Entri Populer

Senin, 01 Juli 2013

Puisi Judul "Semestinya" Karya: Ade A.D.

SEMESTINYA


Andai aku bisa walau hanya sekedar untuk memohon;
menggenggam tangannya;
malam tadi;
aku kan bahagia;
Kurindu dia yang selalu buatku bisa selalu tersenyum;
walau ku tak ingin;
Bertemu dengannya;
kedua mata ini ingin cepat-cepat bertemu kedua matanya;
Senyumnya yang selalu kuperhatikan;
tak akan pernah kualihkan meski sekejap untuk berkedip;
Cantiknya dia berusaha menggodaku;
tuk kuucap;
kau cantik paras dan hatimu;
Seluruhnya ku hanya tau kuingin tau cara menyayangimu;
meski semua tak semestinya;
Dia yang kini kuletakkan dalam hati;
iri ku selalu ingin berharap bisa bertemu setiap hari;
Malam tadi;
isyarat hati telah kusampaikan meski tak semestinya;
Malam tadi;
andai ku tak juga merasa menyakiti;
ku sangat ingin juga memeluk dirimu;
dan kukatakan;
aku sayang padamu

Tgs ke 5 (Penerjemahan Khusus)_Akta Kelahiran


Afan. :01234/A
Tgl.29-6-2013.-

R E C O R D K E E P I N G O F C I V I L
(NATIONALITY OF INDONESIA)

C I T A T I O N
A C T O F B I R T H

No. 1234/PJ/2013.

From time-----Table-----of birth according to the Stbld-----1990 No. 571. Yo.20 1997 No.465.---in Jakarta emerged that in Jakarta in date of-----twenty ninth January-----two thousand and third teen-----was born :-----“GIFARI FATWA”-----the son of husband-wife : YUSUF FATWA and LALA LAIYU.------------------------------------------------------------------

-----000----

This citation is coincided with the time of today.
Jakarta, date of twenty fifth February-----two thousand and third teen-----



The Head Officer of Civil Record
Central of Jakarta,


ARYA DWIGUNA, S.S
NIP/NRK: 345600876/60987





Tugas mata kuliah PENERJEMAHAN KHUSUS
Tugas 5 : Contoh Akta Kelahiran (dalam bahasa Inggris)
Nama : Ade Arya Dwiguna
NPM : 11609016
Kelas : 4SA 01
UNIVERSITAS GUNADARMA

Rabu, 24 April 2013

Model Legal Dokumen (Kartu Keluarga) Dalam Bahasa Inggris

FAMILY REGISTERS
No. XXXXXXXXXXXXXXXX


Name of Head of Family : Arya
District : Bogor
Address : Jl. Cinta Blok 1/Hati No.1
City : Bogor
RT/RW : 01/02
Postal Code : 16961
Village Administrative Unit : Gn. Putri
Province : West Java

(In column 1 (one))
1. No (Number)
2. Full Name
3. Citizen Number
4. Sex
5. City of Birth
6. Date of Birth
7. Religion
8. Education
9. Occupation

(In column 2 (two))
1. Marital status
2. Relation
3. Nationality
(Immigration Document)
4. Passport number
5. KI TA/KI TAP
(Parents)
6. Father
7. Mother

Issued on 29-05-2014
Head of Family District Head
Signed Signed
Copy I. Head Family
Copy II. RT
Copy III. Sub District
Copy IV. District

Tugas mata kuliah PENERJEMAHAN KHUSUS
Tugas 3 : Contoh Kartu Keluarga (dalam bahasa Inggris)
Nama : Ade Arya Dwiguna
NPM : 11609016
Kelas : 4SA 01
UNIVERSITAS GUNADARMA

Model Ijazah SMA dalam Bahasa Inggirs

NATIONAL DEPARTMENT OF EDUCATION
REPUBLIC OF INDONESIA


GENERAL CERTIFICATE OF EDUCATION
HIGH SCHOOL
STUDY PROGRAM OF SCIENE/SOCIAL
SCHOOL YEAR 2011/2012


The undersigned below, Head Master of high school SMAN 2 Cibinong explain if :

Name : Arreyanezz Dwiguna
City & Birt of Date : Jakarta, November 14th 1993
Parent’s Name : Arya
Origin School : SMAN 2 Cibinong
Major Number : xxxx.xxxx.xxxx.xxxx.xxxx
Participants Number :xxxx.xxxx.xxxx.xxxx.xxxx



PASSED

From unit of education pursuant to national test result and general examination And also have fulfilled a criterion as according to law of statue.





Tugas mata kuliah PENERJEMAHAN KHUSUS
Tugas 2 : Contoh Ijazah SMA (dalam bahasa Inggris)
Nama : Ade Arya Dwiguna
NPM : 11609016
Kelas : 4SA 01
UNIVERSITAS GUNADARMA

Senin, 11 Maret 2013

Tulisan Puisi


SENJA ITU

Tak bisa kudendangkan kembali lagu ini;
Kemarin ku tak datang tak berarti hujan;
Hati nan rapuh kurela terukir dengan luka;
Kemarin ku tak sampai tak berarti berai;

Kau menatapiku
Seperti seseorang
Yang tak ku kenal
Senja itu

Ku menyambangimu
Seperti bunga setia
Yang merunduk
Dikala senja itu


Nama : Ade Arya Dwiguna
Kelas/NPM : 4SA01/11609016
Tugas Mata kuliah : Penerjemahan Khusus (Softskill)
Tugas Tulisan : Puisi
Genre : Cinta
Karya : Arya

Model KTP Dalam Bahasa Inggris


WEST JAVA PROVINCE
(PROVINSI JAWA BARAT)

DISTRICT OF BOGOR
(KABUPATEN BOGOR)

SERIAL REGISTER NUMBER : XXXX XXXX XXXX XXXX XXXX XXXX
(N.I.K)
NAME (NAMA) : ARREYANEZZ DWIGUNA
CITY/BIRTH OF DATE : JAKARTA/NOVEMBER 14th 1991
(TEMPAT TANGGAL LAHIR)
SEX (JENIS KELAMIN) : FEMALE/MALE (PEREMPUAN/LAKI-LAKI)
ADDRESS (ALAMAT) : JL. CINTA SATU NO. 1
RT/RW (RT/RW) : 01/01

SUBDISTRICT (KECAMATAN) : BUKIT CINTA
COUNTRY (KELURAHAN) : BUKIT CINTA
REGENCY (KOTA MADYA) : BOGOR

NATIONALLITY : INDONESIA
(KEWARGANEGARAAN)
RELIGION (AGAMA) : MOSLEM (ISLAM)
OCCUPATION (PEKERJAAN) : STUDENT (PELAJAR/MAHASISWA)
MARITAL STATUS : MARRIED (MENIKAH)
(STATUS PERKAWINAN)
BLOOD TYPE : O
(GOLONGAN DARAH)

EXPIRY (BERLAKU HINGGA) : NOVEMBER 14th 2017

SIGNATURE/FINGERPRINT
(TANDATANGAN/CAP JARI)



HEAD OF VILLAGE
KEPALA DESA)


M. RIZAL


Tugas mata kuliah PENERJEMAHAN KHUSUS
Tugas 1 : Kartu Tanda Penduduk
Nama : Ade Arya Dwiguna
NPM : 11609016
Kelas : 4SA 01
UNIVERSITAS GUNADARMA

