Entri Populer

Jumat, 20 Januari 2012

Tourism Terms


SUBAN WARM AND WATERFALL
(BENGKULU PROVINCE-SOUTH EAST SUMATERA)

Absolutely all of us was not strange anymore if we heard provinces in Sumatera, Indonesia, that called Padang, Aceh, Medan or Palembang, that had many icon to make them to be famous town or provinces than the other province that almost people still not yet knowing about that province.

If you look to South East of Sumatera, correctly you will find the one of 8 provinces that Sumatera had been had. Stated at 5º40´-2º0´ LS and 100º40´-104º0´ BT Bengkulu was not less beautiful than the other provinces in Sumatera good it was according by the place itself or the resort.

One of many resorts that Bengkulu had, it was, Suban Warm and Waterfall. It was about 6 km of Curup-Bengkulu, west Bengkulu. If you had a family that lived in Rejang Lebong, you can reach the location about only 30 minutes. Access road to the site is somewhat difficult for four-wheel vehicles, but the condition of roads with asphalt so well-groomed (2011), so if you're visiting Bengkulu, it never hurts to visit this attraction, easy, inexpensive and natural. The entry ticket price is only Rp. 8000/ visitors. In this location there are also various other sites, such as the Inscription “Tiga Batu Menangis”, Twin Waterfall and of course the ponds of the famous hot spring in Bengkulu itself.
On weekends and holidays, tourist sites will never empty of visitors, apalgi on national holidays which of course is used for every community, especially the Rejang Lebong, Bengkulu Curup not miss out on vacation for a while, if only just to soak, hot showers and or just want to refresh the mind and atmosphere with a panoramic view around the site after a hard activity. Arreyanez | Ade Arya Dwiguna | 3SA 01 | Kepariwisataan

TOURISM PROJECT TOUR OBJECT PLACES IN NORTH AFRICA (EGYPT)

KARNAK (DISAMBIGUATION PLACE).

The Karnak temple complex usually called Karnak – Comprises a vast mix of decayed temples chapels, pylons, and other buildings. Notably the Great Temple of Amun-Re and a massive structure begun by Pharaoh Ramses II (ca. 1391-1351 BC). Sacred lake is part of the site as well. It is located near Luxor, some 500 Kilometers South of Cairo in Egypt.

Karnak, there’s state pillars of the “Great Hypostyle Hall” from the Precint of Amun- Re. Great Hypostyle Hall located within the Karnak temple complex, in the Precint of Amun-Re. Amun-Re in term of Egypt means god of sun.

Is one of the most visited monument of ancient Egypt. The design was initially instituted by Hatshepsut, at the North-West chapel to Amun in the upper terrace of Deir el Bahri. The Hall covers an area of 5000 Meters square, was supported by middle rows are higher than the others (10 Meters) in circumference and 80 feet (24 Meters)

The area around Karnak was the ancient Egyptian Iphet-Isut (“The most selected of places”) and the main place of worship of the eighteenth dynasty The Ban Triad with the God Amun as its head. It is part of the monumental city of Thebes. The Karnak Complex takes its name from the nearby and partly surrounded modern village of el Karnak, some 2,5 kilometers North of Luxor. Arreyaneez | Ade Arya Dwiguna

Kamis, 17 November 2011

SSAMBAP AND GYEONGJU BREAD (MODERN AND LOCAL SPECIAL CUISINE)




Besides South Korea famous about the Drama and They Beautiful Tourism Places anywhere of corner about South Korea, the Cuisine there aren’t fail deliciously with Indonesian or Japan and or Italian cuisine. If people have a chance to visit to South Korea, never miss to visit in Gyeongju places, it’s about 370 KM from Capital city South Korea, Seoul.
Gyeongju offered many culture and tradition. One of them is their cuisine. Ssambab and Gyeongju Bread are famous cuisines that come from this wonderful city since Silla Kingdom Ancient. The tastes of those foods are presented so great, at one food you will enjoy the taste of food by staple is rice and vegetable (Ssambap) from South Korea, a rice dish served with vegetable leaves, various small side dishes and condiments. Ssambap refers to a rice dish served with vegetable leaves, various banchan (small side dishes) and condiments such as gochujang (chili pepper paste) or ssamjang (a mixture of soybean paste and gochujang) to wrap them together.
And the second, cuisine that born and the pure product and also the famous cuisine that Gyeongju had is Gyeongju Bread. Based the name of this bread, we all agreed if this bread pure the property of Gyeongju, the famous cuisine and bread from South Korea. Gyeongju Bread is "Hwangnam bread", a red-bean pastry first baked in 1939 and now sold throughout the country. Ade Arya Dwiguna | 3SA 01 | Kepariwisataan | 11609016 | Aryanz

