Entri Populer

Rabu, 24 April 2013

Model Ijazah SMA dalam Bahasa Inggirs

NATIONAL DEPARTMENT OF EDUCATION
REPUBLIC OF INDONESIA


GENERAL CERTIFICATE OF EDUCATION
HIGH SCHOOL
STUDY PROGRAM OF SCIENE/SOCIAL
SCHOOL YEAR 2011/2012


The undersigned below, Head Master of high school SMAN 2 Cibinong explain if :

Name : Arreyanezz Dwiguna
City & Birt of Date : Jakarta, November 14th 1993
Parent’s Name : Arya
Origin School : SMAN 2 Cibinong
Major Number : xxxx.xxxx.xxxx.xxxx.xxxx
Participants Number :xxxx.xxxx.xxxx.xxxx.xxxx



PASSED

From unit of education pursuant to national test result and general examination And also have fulfilled a criterion as according to law of statue.





Tugas mata kuliah PENERJEMAHAN KHUSUS
Tugas 2 : Contoh Ijazah SMA (dalam bahasa Inggris)
Nama : Ade Arya Dwiguna
NPM : 11609016
Kelas : 4SA 01
UNIVERSITAS GUNADARMA

Senin, 11 Maret 2013

Tulisan Puisi


SENJA ITU

Tak bisa kudendangkan kembali lagu ini;
Kemarin ku tak datang tak berarti hujan;
Hati nan rapuh kurela terukir dengan luka;
Kemarin ku tak sampai tak berarti berai;

Kau menatapiku
Seperti seseorang
Yang tak ku kenal
Senja itu

Ku menyambangimu
Seperti bunga setia
Yang merunduk
Dikala senja itu


Nama : Ade Arya Dwiguna
Kelas/NPM : 4SA01/11609016
Tugas Mata kuliah : Penerjemahan Khusus (Softskill)
Tugas Tulisan : Puisi
Genre : Cinta
Karya : Arya

Model KTP Dalam Bahasa Inggris


WEST JAVA PROVINCE
(PROVINSI JAWA BARAT)

DISTRICT OF BOGOR
(KABUPATEN BOGOR)

SERIAL REGISTER NUMBER : XXXX XXXX XXXX XXXX XXXX XXXX
(N.I.K)
NAME (NAMA) : ARREYANEZZ DWIGUNA
CITY/BIRTH OF DATE : JAKARTA/NOVEMBER 14th 1991
(TEMPAT TANGGAL LAHIR)
SEX (JENIS KELAMIN) : FEMALE/MALE (PEREMPUAN/LAKI-LAKI)
ADDRESS (ALAMAT) : JL. CINTA SATU NO. 1
RT/RW (RT/RW) : 01/01

SUBDISTRICT (KECAMATAN) : BUKIT CINTA
COUNTRY (KELURAHAN) : BUKIT CINTA
REGENCY (KOTA MADYA) : BOGOR

NATIONALLITY : INDONESIA
(KEWARGANEGARAAN)
RELIGION (AGAMA) : MOSLEM (ISLAM)
OCCUPATION (PEKERJAAN) : STUDENT (PELAJAR/MAHASISWA)
MARITAL STATUS : MARRIED (MENIKAH)
(STATUS PERKAWINAN)
BLOOD TYPE : O
(GOLONGAN DARAH)

EXPIRY (BERLAKU HINGGA) : NOVEMBER 14th 2017

SIGNATURE/FINGERPRINT
(TANDATANGAN/CAP JARI)



HEAD OF VILLAGE
KEPALA DESA)


M. RIZAL


Tugas mata kuliah PENERJEMAHAN KHUSUS
Tugas 1 : Kartu Tanda Penduduk
Nama : Ade Arya Dwiguna
NPM : 11609016
Kelas : 4SA 01
UNIVERSITAS GUNADARMA