Minggu, 06 Januari 2013

DEGRADASI BUDAYA BERMORAL I N T E R A K S I B U D A Y A Kebiasaan yang kerap kali menjadi peraturan diri sendiri untuk setiap orang bisa berarti bermacam-macam. Namun pada kebanyakannya hanya dua kemungkinan arah hasil dari kebiasaan tersebut yaitu, menjadi sesuatu hal yang negatif dan atau bisa juga menjadi sesuatu hal yang positif. Akan tetapi selama yang pernah dialami kebanyakan orang hal tersebut hanya berubah menjadi sesuatu hal yang positif bagi dirinya sendiri sebab itu merupakan hal yang biasa untuknya. Namun akan negatif apabila penerapannya untuk kolektif atau bukan untuk dirinya sendiri. Berkaca dari fenomena selepas libur pergantian tahun atau perkuliahan selepas Ujian Tengah Semester (UTS) di kampus Saya, benar saja sigma kehadiran mahasiswa di kelas anjlok ketimbang saat UTS atau sebelum libur tahun baru. Hal ini sudah terjadi selama lebih dari tiga tahun Saya menempuh penididikan di kampus. Kebiasaan yang selalu terulang dan diulang setiap tahunnya dan bisa menjadi sebuah budaya bagi mayoritas mahasiswa untuk berjamaah melepas moralnya sebagai mahasiswa yang dituntut untuk hadir saat jadwal perkuliahan sesuai dengan waktunya. Kebiasaan ketidakhadiran atau keterlambatan mahasiswa akibat kebiasaan fenomena di atas sebenarnya maklum apabila kerap terjadi setiap tahunnya apabila mempunyai batasan moral jika juga saja mahasiswa sadar akan tanggung jawabnya. Namun hal tersebut justru terbalik hampir 360 derajat, malah hal tersebut dijadikan mahasiswa yang sudah senior sebagai turunan budaya yang diinteraksikan kepada mahasiswa-mahasiswa junior untuk melestarikan budaya malas masuk kuliah setelah libur atau selepas UTS. Inilah yang dimaksud dengan mal-fungsi interaksi budaya, atau dengan kata lain adalah turunan budaya yang negatif. Dan kebiasaan akan hal ini hanya menghasilkan stigma yang negatif tentunya bagi moral setiap mahasiswa yang mempunyai kewajiban untuk datang saat jadwal kuliah yang sudah ditetapkan jurusannya masing-masing. Dan juga tentu saja akreditasi kampus, jurusan, dan mahasiswa-mahasiswa tersebut yang memandangnya akan mengapresiasi tidak baik, dan lebih parah sebab saran tersebut hanya bebel bagi mahasiswa untuk kembali untuk tidak merubah kebiasaan buruk itu. Menengok ke arah kegiatan mahasiswa yang positif dan masih di bawah naungan kampus di luar kelas yang pada umumnya disenangi oleh mahasiswa, yaitu kegiatan ekstrakulikuler mahasiswa dalam format Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) apapun kawasan kegiatannya. Kalau kita hanya menengok dari kulitnya saja, kita melihat mahasiswa-mahasiswa tersebut yang dengan seragam kebanggaan ORMAWA mereka masing-masing sangat giat saat melangsungkan suatu kegiatan. Kekompakan terlihat dan teamwork seolah berjalan sempurna sehingga suatu kegiatan positif mendapat apresiasi yang sangat positif bagi warga di lingkungan kampus pada umumnya. Hal tersebut ada benarnya. Namun apabila kita dapat menengok ke dalam, mahasiswa-mahasiswa yang terlihat sangat menguasai tanggung jawabnya sebagai bagian dari ORMAWA kampus dalam melangsungkan sebuah acara/kegiatan, pada saat pra-kegiatan dan pasca-kegiatan, meraka belumlah tentu seapik saat mereka di kegiatannya. Mengapa? Hal ini disebabkan lagi-lagi akan moral mereka sebagai pribadi yang tidak memperhatikan kedisiplinan yang sama halnya seperti mahasiswa yang menghadapi UTS. Mereka tidak disiplin saat pra-UTS dan pasca-UTS yang menyebabkan budaya mereka budaya instant untuk dalam menghadapi UTS dan setelah UTS. Menengok kegiatan ekstrakulikuler yang Saya ikuti di kampus Saya, Saya sangat merasakan kedua perbandingan di atas yang memiliki kesamaan yang tidak ada bedanya alias sama saja. Sebagai contoh yang ingin Saya tulis dalam tulisan ini adalah saat akan melangsungkan sebuah acara. Kebiasaan selalu sama setiap suatu acar akan dilangsungkan. Selama dua tahun Saya berorganisasi di ORMAWA ini, kasusnya selalu sama. Yaitu masalah akan kedisiplinan dan tanggung jawab moral. Pada dasarnya kegiatan-kegiatan yang selalu dilaksanakan pada ORMAWA yang Saya ikuti ini memiliki tiga tahapan secara umum untuk menyuskeskan suatu acara berdasarkan pengamatan Saya secara langsung. Yang pertama adalah tahapan pra-kegiatan. Pada tahapan ini dimana kedisiplinan sangat-sangat dibutuhkan bagi setiap sektornya/seksi. Karena di tahapan ini semua yang terlibat dalam kegiatan dibutuhkan kehadirannya untuk membahas hal-hal yang sifatnya baik non-tekhnis dan tekhnis saat kegiatan berlangsung yang dilaksanakan dengan format formal yaitu rapat. Namun pada tahapan ini hal tersebut sangat jauh dari kata kompak. Tahapan selanjutnya setalah pra-kegiatan adalan kegiatan. Dimana segala sesuatu yang sifatnya administratif atau hal non-tekhnis telah berlangsung dan tiba saatnya kekompakan tim penyelenggara acara dibutuhkan. Dan fenomena terjadi pada tahapan ini. Yaitu ketidakkekompakan saat tahapan pra-produksi lenyap begitu saja, prilaku-prilaku ego lenyap di setiap diri masing-masing. Dan alhasil sukses acara dan apresiasi yang didapat bernilai positif. Namun disinilah tahap yang mengagetkan setelah tahapan kegiatan berlangsung. Yaitu kegiatan yang seharusnya sangat-sangat harus mendapat suatu perhatian yang sangat lebih setelah kegiatan bubar, karena tahapan ini merupakan evaluasi untuk menatap proses kegiatan-kegiatan selanjutnya yang lebih baik dan matang. Mungkin sebuah alasan terucap yaitu; “Kita sudah sukses!” Hal tersebut sangatlah sangat-sangat salah kaprah. Sebab pada saat evaluasi saat itulah penilaian yang sebenarnya apakah suatu kegiatan tersebut baik tau tidak karena semua sisi akan mendapat dinilai. Tahapan inilah yang sangat parah. Saat kegiatan pasca-kegiatan yang tertuang dalam rapat evalusi kebanyakan panitia acara bubar sebubarnya acara pula. Inilah masalah yang terus terulang. Sehingga suatu kegiatan hanya lewat begitu saja. Dari kedua perbandingan yang berbanding lurus di atas, Saya menyimpulkan bahwa ini merupakan suatu budaya dari setiap pribadi yang salah mengfungsikan kedisiplinan dan moran serta tanggung jawab bagi mereka sendiri bukan untuk orang lain. Dalam berkehidupan menjalankan diri sebagai titel mahasiswa, mahasiswa harus disiplin belajar, ujian dan evaluasi. Dan dalam berkehidupan menjalankan diri sebaga titel aktivis organisasi kampus, mahasiswa harus disiplin berkegiatan, berkegiatan dan evaluasi. Keduanya mempunyai proses yang sama, dan secara pengamatan Saya keduanya selalu bermasalah pada tahapan proses yang sama. Yaitu saat setelah ujian terlaksana. Sebuah kegagalan atau mal-fungsi dari sikap setiap individu yang membiarkan dirinya lepas tanggung jawabnya sesaat setelah melewati suatu hal yang dianggap tanggung jawabnya sudah selesai. Seperti mahasiswa setelah UTS yah selesai, dan seperti mahasiswa aktivis kampus setalah berkegiatan yah selesai tanggung jawabnya dan bubar sebubarnya acara. Kegua hal tersebut sangatlah jauh dari kata bermoral. Searusnya setalah melampaui suatu hal yang akan menjadi hal pembelajaran di masa yang akan datang, apabila kita ingin memiliki moral yang bertanggung jawab dan disiplin dikemudian hari, hendaknya kita menanamkan budaya moral yang tinggi kepada diri kita masing-masing supaya tanggung jawab moral dengan apa yang telah kita lakukan terpenuhi dan akan selalu menjadi pembelajaran yang positif dan menginteraksikan budaya diri kita yang mempunyai moral itu terhadap lingkungan sekitar kiat, dan berdoa akan membuat suatu peradaban atau perubahan yang baik, positif, dan tentunya yang bermoral. Arnz