Gyeongju (“The Museum Without Wall”)





Ladies and Gentlemen, from the writer, reader and every people who very fond about trip to somewhere beautiful, let me introducing this wonderful place with science and history at Gyeongju, exciting place in South Korea that will give you a lot of history about the place, so let we start the trip.
T
he location of this “Museum without Wall” placed about 370 KM or 230 mil from southeast of Capital City of Korea, Seoul and is a coastal city in the far southeastern corner of North Gyeongsang province in South Korea. In 57 Before Century and 935 After Darken, Gyeongju was the capital city of Ancient Kingdom of Silla which ruled most of the Korean Peninsula between the 7th and 9th centuries, and the reason that impacted Gyeongju called by “Museum without Wall was A vast number of archaeological sites and cultural properties from this period remain in the city. And according the source terms which Gyeongju has had such as historical treasures, Seokguram grotto, Bulguksa temple, Gyeongju Historic Areas and Yangdong Folk Village, finally the UNESCO designed this place as one of many place that called as World Heritage Sites, and Gyeongju become one of most popular tourist destination in South Korea.
Gyeongju nowadays, not only give tourist or traveler about history of ancient kingdom, but the growth of the city of Gyeongju, As well as its rich historical heritage, Gyeongju today is affected by the economic, demographic, and social trends that have shaped modern South Korean culture. Tourism remains the major economic driver, but manufacturing activities have developed due to its proximity to major industrial centers such as Ulsan and Pohang. Gyeongju is connected to the nationwide rail and highway networks, which facilitate industrial and tourist traffic.Ade Arya Dwiguna | 3SA 01|Kepariwisataan|11609016|Aryanz

Sabtu, 21 Mei 2011

Studi Sendiri

Apakah teori dan bakat lebih penting daripada kerajinan/tekun dan kemauan ?

Kalimat pertanyaan diatas tersebut tergantung bagi setiap yang menanggapinya dan pemikiran masing-masing orang.
Namun alangkah baiknya bila kalimat tersebut dijawab dengan bila rajin adalah awal dari suatu kebisaan seseorang untuk melakukan sesuatu dengan baik dan sangat baik.

Satu obrolan yang ringan namun berbobot saat penulis sedikit berbicara dan bercanda pada sesi latihan Apresiasi sastra di lab, terdengar kata-kata bila ; "Apakah bakat itu penting ? Bagaimana dengan kerajinan dan kemauan ?" Pertanyaan tersebut yang terlempar dari seorang kakak kelas kepada penulis. Saat itu penulis coba memahami bila ada benarnya bakat bisa dikalahkan oleh kerajinan dan kemauan untuk bisa.

Lantas apa hubungannya dengan studi ? Dalam tulisan ini penulis mengarahkan tulisan ini ke arah bila suatu pemahan teori lewat baca buku tidak harus dipaksakan untuk baca 100 hingga 500 halaman untuk bisa melakukan sesuatu pembelajaran teori dalam buku tersebut. Masih ada kata 'Rajin dan Kemauan'.
Teori yang banyak orang konsumsi tidak akan ada hasilnya apabila tidak diiringi dengan rajin dan kemauan untuk mencoba dan terus mencoba dengan kemampuan rajin alamiah tersebut. Maka studi kepustakaan tidak akan sukses membuat seseorang bisa dalam satu hal tanpa diimbangi dengan studi sendiri alias Rajin dan Keamauan yang kuat.
Dan jangan lupa akan kata-kata 'Orang bisa karena terbiasa'

Sabtu, 09 April 2011

PROFILE nya

B O B SA D I N O . . .
Bob Sadino, atau familiar dipanggil dengan panggilan Om Bob ini merupakan salah satu pengusaha sukses Indonesia yang dapat dikatakan jenaka. Tampilan beliau yang begitu Low Profile nampak sering dapat dijumpai dimana-mana ketika anak bungsu dari lima bersaudara ini tampil disuatu acara atau sekedar hanya diwawancara. Tampilan beliau yang begitu menampakan kesederhanaan, tak khayal mengundang decak kagum namun senyum bagi orang-orang yang melihatnya baik langsung ataupun tidak langsung. Setelan sosok seseorang pengusaha yang sukses berdandan dengan khas celana pendek blues dan kemeja sederhananya ini patut kita ancungi dua ibu jari.