Minggu, 06 Januari 2013

DEGRADASI BUDAYA BERMORAL I N T E R A K S I B U D A Y A Kebiasaan yang kerap kali menjadi peraturan diri sendiri untuk setiap orang bisa berarti bermacam-macam. Namun pada kebanyakannya hanya dua kemungkinan arah hasil dari kebiasaan tersebut yaitu, menjadi sesuatu hal yang negatif dan atau bisa juga menjadi sesuatu hal yang positif. Akan tetapi selama yang pernah dialami kebanyakan orang hal tersebut hanya berubah menjadi sesuatu hal yang positif bagi dirinya sendiri sebab itu merupakan hal yang biasa untuknya. Namun akan negatif apabila penerapannya untuk kolektif atau bukan untuk dirinya sendiri. Berkaca dari fenomena selepas libur pergantian tahun atau perkuliahan selepas Ujian Tengah Semester (UTS) di kampus Saya, benar saja sigma kehadiran mahasiswa di kelas anjlok ketimbang saat UTS atau sebelum libur tahun baru. Hal ini sudah terjadi selama lebih dari tiga tahun Saya menempuh penididikan di kampus. Kebiasaan yang selalu terulang dan diulang setiap tahunnya dan bisa menjadi sebuah budaya bagi mayoritas mahasiswa untuk berjamaah melepas moralnya sebagai mahasiswa yang dituntut untuk hadir saat jadwal perkuliahan sesuai dengan waktunya. Kebiasaan ketidakhadiran atau keterlambatan mahasiswa akibat kebiasaan fenomena di atas sebenarnya maklum apabila kerap terjadi setiap tahunnya apabila mempunyai batasan moral jika juga saja mahasiswa sadar akan tanggung jawabnya. Namun hal tersebut justru terbalik hampir 360 derajat, malah hal tersebut dijadikan mahasiswa yang sudah senior sebagai turunan budaya yang diinteraksikan kepada mahasiswa-mahasiswa junior untuk melestarikan budaya malas masuk kuliah setelah libur atau selepas UTS. Inilah yang dimaksud dengan mal-fungsi interaksi budaya, atau dengan kata lain adalah turunan budaya yang negatif. Dan kebiasaan akan hal ini hanya menghasilkan stigma yang negatif tentunya bagi moral setiap mahasiswa yang mempunyai kewajiban untuk datang saat jadwal kuliah yang sudah ditetapkan jurusannya masing-masing. Dan juga tentu saja akreditasi kampus, jurusan, dan mahasiswa-mahasiswa tersebut yang memandangnya akan mengapresiasi tidak baik, dan lebih parah sebab saran tersebut hanya bebel bagi mahasiswa untuk kembali untuk tidak merubah kebiasaan buruk itu. Menengok ke arah kegiatan mahasiswa yang positif dan masih di bawah naungan kampus di luar kelas yang pada umumnya disenangi oleh mahasiswa, yaitu kegiatan ekstrakulikuler mahasiswa dalam format Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) apapun kawasan kegiatannya. Kalau kita hanya menengok dari kulitnya saja, kita melihat mahasiswa-mahasiswa tersebut yang dengan seragam kebanggaan ORMAWA mereka masing-masing sangat giat saat melangsungkan suatu kegiatan. Kekompakan terlihat dan teamwork seolah berjalan sempurna sehingga suatu kegiatan positif mendapat apresiasi yang sangat positif bagi warga di lingkungan kampus pada umumnya. Hal tersebut ada benarnya. Namun apabila kita dapat menengok ke dalam, mahasiswa-mahasiswa yang terlihat sangat menguasai tanggung jawabnya sebagai bagian dari ORMAWA kampus dalam melangsungkan sebuah acara/kegiatan, pada saat pra-kegiatan dan pasca-kegiatan, meraka belumlah tentu seapik saat mereka di kegiatannya. Mengapa? Hal ini disebabkan lagi-lagi akan moral mereka sebagai pribadi yang tidak memperhatikan kedisiplinan yang sama halnya seperti mahasiswa yang menghadapi UTS. Mereka tidak disiplin saat pra-UTS dan pasca-UTS yang menyebabkan budaya mereka budaya instant untuk dalam menghadapi UTS dan setelah UTS. Menengok kegiatan ekstrakulikuler yang Saya ikuti di kampus Saya, Saya sangat merasakan kedua perbandingan di atas yang memiliki kesamaan yang tidak ada bedanya alias sama saja. Sebagai contoh yang ingin Saya tulis dalam tulisan ini adalah