Minggu, 28 Oktober 2012

BERINTERAKSI DI BUMI RAFLESIA BENGKULU I N T E R A K S I B U D A Y A

Mungkin kegiatan “home stay” yang sangat efektif untuk seseorang meletakkan diri sebagai objek dalam melakukan aktifitas berinteraksi budaya. Karenanya hal tersebut seseorang akan bertukar tempat dari suatu lingkungan budaya yang lama dengan budaya yang baru saat seseorang ber-homestay. Home stay yang berarti mendiami atau berada di lingkungan keluarga dengan orang-orang lain (baru) merupakan suatu hal yang teramat baik untuk berinteraksi budaya bahkan dalam hal mempelajari suatu budaya baru, jadi tidak hanya bertukar budaya baik secara verbal atau non-verbal, tetapi juga mendapatkan pelajaran baru, entah itu budaya secara keilmuan, moral, norma, atau etos hidup keseharian (kerja). Biasanya home stay adalah perpindahan atau tukar tempat antar Negara, sebab itulah disebut sangat efektif dalam mempelajari interaksi budaya. Bagi seorang mahasiswa sangat mungkin melakukan hal itu dengan cara yang beragam. Misal, kuliah beasiswa ke luar negeri, dan akhirnya tinggal di sana dan mempelajari budaya baru di sana, atau pertukaran pelajar (mahasiswa). Namun, jujur Saya sebagai mahasiswa belum pernah ke luar negeri. Maksimal saya ke luar negeri melalui media cetak dan elektronik (buku dan televisi). Namun bukan berarti Saya atau setiap orang-orang pada umumnya, dan khususnya mahasiswa yang senasib seperti Saya ini tidak mungkin dapat berinteraksi budaya dikarenakan tidak dapat tembus ke luar tanah air. Yang bisa Saya amati dan sedikit pelajari tentang berinteraksi budaya, Saya tertarik dengan tradisi masyarakat kita yang terjadi dan dilakukan pada setiap harinya. Tepatnya setiap menjelang dan setelah tanggal 1 hijriah dalam kalender Islam. Ya, apalagi kalau bukan tradisi meninggalkan kampung halaman beramai-ramai, atau membahana istilahnya disebut sebagai mudik lebaran, atau istilah lainnya adalah pulang kampung. Disini Saya sedikit mencoba mempelajari seraya ingin mampu memahami fenomena tahunan tersebut dari kacamata interaksi budayanya. Yang sedikit Saya lihat dan amati pada fenomena tersebut adalah, bagaimana pulang kampung dapat dijadikan sebagai sarana berinteraksi budaya satu dengan yang satunya selain bersilahturahmi dengan sanak saudara pada umumnya. Saya mengambil peristiwa mudik tersebut karena memiliki hal yang sedikit atau banyaknya dengan home stay pada penjelasan di atas yang sangat memungkinkan interaksi budaya terjadi. Mengapa ? Karena home stay yang pada dasarnya adalah melakukan perpindahan (perjalanan), dan berdiam di suatu tempat yang baru (lain), maka mudik (pulang kampung) pun bisa juga menjadi salah satu cara untuk berinteraksi budaya. Dari sinilah kembali cerita Saya bermulai. Setahun yang lalu pada mudik lebaran tahun 1433 Hijriah, Saya yang berasal asli dari daerah asal kelahiran Saya yaitu Bogor, Jawa Barat, pada tahun tersebut Saya berpulang kampung ke tempat asal desa kelahiran Orang Tua Saya (Ayah) Saya, di desa Curup, Rejang Lebong, provinsi Bengkulu, Sumatera. Di sana direncanakan bila Saya akan menginap di rumah Kakek-Nenek Saya yang Alhamdulillah masih ada selama 5 hari berturut-turut. Setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan mobil pribadi serta memalui perjalanan panjang lintas provinsi selama 2 hari 2 malam, Saya pun dengan rombongan keluarga Saya tiba di desa Curup, Bengkulu pada dini hari. Setting rumah dari Orang Tua Ayah Saya merupakan rumah yang masih sangat tradisional. Berlantai kayu, berdinding kayu, beratap kayu, dan berpondasi serta bertiang-tiang kayu. Ya, di tempat tinggal semasa kecil Ayah Saya masih menggunakan rumah adat Bengkulu (rumah panggung). Kedatangan Saya sekaligus kedatangan rombongan keluarga Saya disambut dengan perasaan keluarga disana yang menanti kedatangan kami. Saya pun dalam keadaan setengah mengantuk, mendengar pembicaraan Ayah Saya dengan kakek-nenek Saya mulai menggunakan bahasa daerah setempat (bahasa Rejang). Walaupun mengantuk pembicaraan yang menggunakan nada agak tinggi tersebut membuat Saya mencoba untuk mengartikan arti dari percakapan tersebut walaupun sampai Saya menyerah Saya tidak dapat mengartikannya, meskipun samar-samar, hanya terlihat senyuman mereka saat bertemu. Kedatangan kami yang dini hari sontak membuat kami masih mengantuk, dan tanpa pikir panjang lagi kami pun semua yang baru datang langsung tertidur untuk beristirahat. Namun, selang beberapa jam Saya terlelap tidur, sekitar pukul 02.00 dini hari dari arah dapur terdengar suara-suara orang-orang sedang sibuk memasak. Benar saja, hampir sedikit lupa akibat kelelahan dalam perjalanan, kalau waktu itu masih hari berpuasa pada esok harinya. Dan akhirnya Saya pun tersadar bahwa beberapa keluarga Saya sedang menyiapkan santap sahur untuk berpuasa keesokan harinya. Terbangun pada keesokan harinya disaat matahari belum menderang, beberapa aktifitas di rumah panggung pun semakin ramai. Beberapa keluarga terlihat sudah mondar-mandir sibuk dengan aktifitasnya masing-masing di pagi hari yang masih dingin tersebut. Ada yang bersiap menuju ke kali untuk mandi pagi, ke kebun mencari kayu bakar, dan ada yang bersiap menuju ke kali dengan membawa cucian diember plastik. Dengan keadaan setengah terbangun, Saya pun dihampiri oleh paman Saya, yang biasa Saya panggil dengan sebutan om. Endeng. Kopi hitam sudah ditawarkannya kepada Saya dengan beberapa camilan khas Bengkulu yang sudah disiapkan. I N T E R A K S I B U D A Y A Di hari tersebut Saya mulai menyesuaikan diri sebelum Saya terkena efek dari “culture shock”. Gejala yang sama biasa dialami oleh setiap orang yang menempati suatu tempat baru seperti halnya home