Lahir di Tanjung Karang, Lampung, Sumatera Tujuh Puluh Delapan tahun silam ini atau tepatnya ( 9 Maret 1933 ), merupakan pengusaha, pembinis dalam urusan pangan dan peternakkan. Beliau merupakan Bos sekaligus Pemiliki usaha jaringan usaha makanan Kemfood dan Kemchick.

Dulunya Bob berasal dari keluarga yang megah berkecukupan dengan lima 4 saudara lainnya. Saat orang tua Om Bob Meninggal pada saat usia Om Bob masih 19 tahun, Om Bob mewarisi semua harta kekayaan orang tuanya karena ke-empat saudara lainnya telah dianggap hidup dengan mapan. Bob menghabiskan sebagian harta tersebut dengan keliling dunia. Negara yang ia datangi antaranya Belanda dan Jerman dikota Amsterdam dan Hamburg.

Om Bob bertemu jodohnya saat Om Bob di Belanda, saat itu beliau tinggal di Belanda selama 9 tahun dan bekerja di Djakarta Lylod, kota Amsterdam ia adalah Soelami Soejoed, wanita yang dinikahi beliau. Pada tahun 1967 beliau dan keluarga kembali ke Jakarta. Di Jakarta beliau memutuskan untuk keluar dari tempatnya bekerja. Beliau berpikir untuk berusaha mandiri. Langkah awal yang ia lakukan adalah dengan menjual salah satu dari dua mobil mercedesnya untuk membeli sebidang tanah di Jakarta selatan, tepatnya di Kemang. Bob sempat menjadi tukang batu saat ia mengalami kegagalan dalam usaha mandirinya menyewakan mobilnya dengan beliau sendiri yang menjadi sopirnya dengan gaji rendah. Sampai akhirnya, ia terjun ke dunia ternak ayam atas saran sahabatnya. Dalam bisnis ternak ayam ini bob dan istrinya berhasil. Dengan modal lancar berbahasa Inggris, karena sempat lama diluar, Bob dan Istrinya dalam tempo satu tahun mendapatkan langganan yang cukup besar, terutama mereka mendapatkan langganan orang-orang asing yang menjadi pelanggan tetap telur-telur ayam Bob. Beruntung beliau memilih tinggal di daerah Kemang yang banyak orang asingnya. Disanalah terbuka peluang bisnis besar atas kecerdikan. Namun tidak begitu saja mulus dalam bisnis ini, Bob juga mendapat cercaan dari orang-orang. Namun buah pun masak dan dinikmati saat Bob bisa bersabar dan membuat perubaha diri yang drastis bagi usahanya. Sampai akhirnya Bob sukses menjadi pemilik pasar swalayan Kemchicks tunggal. Mulai saat itu Bob selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendeknya, dan menghilangkan sikap feodalnya.

“Yang paling penting adalah tindakan” Kata kakek berusia 78 tahun ini. sama seperti halnya talk less do more. Beliau mementingkan suatu tindakan konkrit yang penting dari pada terjebak pada kelemahan setiap manusia dalam menangkap peluang. Yaitu kebanyakan berpikir. Bob dan istrinya tidak mulus menjalankan bisnis-bisnisnya, mereka sering jungkir balik. Uang tidak merekan jadikan nomor satu, Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.
Bob banyak gagal dan gagal namun beliau percaya melalui kegagalannya mereka akan sukses dengan segala prinsip beliau. Setelah berusaha di bidang peternakan beliau merambah bisnis holtikultura, agribisnis. Beliau menjalin hubungan kerja sama dengan pengusaha di beberapa daerah.