saat akan melangsungkan sebuah acara. Kebiasaan selalu sama setiap suatu acar akan dilangsungkan. Selama dua tahun Saya berorganisasi di ORMAWA ini, kasusnya selalu sama. Yaitu masalah akan kedisiplinan dan tanggung jawab moral. Pada dasarnya kegiatan-kegiatan yang selalu dilaksanakan pada ORMAWA yang Saya ikuti ini memiliki tiga tahapan secara umum untuk menyuskeskan suatu acara berdasarkan pengamatan Saya secara langsung. Yang pertama adalah tahapan pra-kegiatan. Pada tahapan ini dimana kedisiplinan sangat-sangat dibutuhkan bagi setiap sektornya/seksi. Karena di tahapan ini semua yang terlibat dalam kegiatan dibutuhkan kehadirannya untuk membahas hal-hal yang sifatnya baik non-tekhnis dan tekhnis saat kegiatan berlangsung yang dilaksanakan dengan format formal yaitu rapat. Namun pada tahapan ini hal tersebut sangat jauh dari kata kompak. Tahapan selanjutnya setalah pra-kegiatan adalan kegiatan. Dimana segala sesuatu yang sifatnya administratif atau hal non-tekhnis telah berlangsung dan tiba saatnya kekompakan tim penyelenggara acara dibutuhkan. Dan fenomena terjadi pada tahapan ini. Yaitu ketidakkekompakan saat tahapan pra-produksi lenyap begitu saja, prilaku-prilaku ego lenyap di setiap diri masing-masing. Dan alhasil sukses acara dan apresiasi yang didapat bernilai positif. Namun disinilah tahap yang mengagetkan setelah tahapan kegiatan berlangsung. Yaitu kegiatan yang seharusnya sangat-sangat harus mendapat suatu perhatian yang sangat lebih setelah kegiatan bubar, karena tahapan ini merupakan evaluasi untuk menatap proses kegiatan-kegiatan selanjutnya yang lebih baik dan matang. Mungkin sebuah alasan terucap yaitu; “Kita sudah sukses!” Hal tersebut sangatlah sangat-sangat salah kaprah. Sebab pada saat evaluasi saat itulah penilaian yang sebenarnya apakah suatu kegiatan tersebut baik tau tidak karena semua sisi akan mendapat dinilai. Tahapan inilah yang sangat parah. Saat kegiatan pasca-kegiatan yang tertuang dalam rapat evalusi kebanyakan panitia acara bubar sebubarnya acara pula. Inilah masalah yang terus terulang. Sehingga suatu kegiatan hanya lewat begitu saja. Dari kedua perbandingan yang berbanding lurus di atas, Saya menyimpulkan bahwa ini merupakan suatu budaya dari setiap pribadi yang salah mengfungsikan kedisiplinan dan moran serta tanggung jawab bagi mereka sendiri bukan untuk orang lain. Dalam berkehidupan menjalankan diri sebagai titel mahasiswa, mahasiswa harus disiplin belajar, ujian dan evaluasi. Dan dalam berkehidupan menjalankan diri sebaga titel aktivis organisasi kampus, mahasiswa harus disiplin berkegiatan, berkegiatan dan evaluasi. Keduanya mempunyai proses yang sama, dan secara pengamatan Saya keduanya selalu bermasalah pada tahapan proses yang sama. Yaitu saat setelah ujian terlaksana. Sebuah kegagalan atau mal-fungsi dari sikap setiap individu yang membiarkan dirinya lepas tanggung jawabnya sesaat setelah melewati suatu hal yang dianggap tanggung jawabnya sudah selesai. Seperti mahasiswa setelah UTS yah selesai, dan seperti mahasiswa aktivis kampus setalah berkegiatan yah selesai tanggung jawabnya dan bubar sebubarnya acara. Kegua hal tersebut sangatlah jauh dari kata bermoral. Searusnya setalah melampaui suatu hal yang akan menjadi hal pembelajaran di masa yang akan datang, apabila kita ingin memiliki moral yang bertanggung jawab dan disiplin dikemudian hari, hendaknya kita menanamkan budaya moral yang tinggi kepada diri kita masing-masing supaya tanggung jawab moral dengan apa yang telah kita lakukan terpenuhi dan akan selalu menjadi pembelajaran yang positif dan menginteraksikan budaya diri kita yang mempunyai moral itu terhadap lingkungan sekitar kiat, dan berdoa akan membuat suatu peradaban atau perubahan yang baik, positif, dan tentunya yang bermoral. Arnz