stay dan mudik. Culture shock merupakan gejala yang dialami seseorang di awal mendiami tempat baru yang biasanya diringi dengan rasa rindu terhadap rumah yang biasa ditempatinya. Biasanya ada yang bertahan dan tidak sedikit juga yang tidak, dan akhirnya mengalami kebosanan dan keterasingan dengan di tempat baru yang ia diami. Gejala culture shock tidak Saya alami sebab setalah 10 tahun tidak mudik ke Bengkulu, baru Saya kembali ke Kampung Saya ini. Jadi yang ada malah Saya rindu dengan suasana pedesaan yang kental masih terasa tradisionalnya, dan perasaan yang senang yang mengalami batin Saya. Di daerah tempat tinggal Kakek-Nenek Saya di Bengkulu, tidak hanya keluarga dari pihak keluarga Saya yang ramah menyambut kedatangan kami sekelurga dari Bogor melainkan tetangga-tetangga lain disekitar. Ini disebabkan dari pernyataan yang Saya dapat mengenai hal tersebut dari Ayah Saya ternyata jawabannya adalah karena satu dusun di daerah rumah Saya di Bengkulu tersebut adalah masih satu keluarga, jadi tidak heran apabila kedatangan kami disambut hangat dengan tetangga-tetangga lainnya. Selain penyambutan yang hangat dari tetangga-tetangga sekitar rumah, tradisi yang Saya ingat setiap kali Saya kembali ke kampung “Nek-Bi” (sebutan untuk Kakek dalam bahasa Rejang) ini, adalah tradisi memotong kambing, dan dagingnya dibagikan kepada seluruh tetangga sekitar dengan mengundang tetangga untuk turut serta makan di rumah Nek-Bi sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan di perjalanan hingga tiba di tempat tujuan. Dulu ketika Saya masih duduk di Sekolah Dasar, tradisi ini hingga sekarang masih dijaga dengan cara diterapkan terus-menerus. Keseharian hidup yang ramah dan semuanya adalah para pekerja keras merupakan suatu kebanggan Saya sendiri sebagai anak keturunan dari salah satu desa di Bengkulu. Walaupun kebanyakan dari bahasa mereka saat mencoba berinteraksi dengan Saya tidak Saya pahami namun melalui gesture tubuh dan isyarat membuat Saya mengerti maksud dari pembicaraan dengan bahasa tersebut. Ya, Saya sedikit agak sedih dikarenakan Saya yang mempunyai Orang Tua, Ayah dari Bengkulu, Ibu dari Yogyakarta, dan Saya lahir, besar di Bogor dari ketiga kota tersebut Saya tidak mampu mengusai ketiga bahasa daerah tersebut, dengan sebab yang Saya dan beberapa teman Saya pun mengherankan hal tersebut. Bahasa sebagai alat komunikasi berinteraksi setiap hari yang digunakan oleh semua anggota keluarga Saya di Bengkulu sangat membuat Saya semakin cinta dengan Negara Indonesia dengan keragaman bahasa dan bahasa Indonesia sebagai pemersatunya. Sebagaian anggota keluarga Saya di Bengkulu bisa berbahasa Indonesia, dan keponakan Saya yang masih duduk di bangku SMP, membantu Saya dalam mengerti bahasa Bengkulu di sana, untuk dapat berkomunikasi. Selain bahasanya yang menjadi warisan tak ternilai harganya, dan sebagai warisan Saya ingin memperlajarinya di lain kesempatan yang panjang. Salah satu aksara bahasanya yang dimuat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bahasa Rejang dari Bengkulu, dengan bahsa-bahasa daerah lainnya seperti aksara bahasa dari Yogyakarta dan bahasa Sunda dari tanah Sunda Jawa Barat. Mengetahui hal tersebut, kebanggaan Saya semakin lengkap, karena Saya hidup di tiga kota yang kesemuanya memiliki aksara bahasa, yang Saya juga sangat tertarik mempelajarinya di waktu lain yang panjang. Bahasa, tradisi, dan etos kerja keluarga Saya di Desa Curup Bengkulu membuat Saya kagum. Bahasanya yang suatu hari nanti harus bisa Saya pahami karena Saya adalah salah satu penerus dari keluarga Saya yang memiliki keturunan dari Desa dari provinsi yang dikenal pula dengan bunga Raflesia Arnoldinya. Tradisi, tradisi yang harus Saya dalami makna setiap tradisi yang Saya jumpai setiap kali Saya kembali ke Rumah Panggung tersebut karena Saya akan menjadi pewaris tradisi tersebut kelak. Dan etos kerja yang sangat luar biasa para pekerja kerasnya yang harus Saya teladani selepas Saya bergabung dalam lingkungan dunia kerja, mengingat Ayah Saya yang merantau merupakan suatu kerja keras yang patut diteladani di jaman serba keras dan cepat seperti sekarang ini. Memang cerita yang Saya tulis ini sedemikian rupa sepeti narasi dan lebih berat kepada lintas budanyanya. Namun terdapat pula unsur interaksi budayanya di dalam lintas budaya, itulah mengapa Saya tulis tulisan ini. Masyarakat di Desa Saya khususnya, orang-orangnya berinteraksi dengan siapapun akan selalu ramah. Memang nada-nada dalam setiap pembicaraan mereka agak sedikit tinggi namun itulah kekhasan masyarakat Desa Saya, bukan berarti kasar. Kekentalan bahasa di Desa Saya justru diaksen bahasa Rejang tersebut. Yang Saya artikan melambangkan nafas-nafas kerja keras mereka bersama dengan alam yang masih sangat alami di Desa Saya tersebut. Hal tersebut ditandai dengan aktifitas keseharian yang sangat tradisional dan mengandalkan alam, seperti memasak dengan bahan bakar berupa kayu bakar, mandi di sungai/kali, dan berladang. Yang dapat Saya pelajari selama menetap di sana dalam beberapa hari yaitu, bagaimana kita bisa mempertahankan posisi kita sebagai yang katakanlah asing di suatu lingkungan/tempat lain/baru. Mempertahankan posisi yang Saya maksud di sini adalah beradaptasi. Beradaptasi yaitu berinteraksi dengan semua hal yang bersesuaian dengan tempat di mana kita berada di lingkungan baru tersebut bukan hanya pada bahasa yang digunakannya. Berinteraksi banyak artiannya yaitu dengan mulai mengetahui, menghormati, menghargai, mempelajari, dan mengaplikasikannya. Itulah seidikit cerita mengenai interaksi budaya dari tanah yang mempunyai banyak keramahannya, bumi Raflesia, Bengkulu Indah. ARNZ