Bob tidak menggunakan berbagai ilmu canggih dalam usaha mandirinya ( pebisnis sejati ). Beliau tidak mengandalkan memulai bisnis dengan ilmu seperti sekarang berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain. Namun Bob langsung terjun kedunia usahanya dengan ketidaktahuannya, jatuh bangun biasa sampai akhirnya ia terampil pada bidangnya. Merupakan pebisnis sejati dan gentlemen kiranya dengan apa yang beliau lakukan. Keluwesan Bob terhadap para pelanggannya, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan, dengan sikap seperti itu Bob mendapatkan simpati pelanggannya dan mampu menciptakan pasar. “Kepuasaan pelanggan menciptakan kepuasan terhadap diri sendiri” Beliau berkata. Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Sudino. Merupakan ayah dari Bob Sadino. Ayah Bob merupakan seorang guru kelahiran Solo, seorang guru kepala suatu SMP dan SMA di TanjungKarang. Meninggal pada tahun 1952 tepat Bob masih berusia 19 tahun.

Sri Mulyono Herlambang. Seorang sahabat Bob yang mengidekan Bob untuk berternak ayam dengan memberikan 50 ekor ayam ras kepada Bob.

Om Bob memiliki dua orang anak. “Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. “Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.

Riwayat Pendidikan Om Bob :
1. SD, di Yogyakarta (1947)
2. SMP, di Jakarta (1950)
3. SMA, di Jakarta (1953)

Karir :
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
- Karyawan Unilever (1954-1955)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)

Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981

Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618

Terakhir, Beliau Om Bob Sadino putra Lampung ini merupakan penggemar berat musik klasik dan jazz. Mungkin seperti lagu Jazz dari Keny G. Dan saat yang paling indah baginya adalah saat Om Bob Shalat bersama keluarganya. Istri dan kedua anaknya (arreyanz).





Minggu, 03 April 2011

Kegunaan

Kegunaan adalah nilai fungsi dari suatu benda atau yang dapat membantu memudahkan, memperingan,mempunyai makna atau arti dari hal tersebut.

Memang terlihat jelas bila kegiatan sampul-menyampul buku itu tidak sangat sekali nampak kegunaan objektif dan subjektifnya. Namun jangan bilang bila tidak ada sama sekali kegunaan dari kegiatan sampul-menyampul buu itu sendiri. Karena terbilang jelas bila menyampul adalah kegiatan berseni yang memiliki nilai positif. Nilai positif itulah yang menjadi nilai subjektif bagi mereka yang menyenangi atau gemar dan bahkan hobi dengan menyampul buku-buku mereka. Namun, dimanakah nilai kegunaan objektif dari sampul buku itu sendiri ? Banyak sekali tentunya nilai fungsi objektif dari sampul itu sendiri. Satu diantaranya yang bisa disebutkan sebelumnya adalah, bila mereka menyampul buku, maka nilai fungsi objektifnya adalah sampul itu akan melindungi buku itu sendiri dari kerusakan, dan mengawetkan buku mereka.

Beberapa kegunaan yang umumnya ditimbulkan dari sampul buku itu adalah sebagai berikut :

1. Melindungi buku dari kerusakan dan cacat.
2. Memperindah dan menggambarkan prilaku penyampulnya.
3. Bernilai positif bagi pemiliknya. Seperti menambah keinginan untuk selalu
membaca buku-buku mereka itu yang tersampul.
4. Meningkatkan kreatifitas dan kecerdasan dalam berusaha mengkreatifitaskan buku.
5. Membuat mereka menjadi lebih peduli akan hal-hal yang kecil, seperti menyampul
buku.
6. Menggambarkan sikap cinta terhadap buku.
7. Menjauhkan buku dari kotoran, khususnya debu.
8. Memperawet usia fisik buku.
9. Mencegah buku dari kehilangan.


Dari kesembilan kegunaan diatas dari apa-apa gunanya menyampul buku itu sendiri, terlihat bahwa menyampul selalu memberikan nilai guna positif bagi mereka yang mau repot melakukannya. Bagi yang tidak, mereka lah yang kurang peduli, namun tidak bisa disalahkan pula.
Jadi ambilah semua kegunaan-kegunaan positif dari kegiatan sampul-menyampul buku tersebut dengan begitu kebiasaan positif ini dapat kita tularkan kepada orang-orang lain yang mau peduli.