Minggu, 28 Oktober 2012

BERINTERAKSI DI BUMI RAFLESIA BENGKULU I N T E R A K S I B U D A Y A

Mungkin kegiatan “home stay” yang sangat efektif untuk seseorang meletakkan diri sebagai objek dalam melakukan aktifitas berinteraksi budaya. Karenanya hal tersebut seseorang akan bertukar tempat dari suatu lingkungan budaya yang lama dengan budaya yang baru saat seseorang ber-homestay. Home stay yang berarti mendiami atau berada di lingkungan keluarga dengan orang-orang lain (baru) merupakan suatu hal yang teramat baik untuk berinteraksi budaya bahkan dalam hal mempelajari suatu budaya baru, jadi tidak hanya bertukar budaya baik secara verbal atau non-verbal, tetapi juga mendapatkan pelajaran baru, entah itu budaya secara keilmuan, moral, norma, atau etos hidup keseharian (kerja). Biasanya home stay adalah perpindahan atau tukar tempat antar Negara, sebab itulah disebut sangat efektif dalam mempelajari interaksi budaya. Bagi seorang mahasiswa sangat mungkin melakukan hal itu dengan cara yang beragam. Misal, kuliah beasiswa ke luar negeri, dan akhirnya tinggal di sana dan mempelajari budaya baru di sana, atau pertukaran pelajar (mahasiswa). Namun, jujur Saya sebagai mahasiswa belum pernah ke luar negeri. Maksimal saya ke luar negeri melalui media cetak dan elektronik (buku dan televisi). Namun bukan berarti Saya atau setiap orang-orang pada umumnya, dan khususnya mahasiswa yang senasib seperti Saya ini tidak mungkin dapat berinteraksi budaya dikarenakan tidak dapat tembus ke luar tanah air. Yang bisa Saya amati dan sedikit pelajari tentang berinteraksi budaya, Saya tertarik dengan tradisi masyarakat kita yang terjadi dan dilakukan pada setiap harinya. Tepatnya setiap menjelang dan setelah tanggal 1 hijriah dalam kalender Islam. Ya, apalagi kalau bukan tradisi meninggalkan kampung halaman beramai-ramai, atau membahana istilahnya disebut sebagai mudik lebaran, atau istilah lainnya adalah pulang kampung. Disini Saya sedikit mencoba mempelajari seraya ingin mampu memahami fenomena tahunan tersebut dari kacamata interaksi budayanya. Yang sedikit Saya lihat dan amati pada fenomena tersebut adalah, bagaimana pulang kampung dapat dijadikan sebagai sarana berinteraksi budaya satu dengan yang satunya selain bersilahturahmi dengan sanak saudara pada umumnya. Saya mengambil peristiwa mudik tersebut karena memiliki hal yang sedikit atau banyaknya dengan home stay pada penjelasan di atas yang sangat memungkinkan interaksi budaya terjadi. Mengapa ? Karena home stay yang pada dasarnya adalah melakukan perpindahan (perjalanan), dan berdiam di suatu tempat yang baru (lain), maka mudik (pulang kampung) pun bisa juga menjadi salah satu cara untuk berinteraksi budaya. Dari sinilah kembali cerita Saya bermulai. Setahun yang lalu pada mudik lebaran tahun 1433 Hijriah, Saya yang berasal asli dari daerah asal kelahiran Saya yaitu Bogor, Jawa Barat, pada tahun tersebut Saya berpulang kampung ke tempat asal desa kelahiran Orang Tua Saya (Ayah) Saya, di desa Curup, Rejang Lebong, provinsi Bengkulu, Sumatera. Di sana direncanakan bila Saya akan menginap di rumah Kakek-Nenek Saya yang Alhamdulillah masih ada selama 5 hari berturut-turut. Setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan mobil pribadi serta memalui perjalanan panjang lintas provinsi selama 2 hari 2 malam, Saya pun dengan rombongan keluarga Saya tiba di desa Curup, Bengkulu pada dini hari. Setting rumah dari Orang Tua Ayah Saya merupakan rumah yang masih sangat tradisional. Berlantai kayu, berdinding kayu, beratap kayu, dan berpondasi serta bertiang-tiang kayu. Ya, di tempat tinggal semasa kecil Ayah Saya masih menggunakan rumah adat Bengkulu (rumah panggung). Kedatangan Saya sekaligus kedatangan rombongan keluarga Saya disambut dengan perasaan keluarga disana yang menanti kedatangan kami. Saya pun dalam keadaan setengah mengantuk, mendengar pembicaraan Ayah Saya dengan kakek-nenek Saya mulai menggunakan bahasa daerah setempat (bahasa Rejang). Walaupun mengantuk pembicaraan yang menggunakan nada agak tinggi tersebut membuat Saya mencoba untuk mengartikan arti dari percakapan tersebut walaupun sampai Saya menyerah Saya tidak dapat mengartikannya, meskipun samar-samar, hanya terlihat senyuman mereka saat bertemu. Kedatangan kami yang dini hari sontak membuat kami masih mengantuk, dan tanpa pikir panjang lagi kami pun semua yang baru datang langsung tertidur untuk beristirahat. Namun, selang beberapa jam Saya terlelap tidur, sekitar pukul 02.00 dini hari dari arah dapur terdengar suara-suara orang-orang sedang sibuk memasak. Benar saja, hampir sedikit lupa akibat kelelahan dalam perjalanan, kalau waktu itu masih hari berpuasa pada esok harinya. Dan akhirnya Saya pun tersadar bahwa beberapa keluarga Saya sedang menyiapkan santap sahur untuk berpuasa keesokan harinya. Terbangun pada keesokan harinya disaat matahari belum menderang, beberapa aktifitas di rumah panggung pun semakin ramai. Beberapa keluarga terlihat sudah mondar-mandir sibuk dengan aktifitasnya masing-masing di pagi hari yang masih dingin tersebut. Ada yang bersiap menuju ke kali untuk mandi pagi, ke kebun mencari kayu bakar, dan ada yang bersiap menuju ke kali dengan membawa cucian diember plastik. Dengan keadaan setengah terbangun, Saya pun dihampiri oleh paman Saya, yang biasa Saya panggil dengan sebutan om. Endeng. Kopi hitam sudah ditawarkannya kepada Saya dengan beberapa camilan khas Bengkulu yang sudah disiapkan. I N T E R A K S I B U D A Y A Di hari tersebut Saya mulai menyesuaikan diri sebelum Saya terkena efek dari “culture shock”. Gejala yang sama biasa dialami oleh setiap orang yang menempati suatu tempat baru seperti halnya home