Minggu, 21 Oktober 2012

SPOOLASI ALUMNI (i n t e r a k s i b u d a y a)

B aru-baru ini Saya mendapatkan masalah yang cukup melelahkan Saya dalam bagaimana Saya memecahkan masalah tersebut. Kurang lebih sekitar tiga Minggu yang lalu permasalahan Saya tersebut bermulai. Ketika kendaraan sehari-hari Saya yang setiap harinya Saya gunakan dalam berkendara pulang pergi ke kampus mengalami permasalahan pada pengisian listriknya yang menyebabkan seluruh lampu-lampu, starter motor, dan klakson lumpuh. Pada akhirnya selama hampir dua Minggu susah payah Saya mencari suku cadang untuk memperbaiki masalah tersebut dan didapat, Saya pun dapat berkendara kembali ke kampus menggunakan motor Saya tersebut. Saya memang sangat tidak begitu mengenal komponen-komponen apa saja yang ada di tubuh sebuah kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor, atau lebih tepatnya skuter motor Saya. Namun tidak dapat ditolak lagi Saya mau-tidak-mau harus mengetahui sedikit banyaknya mengenai bagian-bagian motor Saya tersebut. Untuk itulah Saya mulai bertanya kepada kakak laki-laki Saya yang punya pengalaman sendiri mengenai motor. Dari situlah Saya dapat mengetahui bahwa permasalahan pada pengisian motor Saya dan sedikit-sedikit Saya pun jadi belajar mengenai isi-isi motor Saya. Dan diketahui bahwa permasalahan pada motor Saya tersebut adalah pada spoolasi motor. Mungkin bagi kebanyakan orang yang mengetahui isi-isi pada motor akan mudah mengetahui permasalahan pada kendaraannya tersebut. Lain halnya dengan Saya yang hanya tau tentang menggunakan, mengendarai, dan merawat motor secara sederhana. Beruntungnya, melalui pengetahuan dari kakak laki-laki Saya tersebut yang menjelaskan dengan secara sederhana mengenai spoolasi motor, ia mendeskripsikan dengan kegiatan sehari-hari yang biasa orang kerjakan. Ia menjelaskan bahwa spoolasi motor tersebut seperti “saat kita madi, apabila bak penampungan air dalam kamar mandi digunakan tanpa diisi, maka air di dalam penampungan air tersebut akan habis. Akan tetapi lain ceritanya apabila saat kita mandi keran air tetap menyala, maka walaupun kita mandi air di dalam penampungan air tidak akan habis karena air terus terisi saat kita mandi.” Begitulah bagaimana Saya tau tentang cara kerja alat spoolasi motor tersebut. Spoolasi memberikan suplai listrik kepada aki yang dilambangkan pada analogi di atas sebagai penampungan air, sedangkan spool sebagai keran air yang menyala, jadi apabila spool tidak berfungsi maka aki pun akan lumpuh, dan menyebabkan pelistrikan pada motor mati. Memikirkan hal tersebut, Saya pun kembali menggunakan prinsip cara kerja spool motor tersebut dalam kehidupan berinteraksi Saya dalam organisasi di kampus yang Saya ikuti. Sebagai aktifis organisasi di kampus, Saya mempunyai suatu beban moral untuk belajar lebih dari Saya sebagai mahasiswa saja. Karena hal tersebutlah Saya mau-tidak-mau mencari tahu dan belajar lebih dalam mengatasi permasalahan yang ada pada organisasi. Setahun Saya mengikuti kegiatan yang ada pada organisasi kampus yang Saya ikuti, tidak dapat dipungkiri permasalahan yang ada pada tubuh organisasi sangat rumit, dan terkadang terjadi situasi yang saling silih tegang. Namun pada akhirnya dapat dipecahkan dengan kepala dingin dan bersolusi. Salah satu cara yang Saya gunakan dalam memecahkan permasalahan yang ada di dalam organisasi yaitu dengan bertanya dan bertanya selain berdasarkan dengan landasan-landasan organisasi yang ada. Sosok yang Saya tanyakan adalah alumni-alumni. Alasan Saya memilih alumni untuk mendapatkan saran, masukan, dan solusi dalam memecahkan masalah yang ada pada organisasi dikarenakan sebagai alumni di mind set Saya beranggapan bahwa mereka lebih luas dan lebih banyak pengalamannya pada saat-saat mereka ada di posisi yang sama seperti Saya saat ada masalah pada organisasi dan harus dipecahkan. Sebenarnya ada pembina dan penasihat pada suatu organisasi yang dapat ditanyai untuk memecahkan suatu masalah yang ada pada di organisasi yang Saya masih ikuti sampai sekarang ini. Namun waktu yang Saya harus atur untuk bertanya dan sikap serta keterbatasan dalam penyampaian masalah-masalah yang ada haruslah formal. Beda dengan alumni yang Saya bisa dengan secara informal bertemu disuatu tempat dan sangat flexible dalam masalah waktu untuk memperbincangkan masalah tersebut. Menganalogikannya dengan prinsip spool pada motor, maka alumni pun bisa disamakan seperti spool bagi Saya. Kenapa ? karena melalui alumni-alumni Saya bisa dapat mendapatkan banyak ilmu, saran, masukan, dan tawaran-tawran solusi yang mereka berikan sebagai cara Saya dalam memecahkan permasalahan dalam tubuh organisasi secara tak henti-henti, lebih banyak, dan yang terpenting ilmu bagi Saya sendiri. Bagi Saya, Saya menganalogikan diri sendiri sebagai aki pada motor, dimana Saya menampung berbagai saran-saran, masukan-masukan dan ilmu-ilmu dari pengalaman alumni yang lalu yang memungkinkan Saya dengan efisien dalam memecahkan permasalahan yang ada. Namun Saya pun selalu melihat pada sisi positif dan negatif dari hal tersebut, karena Saya pun harus selektif dalam menerima aliran listrik yang dilambangkan sebagai saran-saran dan lain-lain tersebut dalam memecahkan permasalahan yang ada. Seperti permasalahan yang belum lama terjadi pada organisasi Saya ini yaitu permasalahan mengenai status kenaggotaan. Dimana ada beberapa anggota yang merasa dirinya pernah terdaftar sebagai anggota, namun ada beberapa pula anggota yang memang sudah kukuh sebagai anggota menganggap beberapa anggota tersebut belumlah kukuh sebagai anggota. Setelah itu terjadilah ketegangan mengenai hal tersebut. Parahnya ketegangan tersebut diluapkan oleh anggota yang tidak terima tersebut akan statusnya yang dianggap oleh beberapa anggota bahwa mereka belum kukuh lewat jejaring sosial twitter. Bukannya menyampaikan ketidakterimaan anggota tersebut yang dapat dikatakan sakit hati dengan etiket yang ada dalam bersosial media dengan media sosial elektronik maya dengan santun, parahnya sebaliknya, mereka melakukannya dengan cara menegatifkan. Tanpa disadari dengan sifat jejaring sosial tersebut yang tidak dapat dikontrol bagi penggunanya dan akses yang mudah, hal tersebut diketahui oleh alumni. Alumni yang mengetahui bahwa pada jejearing sosial tersebut bukan hanya anggota-anggota organisasi ini yang ada, namun banyak orang-orang lain bahkan orang-orang dari organisasi kampus yang sama merasa resah akan jatuhnya nama baik organisasi. Yang memperparah keadaan menjadi lebih parah, anggota-anggota tersebut membawa nama organisasi yang dinegatifkannya. Hal tersebutlah yang membuat semua anggota dan alumni tambah resah dan tidak mungkin terjadi kemarahan. Untuk menegahi hal tersebut, maka Saya mengambil langkah awal dengan menyampaikan masalah tersebut ke alumni yang Saya mempunyai anggapan bahwa alumni mempunyai segudang pengalaman dengan permasalahan yang pernah ada pada organisasi, meskipun masalah tersebut baru pertama. Hanya dengan bertemu di sebuah warung kopi, alumni yang rata-rata sudah bekerja dapat ditemui pada jam-jam malam. Suatu kekurangan yang Saya harus korbankan untuk dapat meluangkan waktu lebih lama dari biasanya untuk mendapatkan saran untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan membagikan keilmuannya berdasarkan pengalaman yang pernah dialami oleh alumni-alumni saat mengahadapi dan menyelesaikan permasalahan yang ada, maka spoolasi alumni pun berjalan. Sebagai “akinya” Saya hanya perlu selektif untuk menerima saran-saran dan masukan-masukan untuk akhirnya Saya bisa menemukan solusi yang baik dan memecahkan masalah tersebut. Bersama dengan anggota-anggota lain, Saya memusyawarahkan masalah tersebut dengan apa yang telah Saya pelajari dari alumni. Hasil dari keputusannya adalah dengan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan memanggil anggota tersebut untuk selanjutnya diproses berdasarkan keputusan yang diambil secara mufakat berasaskan landasan-landasan dan peraturan-peraturan organisasi yang ada dalam memperkuat organisasi. Alumni sebagai anggota yang telah lulus terlebih dahulu yang membawa segenap banyak kenangan dalam memecahkan permasalah yang ada pada organisasi saat mereka berorganisasi, dapat menjadi tempat yang paling efektif dalan mencari saran-saran bagi anggota yang sekarang seperti halnya seperti Saya. Bagi Saya alumni sebagai spool dan spoolasi dalam mentransfer ilmu tentang organisasi yang masih Saya ikuti sampai sekarang. Dan bagi Saya juga, setelah lulusnya Saya dari organisasi yang Saya ikuti yang berarti lulusnya juga Saya dari kampus Saya, Saya pun akan memposisikan diri Saya nanti sebagai alumni sebagai spool motor dan spoolasi kepada anggota yang nanti mencari seputar saran-saran, masukan-masukan, dan solusi-solusi dalam memecahkan permasalahan yang ada nantinya. Karena permasalahan tidak ada hentinya. Pentingnya roda perputaran dalam mentransfer pengalaman yang sudah dienyam oleh alumni-alumni kepada seluruh anggota-anggota sama pentingnya seperti penyaluran listrik oleh spool motor kepada aki dan kepada seluruh komponen pelistrikan yang ada di motor. Namun meskipun demikian haruslah mencari “aki” (anggota) yang dapat selektif menerima spoolasi saran-saran dari alumni. Hubungannya dengan interaksi budaya pada hal ini adalah transfer pengalaman yang diberikan oleh alumni merupakan suatu bentuk saling aksi budaya pengalaman dari pengalaman dulu yang dipilih secara selektif dan relevan dengan permasalahan yang sekarang. Dengan demikian proses interaksi budaya yang terpisah waktu terjadi, hanya saja kita perlu melakukan seleksi terhadap hal-hal yang relevan untuk digunakan pada saat ini sehingga permasalahan dipecahkan secara kekinian.arnz

