta yang memiliki enam museum merupakan daerah yang dikenal sebagai pusat perdagangan pada Zaman Batavia dan Taman Mini Indonesia Indah yang menjadi pusat rekreasi dengan jumlah taman dan museum terbanyak dalam satu kawasan di Indonesia. (Wikipedia.com) Keberagaman budaya yang ada di Indonesia melahirkan sebuah anugerah yang tidak dapat dibayar dengan uang. Merupakan sebuah harta karun peninggalan nenek moyang secara turun-temurun yang otomatis selalu dijaga kelestariannya oleh anak-anak bangsa. Namun sayangnya pada makalah ini yang ingin penulis sampaikan bukan alat musik tradisionalnya, tarian tradisionlanya, lagu-lagu daerahnya maupun pakaian-pakain dan makanan-makanan khas daerahnya. Melainkan yang dibahas dalam makalah ini ialah kesenian yang mencakup keseluruhan seni tersebut setiap pertunjukannya. Yang dibahas dalam makalah ini menyangkut pariwisata dan kebudayaan serta kesenian ialah teater. Merupakan sebuah bentuk pertunjukan yang melibatkan unsur-unsur yang kompleks untuk menggelar pertunjukaannya.

Kepariwisataan (TERUSAN)

Sejarah Pariwisata di Indonesia Dalam sejarah nusantara, diketahui bahwa kebiasaan mengadakan perjalanan telah dijumpai sejak lama. Dalam buku Nagara Kartagama, pada abad 14, Raja Hayam Wuruk dilaporkan telah mengelilingi Majapahit dengan diikuti oleh para pejabat Negara. Ia menjelajahi daerah Jawa Timur dengan mengendarai pedati. Pada awal abad 20, Susuhunan Pakubuwono X dikenal sebagai raja yang sangat suka mengadakan perjalanan. Hampir setiap tahun beliau mengadakan perjalanan ke Jawa Tengah , sambil memberikan hadiah berupa uang. Dalam tradisi kerajaan Mataram, raja atau penguasa daerah harus melakukan unjuk kesetiaan pada keratin dua kali setiap tahunnya, sambil membawa para pejabat, pekerja yang mengangkut logistik dan barang persembahan untuk raja. Masa Penjajahan Belanda Sejarah pariwisata di Indonesia di saat masa kependudukan/penjajahan colonial Belanda sektor yang diutamakan dalam pariwisata Indonesia terfokus pada sisi hal usaha. Dulu disaat masa penjajahan Belanda pariwisata di lakukan oleh kaum ningrat yang dapat membuka usaha seperti lahan perkebunan. Dengan mempunyai dan membuka lahan perkebunan hal tersebut dapat menarik perhatian banyak masyarakat saat itu untuk mengagumi si ningrat akan hasil usahanya dalam perkebunan tersebut. Namun secara resmi kepariwisataan di jaman masa penjajahan Belanda di awali dengan pembukaan suatu biro jasa pariwisataan pada abad 19. Diawali dari tahun 1910 hingga 1912 atas keputusan gubernur jenderal Belanda saat itu yang bernama Vereeneging Toeristen Verkeer (VTV) yang merupakan suatu biro wisata atau tourist bureau pada masa itu. Saat itu kantor tersebut digunakan pula oleh maskapai penerbangan swasta Belanda KNILM Koninklijke Nederlandsch Indische Luchtfahrt Maatschapijj. yang memegang monopoli di kawasan Hindia Belanda saat itu. Sektor pariwisata di Indonesia saat ini condong kearah upaya pemerintah untuk meningkatkan penghasilan Negara melalui devisa yang ada. Sejak awal abad 19 dari mulainya kepariwisataan di Nusantara berkembang pada jaman penjajahan Belanda hingga sekarang perkembangan dan peningkatan ekonomi di Indonesia semakin tumbuh, manusia semakin lalu-lalang seiring dengan kemajuan teknologi yang dapat mengantarkan mereka pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk melakukan perjalanan guna menanbah wawasan khususnya berniaga. Seiring berkembang pesatnya perdagangan antar pulau di eropa dan Asia maka semakin pesatnya manusia yang lalu lalang dan yang khususnya singgah di Indonesia. Hal tersebut dimanfaatkan oleh pemerintah saat itu hingga sekarang untuk mengambil peluang dengan meningkatkan fasilitas kepariwisataan yang dipunyai Indonesia. Dari sektor alam, belanja, dan budaya serta keagamaan, pemerintah gencar mengembangkan pariwisata pada sektor-sektor tersebut. Dan menjadi tulang punggung penghasilan Negara dalam meningkatkan perekonomian Negara. Hasil survey pada tahun 2009 (Wikipedia.com) memperlihatkan bahwa sektor pariwisata di Indonesia merupakan penghasil uang melalui devisi urutan ketiga setelah gas dan minyak bumi. Data tersebut menjadi bukti bahwasanya Indonesia sangat memiliki banyak peluang di sektor pariwisata yang menjanjikan ini. Apa lagi dengan seiring pesatnya perkembangan tekhnologi yang semakin mengglobal ini yang memungkinkan untuk mudah dan cepat mengenai informasi khususnya tentang apa-apa saja jenis-jenis pariwisata yang di tawarkan di Indonesia, melalui media baru (new media) jejaring sosial yang saling terhubung satu sama lainnya memungkinkan pemasaran akan sektor penghasilan devisa ini dapat terus ditingkatkan.