stay dan mudik. Culture shock merupakan gejala yang dialami seseorang di awal mendiami tempat baru yang biasanya diringi dengan rasa rindu terhadap rumah yang biasa ditempatinya. Biasanya ada yang bertahan dan tidak sedikit juga yang tidak, dan akhirnya mengalami kebosanan dan keterasingan dengan di tempat baru yang ia diami. Gejala culture shock tidak Saya alami sebab setalah 10 tahun tidak mudik ke Bengkulu, baru Saya kembali ke Kampung Saya ini. Jadi yang ada malah Saya rindu dengan suasana pedesaan yang kental masih terasa tradisionalnya, dan perasaan yang senang yang mengalami batin Saya. Di daerah tempat tinggal Kakek-Nenek Saya di Bengkulu, tidak hanya keluarga dari pihak keluarga Saya yang ramah menyambut kedatangan kami sekelurga dari Bogor melainkan tetangga-tetangga lain disekitar. Ini disebabkan dari pernyataan yang Saya dapat mengenai hal tersebut dari Ayah Saya ternyata jawabannya adalah karena satu dusun di daerah rumah Saya di Bengkulu tersebut adalah masih satu keluarga, jadi tidak heran apabila kedatangan kami disambut hangat dengan tetangga-tetangga lainnya. Selain penyambutan yang hangat dari tetangga-tetangga sekitar rumah, tradisi yang Saya ingat setiap kali Saya kembali ke kampung “Nek-Bi” (sebutan untuk Kakek dalam bahasa Rejang) ini, adalah tradisi memotong kambing, dan dagingnya dibagikan kepada seluruh tetangga sekitar dengan mengundang tetangga untuk turut serta makan di rumah Nek-Bi sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan di perjalanan hingga tiba di tempat tujuan. Dulu ketika Saya masih duduk di Sekolah Dasar, tradisi ini hingga sekarang masih dijaga dengan cara diterapkan terus-menerus. Keseharian hidup yang ramah dan semuanya adalah para pekerja keras merupakan suatu kebanggan Saya sendiri sebagai anak keturunan dari salah satu desa di Bengkulu. Walaupun kebanyakan dari bahasa mereka saat mencoba berinteraksi dengan Saya tidak Saya pahami namun melalui gesture tubuh dan isyarat membuat Saya mengerti maksud dari pembicaraan dengan bahasa tersebut. Ya, Saya sedikit agak sedih dikarenakan Saya yang mempunyai Orang Tua, Ayah dari Bengkulu, Ibu dari Yogyakarta, dan Saya lahir, besar di Bogor dari ketiga kota tersebut Saya tidak mampu mengusai ketiga bahasa daerah tersebut, dengan sebab yang Saya dan beberapa teman Saya pun mengherankan hal tersebut. Bahasa sebagai alat komunikasi berinteraksi setiap hari yang digunakan oleh semua anggota keluarga Saya di Bengkulu sangat membuat Saya semakin cinta dengan Negara Indonesia dengan keragaman bahasa dan bahasa Indonesia sebagai pemersatunya. Sebagaian anggota keluarga Saya di Bengkulu bisa berbahasa Indonesia, dan keponakan Saya yang masih duduk di bangku SMP, membantu Saya dalam mengerti bahasa Bengkulu di sana, untuk dapat berkomunikasi. Selain bahasanya yang menjadi warisan tak ternilai harganya, dan sebagai warisan Saya ingin memperlajarinya di lain kesempatan yang panjang. Salah satu aksara bahasanya yang dimuat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bahasa Rejang dari Bengkulu, dengan bahsa-bahasa daerah lainnya seperti aksara bahasa dari Yogyakarta dan bahasa Sunda dari tanah Sunda Jawa Barat. Mengetahui hal tersebut, kebanggaan Saya semakin lengkap, karena Saya hidup di tiga kota yang kesemuanya memiliki aksara bahasa, yang Saya juga sangat tertarik mempelajarinya di waktu lain yang panjang. Bahasa, tradisi, dan etos kerja keluarga Saya di Desa Curup Bengkulu membuat Saya kagum. Bahasanya yang suatu hari nanti harus bisa Saya pahami karena Saya adalah salah satu penerus dari keluarga Saya yang memiliki keturunan dari Desa dari provinsi yang dikenal pula dengan bunga Raflesia Arnoldinya. Tradisi, tradisi yang harus Saya dalami makna setiap tradisi yang Saya jumpai setiap kali Saya kembali ke Rumah Panggung tersebut karena Saya akan menjadi pewaris tradisi tersebut kelak. Dan etos kerja yang sangat luar biasa para pekerja kerasnya yang harus Saya teladani selepas Saya bergabung dalam lingkungan dunia kerja, mengingat Ayah Saya yang merantau merupakan suatu kerja keras yang patut diteladani di jaman serba keras dan cepat seperti sekarang ini. Memang cerita yang Saya tulis ini sedemikian rupa sepeti narasi dan lebih berat kepada lintas budanyanya. Namun terdapat pula unsur interaksi budayanya di dalam lintas budaya, itulah mengapa Saya tulis tulisan ini. Masyarakat di Desa Saya khususnya, orang-orangnya berinteraksi dengan siapapun akan selalu ramah. Memang nada-nada dalam setiap pembicaraan mereka agak sedikit tinggi namun itulah kekhasan masyarakat Desa Saya, bukan berarti kasar. Kekentalan bahasa di Desa Saya justru diaksen bahasa Rejang tersebut. Yang Saya artikan melambangkan nafas-nafas kerja keras mereka bersama dengan alam yang masih sangat alami di Desa Saya tersebut. Hal tersebut ditandai dengan aktifitas keseharian yang sangat tradisional dan mengandalkan alam, seperti memasak dengan bahan bakar berupa kayu bakar, mandi di sungai/kali, dan berladang. Yang dapat Saya pelajari selama menetap di sana dalam beberapa hari yaitu, bagaimana kita bisa mempertahankan posisi kita sebagai yang katakanlah asing di suatu lingkungan/tempat lain/baru. Mempertahankan posisi yang Saya maksud di sini adalah beradaptasi. Beradaptasi yaitu berinteraksi dengan semua hal yang bersesuaian dengan tempat di mana kita berada di lingkungan baru tersebut bukan hanya pada bahasa yang digunakannya. Berinteraksi banyak artiannya yaitu dengan mulai mengetahui, menghormati, menghargai, mempelajari, dan mengaplikasikannya. Itulah seidikit cerita mengenai interaksi budaya dari tanah yang mempunyai banyak keramahannya, bumi Raflesia, Bengkulu Indah. ARNZ