Selasa, 12 Juni 2012

Kpeariwisataan (kesimpulan)

KESIMPULAN Teater merupakan sebua kesenian kompleks karena melibatkan banyak unsur kesenian yang dipadukan menjadi sebuah pertunjukan dengan cerita yang menarik yang dikonsep oleh sutradaranya agar apa yang ingin disampaikan naskah oleh penulisnya dapat disampaikan secara baik kepada penontonnya. Selain sebuah bentuk kesenian dan kebudayaan teater merupakan sebuah tatanan organisasi yang kompleks untuk membangun sebuah pementasan yang melibatkan orang banyak. Terdiri atas dua bagian dalam menciptakan sebuah pementasan pada teater. Yaitu ; tim penyutradaraan dan tim produksi. Di dalam tim penyutradaraan terdapat actor dan sutradara yang membawakan cerita dalam naskha dan bertugas menyampaikan isi cerita sedangkan tim produksi merupakan sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang siap sedia di belakang panggung selama proses maupun saat pementasan yang fungsinya mendukung penuh pemain dan sutradara di atas panggung untuk segala keperluan yang diperlukan dalam naskah. Dilihat dari kacamata pariwisata teater awalnya memang terlihat seperti sebuah pertunjukan biasa saja yang dilakukan oleh beberapa orang saja dan lewat begitu saja yang maksud artinya pentas setelah itu selesai. Namun apabila kita lihat bagaimana teater memadukan banyak unsur kesenian yang ada, bukan hal yang mustahil apabila teater dapat dijadikan sebuah objek wisata hiburan di sisi budaya dan kesenian dan dapat juga mendatangkan keuntungan (profit). Mengapa demikian ? disebabkan teater menciptakan sebuah tontonan pertunjukan yang mampu menarik perhatian masa yang sangat besar apabila sebuah pertunjukan tersebut dapat dilaksanakan dengan sangat baik. Pariwisata sendiri berarti jalan-jalan sambil berkunjung yang dilakukan oleh seseorang. Dan kebetulan juga pertunjukan sebuah teater dapat dilakukan di luar (outdoor) dan pariwisata pun terjdi bagi mereka yang melintas di area pementasan tersebut dan tanpa tidak disengaja menyaksikan pertunjukan teater tersebut berlangsung. Artinya, teater memberikan objek wisata bagi setiap orang-orang yang lewat dan menyaksikannya, dan orang-orang tersebut dapat dianggap sebagai wisatawan. Jadi, teater layak dijadikan sebuah objek pariwisata karena dapat menarik banyak penonton yang penasaran akan bentuk kesenian teater dan ingin menyaksikan sebuah pertunjukan hiburan dari pementasan teater. Teater dapat dipentaskan untuk menarik orang-orang banyak untuk datang dan menyaksikan pertunjukan teater tersebut apabila kesadaran untuk menjaga nilai-nilai dan melestarikan kesenian dan kebudayan bagi setiap penerus bangsa dapat selalu dipertahankan. Sebuah pertunjukan merupakan sebuah proses yang sangat memiliki nilai pembelajaran bagi setiap manusia yang terlibat di dalamnya, tidak hanya belajar tentang kesenian namun juga beorganisasi, dengan organisasi kepariwisataan dapat diterapkan dalam berteater dengan mempertunjukan kesenian dengan menjaring masyarakat umum yang butuh hibran tentu saja dengan menyajikan sebuah pertunjukan yang menarik pula. “teater adalah kehidupan karena peran yang kita mainkan di dalamnya merupakan bagian dari kehidupan sebenarnya dalam hidup kita di luar panggung.” DAFTAR PUSTAKA Wikipedia.com Hamzah Adjib A., Pengantar Bermain Drama, CV Rosda, Bandung. Noer C. Arifin, Teater Tanpa Masa Silam, DKJ, Jakarta, 2005. Iman Sholeh & Rik Rik El Saptaria, Module Workshop Keaktoran Festamasio 3, TGM, Yogyakarta, 2005

Kepariwisataan (isi 3) terusan

TEATER SEBAGAI ORGANISASI Proses Teater merupakan sebuah proses organisasi (bentuk kerja kolektif; dimana segala macam orang dengan segala macam fungsinya tergabung dalam suatu koordinasi yang rapih,dan juga mencakup juga pengertian sampai batas-batas yang sentimentil), seperti hal nya diri manusia itu sendiri, atau layaknya seperti sebuah negara. Keberhasilan suatu pertunjukan Teater dapat juga sebagai keberhasilan suatu seni organisasi; baik organisasi penyelenggaraannya (Panitia Produksi) maupun segi seni-seninya (Penyutradaraan, Penataan set, Permainan, Musik dan unsur-unsur lain). Berikut ini contoh Elemen dari sebuah Group Teater dalam mengadakan sebuah Produksi. - Pimpinan Produksi - Sekretaris Produksi - Keungan Produksi / Bendahara - Urusan Dokumentasi - Urusan Publikasi - Urusan Pendanaan - Urusan Ticketing atau karcis - Urusan Kesejahteraan - Urusan Perlengkapan - Sutradara - Art Director / Pimpinan Artistik - Stage Manager - Property Master - Penata Cahaya - Penata Kostum - Penata setting - Perias / Make Uper - Penata Cahaya - Penata Musik Setiap Elemen memiliki tugas sendiri-sendiri dan sudah seharusnya untuk bertanggungjawab penuh atas tugas itu (secara profesional). Sebagai Contoh seorang Urusan Pendanaan, ia harus memikirkan seberapa besar dana yang dibuhtuhkan? Dari mana dana itu didapatkan. Begitupula seorang Sutradara yang bertanggungjawab atas pola permainan panggung; (akting pemain, cahaya, bunyi-bunyian, set, property dan lain-lain). Jikalau kita memandang Elemen dalam Group Teater, ada kesamaan dengan elemen dalam tubuh kita sendiri; setiap organ tubuh memiliki fungsi sendiri, tetapi saling berhubungan dan tergabung dalam fungsi yang sempurna. Teater ibarat laboratorium kehidupan itu sendiri, seperti yang diungkapkan Peter Brook “Teater akan menjadi tempat yang indah bagi orang-orang yang mabuk dan kesepian, Teater merupakan sebuah tindak budaya, Teater bukanlah tempat untuk melarikan diri ataupun untuk mencari perlindungan”. Saat UKM teater kampus penulis (teater Tema Universitas Gunadarma) mengadakan sebuah pertunjukan teater selama dua hari-hari berturut-turut sebulan yang lalu dalam tim organisasi Saya berada dalam tim produksi tersebut, bukan sebagai pemain namun sebagai pimpinan produksi. Dengan dipercaya dan ditunjuk oleh para anggota lainnya untuk menjalankan pementasan tersebut jadilah Saya sebagai pimpinan produksi dalam pertunjukan maraton tersebut. Dengan hasil dari seluruh pemikiran terciptalah konsep pementasan 4 produksi dalam satu proses pertunjukan teater. Konsep yang diambil dalam pertunjukan tersebut merupakan perang naskah antara 2 naskah monolog berat dan 2 naskah drama realis dan surealis. Tidak itu saja kami pun mementaskan tari-tarian tradisional dan pertunjukan musik-musik tradisional. Sebagai seorang pimpinan produksi kala itu saya mengelola sumber daya yang ada dengan semaksimal mungkin. Dengan semangat berkesenian acara tersebut berlangsung sukses dan berhasil menarik perhatian pengunjung yang rata-rata terdiri dari mahasiswa kampus sendiri, kampus tetangga, kampus luar daerah, pelajar SMA Depok dan sekitarnya dan masyarakat umum lainnya yang rata-rata memiliki minat dalam berteater. Total jumlah pengunjung dalam pementasan kami tersebut mencapai kurang lebih 380 orang dengan rata-rata pengunjung perharinya sebanyak 190 orang. Dengan pencapaian tersebut penulis memikirkan bahwa bisa sebuah pertunjukan kesenian teater menjadi objek wisata ciptaan mahasiswa pada sisi kebudayaan dan kesenian. Teater yang melibatkan beberapa unsure seperti unsur musik, tari dan akting menjadi modal yang cukup untuk membuka peluang pariwisata bagi mahasiswa pencinta teater di mana pun. Awalnya memang teater bukan merupakan ajang mencari profit namun bagaimana sebuah pertunjukan seni diapresiasi oleh setiap penonton yang hadir dalam pertunjukan tersebut. Namun tidak menutup kemungkinan teater pun dapat menghasilkan apabila dikembangkan dan didukung oleh pihak-pihak yang mau membantu melestarikan dan menjaga nilai-nilai kebudayaan dan keseniaan yang ada khususnya teater yang ada di Indonesia di tingkat kampus.

Kepariwisataan (isi 2) terusan

SEJARAH TEATER Sejarah Teater Dunia Teater (bahasa Inggris: theater atau theatre, bahasa Perancis théâtre berasal dari kata theatron (θέατρον) dari bahasa Yunani, yang berarti "tempat untuk menonton"). Awalnya sendiri diperkenalkan pada kultus dyonisius,awalnya sebagai ritual upacara pengorbanan domba/lembu kepada Dyonisius dan nyanyian yang digunakan pada masa itu disebut "tragedi".dalam perkembangannya Dyonisius dewa yang berwujud hewan itu kemudian berubah menjadi manusia dan dipuja sebagai dewa anggur dan kesuburan. Adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, boneka, musik, tari dan lain-lain. Bernard Beckerman, kepala departemen drama di Universitas Hofstra, New York, dalam bukunya, Dynamics of Drama, mendefinisikan teater sebagai " yang terjadi ketika seorang manusia atau lebih, terisolasi dalam suatu waktu/atau ruang, menghadirkan diri mereka pada orang lain." Teater bisa juga berbentuk: ketoprak, ludruk, sandiwara (radio, televisi),opera, ballet, mime, kabuki, pertunjukan boneka, tari India klasik, Kunqu, mummers play, improvisasi performance serta pantomim. (Wikipedia.Com) Bentuk-bentuk pertunjukan teater di sebutkan di atas merupakan pertunjuka teater yang umum di pertunjukan. Namun yang akan penulis bahas adalah bagaimana mahasiswa/pelajar membuat sebuah pertunjukan teater sederhana dengan bentuk-bentuk umum pertunjukan teater di atas dengan juga menjadikannya sebuah objek wisata. Pertunjukan umum yang biasa dibawakan anak-anak kampus adalah pertujukan drama dan monolog serta tari atau menggabungkan ketiganya. Banyak naskah yang dapat diangkat menjadi sebuah pertunjukan dan dapat juga disesuaikan dengan momen yang bersejaah untuk membawakan pertunjukan tersebut atau kritik-kritik sosial atau pula politik. Contoh-contoh naskah yang umum dibawakan oleh kebanyakan sanggar teater kampus misalnya, naskah “Wek-wek” Karya almarhum Djaja Kusuma saduran Iwan Desember yang isi naskahnya merupakan sebiah kritik politik terhadap kejahatan KKN. Namun dengan dibawakan nuansa teater lakon, lenong, naskah wek-wek tidak begitu tegang walaupun membahas tentang KKN melainkan sebaliknya menghibur. Dengan cara menghibur teater menyampaikan suatu hal penting dan bermanfaat, dan hiburan adalah sebuah tujuan dari pariwisata. Tidak hanya sekedar mementaskah sebuah pertunjukan naskah begitu saja dengan hanya menghafal dan berlatih akting, tetapi juga butuh-butuh orang-orang yang mengurusi segala keperluan pementasan hingga pementasan berjalan. Orang-orang tersebut biasa disebutnya dengan sebutan orang belakang panggung. Sebuah pertunjukan teater merupakan simulasi sederhana menciptakan sebuah film-film di televise namun kalau teater merupakan bentuk film live dan tidak ada tayangan ulang atau di cut. Inilah yang membedakan antara pembuatan film dengan pertunjukan sebuah drama. Drama sangat membutuhkan orang-orang berkemampuan kesenian dan organisasi yang kuat. Untuk itulah setiap akan melakukan sebuah pertunjukan produksi naskah drama maka dibentuklah sebuah tim produksi pementasan sama halnya tim produksi film.