Minggu, 21 Oktober 2012

SPOOLASI ALUMNI (i n t e r a k s i b u d a y a)

B aru-baru ini Saya mendapatkan masalah yang cukup melelahkan Saya dalam bagaimana Saya memecahkan masalah tersebut. Kurang lebih sekitar tiga Minggu yang lalu permasalahan Saya tersebut bermulai. Ketika kendaraan sehari-hari Saya yang setiap harinya Saya gunakan dalam berkendara pulang pergi ke kampus mengalami permasalahan pada pengisian listriknya yang menyebabkan seluruh lampu-lampu, starter motor, dan klakson lumpuh. Pada akhirnya selama hampir dua Minggu susah payah Saya mencari suku cadang untuk memperbaiki masalah tersebut dan didapat, Saya pun dapat berkendara kembali ke kampus menggunakan motor Saya tersebut. Saya memang sangat tidak begitu mengenal komponen-komponen apa saja yang ada di tubuh sebuah kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor, atau lebih tepatnya skuter motor Saya. Namun tidak dapat ditolak lagi Saya mau-tidak-mau harus mengetahui sedikit banyaknya mengenai bagian-bagian motor Saya tersebut. Untuk itulah Saya mulai bertanya kepada kakak laki-laki Saya yang punya pengalaman sendiri mengenai motor. Dari situlah Saya dapat mengetahui bahwa permasalahan pada pengisian motor Saya dan sedikit-sedikit Saya pun jadi belajar mengenai isi-isi motor Saya. Dan diketahui bahwa permasalahan pada motor Saya tersebut adalah pada spoolasi motor. Mungkin bagi kebanyakan orang yang mengetahui isi-isi pada motor akan mudah mengetahui permasalahan pada kendaraannya tersebut. Lain halnya dengan Saya yang hanya tau tentang menggunakan, mengendarai, dan merawat motor secara sederhana. Beruntungnya, melalui pengetahuan dari kakak laki-laki Saya tersebut yang menjelaskan dengan secara sederhana mengenai spoolasi motor, ia mendeskripsikan dengan kegiatan sehari-hari yang biasa orang kerjakan. Ia menjelaskan bahwa spoolasi motor tersebut seperti “saat kita madi, apabila bak penampungan air dalam kamar mandi digunakan tanpa diisi, maka air di dalam penampungan air tersebut akan habis. Akan tetapi lain ceritanya apabila saat kita mandi keran air tetap menyala, maka walaupun kita mandi air di dalam penampungan air tidak akan habis karena air terus terisi saat kita mandi.” Begitulah bagaimana Saya tau tentang cara kerja alat spoolasi motor tersebut. Spoolasi memberikan suplai listrik kepada aki yang dilambangkan pada analogi di atas sebagai penampungan air, sedangkan spool sebagai keran air yang menyala, jadi apabila spool tidak berfungsi maka aki pun akan lumpuh, dan menyebabkan pelistrikan pada motor mati. Memikirkan hal tersebut, Saya pun kembali menggunakan prinsip cara kerja spool motor tersebut dalam kehidupan berinteraksi Saya dalam organisasi di kampus yang Saya ikuti. Sebagai aktifis organisasi di kampus, Saya mempunyai suatu beban moral untuk belajar lebih dari Saya sebagai mahasiswa saja. Karena hal tersebutlah Saya mau-tidak-mau mencari tahu dan belajar lebih dalam mengatasi permasalahan yang ada pada organisasi. Setahun Saya mengikuti kegiatan yang ada pada organisasi kampus yang Saya ikuti, tidak dapat dipungkiri permasalahan yang ada pada tubuh organisasi sangat rumit, dan terkadang terjadi situasi yang saling silih tegang. Namun pada akhirnya dapat dipecahkan dengan kepala dingin dan bersolusi. Salah satu cara yang Saya gunakan dalam memecahkan permasalahan yang ada di dalam organisasi yaitu dengan bertanya dan bertanya selain berdasarkan dengan landasan-landasan organisasi yang ada. Sosok yang Saya tanyakan adalah alumni-alumni. Alasan Saya memilih alumni untuk mendapatkan saran, masukan, dan solusi dalam memecahkan masalah yang ada pada organisasi dikarenakan sebagai alumni di mind set Saya beranggapan bahwa mereka lebih luas dan lebih banyak pengalamannya pada saat-saat mereka ada di posisi yang sama seperti Saya saat ada masalah pada organisasi dan harus dipecahkan. Sebenarnya ada pembina dan penasihat pada suatu organisasi yang dapat ditanyai untuk memecahkan suatu masalah yang ada pada di organisasi yang Saya masih ikuti sampai sekarang ini. Namun waktu yang Saya harus atur untuk bertanya dan sikap serta keterbatasan dalam penyampaian masalah-masalah yang ada haruslah formal. Beda dengan alumni yang Saya bisa dengan secara informal bertemu disuatu tempat dan sangat flexible dalam masalah waktu untuk memperbincangkan masalah tersebut. Menganalogikannya dengan prinsip spool pada motor, maka alumni pun bisa disamakan seperti spool bagi Saya. Kenapa ? karena melalui alumni-alumni Saya bisa dapat mendapatkan banyak ilmu, saran, masukan, dan tawaran-tawran solusi yang mereka berikan sebagai cara Saya dalam memecahkan permasalahan dalam tubuh organisasi secara tak henti-henti, lebih banyak, dan yang terpenting ilmu bagi Saya sendiri. Bagi Saya, Saya menganalogikan diri sendiri sebagai aki pada motor, dimana Saya menampung berbagai saran-saran, masukan-masukan dan ilmu-ilmu dari pengalaman alumni yang lalu yang memungkinkan Saya dengan efisien dalam memecahkan permasalahan yang ada. Namun Saya pun selalu melihat pada sisi positif dan negatif dari hal tersebut, karena Saya pun harus selektif dalam menerima aliran listrik yang dilambangkan sebagai saran-saran dan lain-lain tersebut dalam memecahkan permasalahan yang ada. Seperti permasalahan yang belum lama terjadi pada organisasi Saya ini yaitu permasalahan mengenai status kenaggotaan. Dimana ada beberapa anggota yang merasa dirinya pernah terdaftar sebagai anggota, namun ada beberapa pula anggota yang memang sudah kukuh sebagai anggota menganggap beberapa anggota tersebut belumlah kukuh sebagai anggota. Setelah itu terjadilah ketegangan mengenai hal tersebut. Parahnya ketegangan tersebut diluapkan oleh anggota yang tidak terima tersebut akan statusnya yang dianggap oleh beberapa anggota bahwa mereka belum kukuh lewat jejaring sosial twitter. Bukannya menyampaikan ketidakterimaan anggota tersebut yang dapat dikatakan sakit hati dengan etiket yang ada dalam bersosial media dengan media sosial elektronik maya dengan santun, parahnya sebaliknya, mereka melakukannya dengan cara menegatifkan. Tanpa disadari dengan sifat jejaring sosial tersebut yang tidak dapat dikontrol bagi penggunanya dan akses yang mudah, hal tersebut diketahui oleh alumni. Alumni yang mengetahui bahwa pada jejearing sosial tersebut bukan hanya anggota-anggota organisasi ini yang ada, namun banyak orang-orang lain bahkan orang-orang dari organisasi kampus yang sama merasa resah akan jatuhnya nama baik organisasi. Yang memperparah keadaan menjadi lebih parah, anggota-anggota tersebut membawa nama organisasi yang dinegatifkannya. Hal tersebutlah yang membuat semua anggota dan alumni tambah resah dan tidak mungkin terjadi kemarahan. Untuk menegahi hal tersebut, maka Saya mengambil langkah awal dengan menyampaikan masalah tersebut ke alumni yang Saya mempunyai anggapan bahwa alumni mempunyai segudang pengalaman dengan permasalahan yang pernah ada pada organisasi, meskipun masalah tersebut baru pertama. Hanya dengan bertemu di sebuah warung kopi, alumni yang rata-rata sudah bekerja dapat ditemui pada jam-jam malam. Suatu kekurangan yang Saya harus korbankan untuk dapat meluangkan waktu lebih lama dari biasanya untuk mendapatkan saran untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan membagikan keilmuannya berdasarkan pengalaman yang pernah dialami oleh alumni-alumni saat mengahadapi dan menyelesaikan permasalahan yang ada, maka spoolasi alumni pun berjalan. Sebagai “akinya” Saya hanya perlu selektif untuk menerima saran-saran dan masukan-masukan untuk akhirnya Saya bisa menemukan solusi yang baik dan memecahkan masalah tersebut. Bersama dengan anggota-anggota lain, Saya memusyawarahkan masalah tersebut dengan apa yang telah Saya pelajari dari alumni. Hasil dari keputusannya adalah dengan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan memanggil anggota tersebut untuk selanjutnya diproses berdasarkan keputusan yang diambil secara mufakat berasaskan landasan-landasan dan peraturan-peraturan organisasi yang ada dalam memperkuat organisasi. Alumni sebagai anggota yang telah lulus terlebih dahulu yang membawa segenap banyak kenangan dalam memecahkan permasalah yang ada pada organisasi saat mereka berorganisasi, dapat menjadi tempat yang paling efektif dalan mencari saran-saran bagi anggota yang sekarang seperti halnya seperti Saya. Bagi Saya alumni sebagai spool dan spoolasi dalam mentransfer ilmu tentang organisasi yang masih Saya ikuti sampai sekarang. Dan bagi Saya juga, setelah lulusnya Saya dari organisasi yang Saya ikuti yang berarti lulusnya juga Saya dari kampus Saya, Saya pun akan memposisikan diri Saya nanti sebagai alumni sebagai spool motor dan spoolasi kepada anggota yang nanti mencari seputar saran-saran, masukan-masukan, dan solusi-solusi dalam memecahkan permasalahan yang ada nantinya. Karena permasalahan tidak ada hentinya. Pentingnya roda perputaran dalam mentransfer pengalaman yang sudah dienyam oleh alumni-alumni kepada seluruh anggota-anggota sama pentingnya seperti penyaluran listrik oleh spool motor kepada aki dan kepada seluruh komponen pelistrikan yang ada di motor. Namun meskipun demikian haruslah mencari “aki” (anggota) yang dapat selektif menerima spoolasi saran-saran dari alumni. Hubungannya dengan interaksi budaya pada hal ini adalah transfer pengalaman yang diberikan oleh alumni merupakan suatu bentuk saling aksi budaya pengalaman dari pengalaman dulu yang dipilih secara selektif dan relevan dengan permasalahan yang sekarang. Dengan demikian proses interaksi budaya yang terpisah waktu terjadi, hanya saja kita perlu melakukan seleksi terhadap hal-hal yang relevan untuk digunakan pada saat ini sehingga permasalahan dipecahkan secara kekinian.arnz

Selasa, 12 Juni 2012

Kpeariwisataan (kesimpulan)

KESIMPULAN Teater merupakan sebua kesenian kompleks karena melibatkan banyak unsur kesenian yang dipadukan menjadi sebuah pertunjukan dengan cerita yang menarik yang dikonsep oleh sutradaranya agar apa yang ingin disampaikan naskah oleh penulisnya dapat disampaikan secara baik kepada penontonnya. Selain sebuah bentuk kesenian dan kebudayaan teater merupakan sebuah tatanan organisasi yang kompleks untuk membangun sebuah pementasan yang melibatkan orang banyak. Terdiri atas dua bagian dalam menciptakan sebuah pementasan pada teater. Yaitu ; tim penyutradaraan dan tim produksi. Di dalam tim penyutradaraan terdapat actor dan sutradara yang membawakan cerita dalam naskha dan bertugas menyampaikan isi cerita sedangkan tim produksi merupakan sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang siap sedia di belakang panggung selama proses maupun saat pementasan yang fungsinya mendukung penuh pemain dan sutradara di atas panggung untuk segala keperluan yang diperlukan dalam naskah. Dilihat dari kacamata pariwisata teater awalnya memang terlihat seperti sebuah pertunjukan biasa saja yang dilakukan oleh beberapa orang saja dan lewat begitu saja yang maksud artinya pentas setelah itu selesai. Namun apabila kita lihat bagaimana teater memadukan banyak unsur kesenian yang ada, bukan hal yang mustahil apabila teater dapat dijadikan sebuah objek wisata hiburan di sisi budaya dan kesenian dan dapat juga mendatangkan keuntungan (profit). Mengapa demikian ? disebabkan teater menciptakan sebuah tontonan pertunjukan yang mampu menarik perhatian masa yang sangat besar apabila sebuah pertunjukan tersebut dapat dilaksanakan dengan sangat baik. Pariwisata sendiri berarti jalan-jalan sambil berkunjung yang dilakukan oleh seseorang. Dan kebetulan juga pertunjukan sebuah teater dapat dilakukan di luar (outdoor) dan pariwisata pun terjdi bagi mereka yang melintas di area pementasan tersebut dan tanpa tidak disengaja menyaksikan pertunjukan teater tersebut berlangsung. Artinya, teater memberikan objek wisata bagi setiap orang-orang yang lewat dan menyaksikannya, dan orang-orang tersebut dapat dianggap sebagai wisatawan. Jadi, teater layak dijadikan sebuah objek pariwisata karena dapat menarik banyak penonton yang penasaran akan bentuk kesenian teater dan ingin menyaksikan sebuah pertunjukan hiburan dari pementasan teater. Teater dapat dipentaskan untuk menarik orang-orang banyak untuk datang dan menyaksikan pertunjukan teater tersebut apabila kesadaran untuk menjaga nilai-nilai dan melestarikan kesenian dan kebudayan bagi setiap penerus bangsa dapat selalu dipertahankan. Sebuah pertunjukan merupakan sebuah proses yang sangat memiliki nilai pembelajaran bagi setiap manusia yang terlibat di dalamnya, tidak hanya belajar tentang kesenian namun juga beorganisasi, dengan organisasi kepariwisataan dapat diterapkan dalam berteater dengan mempertunjukan kesenian dengan menjaring masyarakat umum yang butuh hibran tentu saja dengan menyajikan sebuah pertunjukan yang menarik pula. “teater adalah kehidupan karena peran yang kita mainkan di dalamnya merupakan bagian dari kehidupan sebenarnya dalam hidup kita di luar panggung.” DAFTAR PUSTAKA Wikipedia.com Hamzah Adjib A., Pengantar Bermain Drama, CV Rosda, Bandung. Noer C. Arifin, Teater Tanpa Masa Silam, DKJ, Jakarta, 2005. Iman Sholeh & Rik Rik El Saptaria, Module Workshop Keaktoran Festamasio 3, TGM, Yogyakarta, 2005