Kepariwisataan (ISI) Terusan

MACAM-MACAM OBJEK WISATA DI INDONESIA Indonesia yang memiliki segudang keberagaman manusianya melahirkan pula beragam adat istiadat, kesenian dan agama namun tetap dapat hidup rukun yang selalu dipersatukan oleh lambang Neagara Pancasila. Jangan lupa juga akan alam Indonesia yang sangat mempesona yang juga secara lamai menjadi tujuan wisata yang masih sangat diminati oleh setiap pengunjung yang datang ke Indonesia baik wisatawan mancanegara maupun domestik. Tidak dapat dipungkiri bila saat ini objek wisata alam masih menjadi favorit bagi setiap pengunjung tempat-tempat wisata di Indonesia. Indonesia di takdirkan oleh Tuhan Maha Pencipta dengan keberadaan Negara yang berbentuk kepulauan dan letak geografis dan astronomis yang baik sehingga pariwisata menjadi tambang emas bagi Negara maritime seperti Indonesia. Letak geografis yang memungkinkan manusia selalu lalu lalang karena di apit oleh du benua dan satu Negara besar yaitu Asia dan Australia yang menyebabkan Indonesia berada di jalur perjalanan bagi wisatawan yang hendak berlibur di benua Asia atau Australia yang memungkinkan manusia tersebut singgah di Indonesia untuk menyaksikan objek-objek pariwisata di Indonesia yang mentakjubkan. Namun meskipun demikian objek wisata lainnya di Indonesia tidaklah kalah mempesonanya dengan objek wisata alamnya. Berikut ini beberapa contoh wisata di Indonesia di luar wisata alamnya : 1. Objek wisata Belanja Wisata belanja di Indonesia dibagi menjadi dua jenis: pusat perbelanjaan tradisional dengan proses tawar-menawar antara pembeli dan penjual dan pusat perbelanjaan modern. Pasar tradisional umumnya menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari yang berlokasi dalam satu gedung atau jalan tertentu. Beberapa daerah dengan relief sungai-sungai panjang memiliki pasar terapung seperti Pasar Terapung Muara Kuin di Sungai Barito, Banjarmasin dan Pasar Terapung Lok Baintan di Banjar, namun adapula yang khusus menjual barang - barang seni atau benda khas setempat seperti Pasar Sukawati di Gianyar yang menjual berbagai kerajinan tangan dan barang seni khas Bali, Pasar Klewer di Solo yang menjual kain - kain batik, Kotagede dengan hasil kerajinan perak, dan kawasan Malioboro di Yogyakarta yang menjajakan kerajinan khas Yogya. Pusat perbelanjaan modern dapat ditemukan di kota-kota metropolitan terutama yang terletak di Pulau Jawa seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Semarang. Kebanyakan pusat perbelanjaan modern dapat ditemukan di kota Jakarta yang memiliki lebih dari 170 pusat perbelanjaan. Jakarta merupakan kota dengan jumlah pusat perbelanjaan terbanyak di dunia. Pusat perbelanjaan tertua yang pernah dibangun di Jakarta yaitu Pasar Baru yang dibangun pada tahun 1820. Pusat perbelanjaan di Jakarta, Semarang, dan Surabaya umumnya mengadakan diskon besar pada masa ulang tahun kota untuk meningkatkan daya tarik wisata belanja. Jakarta secara rutin mengadakan pesta diskon Festival Jakarta Great Sale, Semarang dengan nama Semarang Great Sale, sementara Surabaya mengadakan Surabaya Shopping Festival. Apabila kita cermati lagi bahwa objek wisata di Indonesia pada sektor wisata belanjanya, beberapa hasil dagangan di objek wisata belanja tersebut adalah hasil-hasil dari bakat-nakat sang creator dan seniman. Contohnya : di Pasar Klewer Solo, barang dagangan yang ditawarkan adalah hasil kesenian batik yang sangat terkenal dari Indonesia, kerajinan perak dari kota Gede Yogyakarta, Pasar Sukowati di Gianyar Bali yang menjual barang-barang seni dari Bali seperti contohnya adalah patung dan pasar Terapung di Lok Baintan di Banjar yang juga menjual barang-barang hasil kerajina kesenian dari kota tersebut. Untuk itu mari kita berlanjut pada objek wisata yang kedua yaitu objek wisata pada sisi kebudayaan dan kesenian yang ada di Indonesia. 2. Objek Wisata Budaya (Kesenian) Berdasarkan data sensus 2010, Indonesia terdiri dari 1.128 suku bangsa. Keberagaman suku bangsa tersebut mengakibatkan keberagaman hasil budaya seperti jenis tarian, alat musik, dan adat istiadat di Indonesia. Beberapa pagelaran tari yang terkenal di dunia internasional misalnya Sendratari Ramayana yang menceritakan tentang perjalanan Rama dan dipentaskan di kompleks Candi Prambanan. Desa Wisata Batubulan yang terletak di Sukawati, Gianyar merupakan desa yang sering dikunjungi untuk pentas Tari Barongan, Tari Kecak dan Tari Legong. Beberapa tahun belakangan ini beberapa kota di Pulau Jawa mulai mengembangkan konsep karnaval fesyen. Jember Fashion Carnaval secara rutin diadakan sejak tahun 2001 di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Karnaval fesyen lainnya namun memfokuskan tema pada batik adalah Karnaval Batik Solo yang pertama kali diadakan pada tahun 2008. Selain karnaval fesyen, adapula karnaval yang diadakan untuk memperingati hari jadi kota seperti yang diadakan di kota Yogyakarta dengan nama Jogja Java Carnaval dan di kota Jakarta dengan nama Jak Karnaval yang diadakan secara rutin setiap bulan Juni. Sejarah kebudayaan Indonesia dari zaman prasejarah hingga periode kemerdekaan dapat ditemukan di seluruh museum yang ada di Indonesia. Total jumlah museum di Indonesia berjumlah 80 museum yang tersebar dari Aceh hingga Maluku. Sejumlah museum terletak dalam satu kawasan seperti Kota Tua Jakarta yang memiliki enam museum merupakan daerah yang dikenal sebagai pusat perdagangan pada Zaman Batavia dan Taman Mini Indonesia Indah yang menjadi pusat rekreasi dengan jumlah taman dan museum terbanyak dalam satu kawasan di Indonesia. (Wikipedia.com) Keberagaman budaya yang ada di Indonesia melahirkan sebuah anugerah yang tidak dapat dibayar dengan uang. Merupakan sebuah harta karun peninggalan nenek moyang secara turun-temurun yang otomatis selalu dijaga kelestariannya oleh anak-anak bangsa. Namun sayangnya pada makalah ini yang ingin penulis sampaikan bukan alat musik tradisionalnya, tarian tradisionlanya, lagu-lagu daerahnya maupun pakaian-pakain dan makanan-makanan khas daerahnya. Melainkan yang dibahas dalam makalah ini ialah kesenian yang mencakup keseluruhan seni tersebut setiap pertunjukannya. Yang dibahas dalam makalah ini menyangkut pariwisata dan kebudayaan serta kesenian ialah teater. Merupakan sebuah bentuk pertunjukan yang melibatkan unsur-unsur yang kompleks untuk menggelar pertunjukaannya.

Kepariwisataan (TERUSAN)

Sejarah Pariwisata di Indonesia Dalam sejarah nusantara, diketahui bahwa kebiasaan mengadakan perjalanan telah dijumpai sejak lama. Dalam buku Nagara Kartagama, pada abad 14, Raja Hayam Wuruk dilaporkan telah mengelilingi Majapahit dengan diikuti oleh para pejabat Negara. Ia menjelajahi daerah Jawa Timur dengan mengendarai pedati. Pada awal abad 20, Susuhunan Pakubuwono X dikenal sebagai raja yang sangat suka mengadakan perjalanan. Hampir setiap tahun beliau mengadakan perjalanan ke Jawa Tengah , sambil memberikan hadiah berupa uang. Dalam tradisi kerajaan Mataram, raja atau penguasa daerah harus melakukan unjuk kesetiaan pada keratin dua kali setiap tahunnya, sambil membawa para pejabat, pekerja yang mengangkut logistik dan barang persembahan untuk raja. Masa Penjajahan Belanda Sejarah pariwisata di Indonesia di saat masa kependudukan/penjajahan colonial Belanda sektor yang diutamakan dalam pariwisata Indonesia terfokus pada sisi hal usaha. Dulu disaat masa penjajahan Belanda pariwisata di lakukan oleh kaum ningrat yang dapat membuka usaha seperti lahan perkebunan. Dengan mempunyai dan membuka lahan perkebunan hal tersebut dapat menarik perhatian banyak masyarakat saat itu untuk mengagumi si ningrat akan hasil usahanya dalam perkebunan tersebut. Namun secara resmi kepariwisataan di jaman masa penjajahan Belanda di awali dengan pembukaan suatu biro jasa pariwisataan pada abad 19. Diawali dari tahun 1910 hingga 1912 atas keputusan gubernur jenderal Belanda saat itu yang bernama Vereeneging Toeristen Verkeer (VTV) yang merupakan suatu biro wisata atau tourist bureau pada masa itu. Saat itu kantor tersebut digunakan pula oleh maskapai penerbangan swasta Belanda KNILM Koninklijke Nederlandsch Indische Luchtfahrt Maatschapijj. yang memegang monopoli di kawasan Hindia Belanda saat itu. Sektor pariwisata di Indonesia saat ini condong kearah upaya pemerintah untuk meningkatkan penghasilan Negara melalui devisa yang ada. Sejak awal abad 19 dari mulainya kepariwisataan di Nusantara berkembang pada jaman penjajahan Belanda hingga sekarang perkembangan dan peningkatan ekonomi di Indonesia semakin tumbuh, manusia semakin lalu-lalang seiring dengan kemajuan teknologi yang dapat mengantarkan mereka pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk melakukan perjalanan guna menanbah wawasan khususnya berniaga. Seiring berkembang pesatnya perdagangan antar pulau di eropa dan Asia maka semakin pesatnya manusia yang lalu lalang dan yang khususnya singgah di Indonesia. Hal tersebut dimanfaatkan oleh pemerintah saat itu hingga sekarang untuk mengambil peluang dengan meningkatkan fasilitas kepariwisataan yang dipunyai Indonesia. Dari sektor alam, belanja, dan budaya serta keagamaan, pemerintah gencar mengembangkan pariwisata pada sektor-sektor tersebut. Dan menjadi tulang punggung penghasilan Negara dalam meningkatkan perekonomian Negara. Hasil survey pada tahun 2009 (Wikipedia.com) memperlihatkan bahwa sektor pariwisata di Indonesia merupakan penghasil uang melalui devisi urutan ketiga setelah gas dan minyak bumi. Data tersebut menjadi bukti bahwasanya Indonesia sangat memiliki banyak peluang di sektor pariwisata yang menjanjikan ini. Apa lagi dengan seiring pesatnya perkembangan tekhnologi yang semakin mengglobal ini yang memungkinkan untuk mudah dan cepat mengenai informasi khususnya tentang apa-apa saja jenis-jenis pariwisata yang di tawarkan di Indonesia, melalui media baru (new media) jejaring sosial yang saling terhubung satu sama lainnya memungkinkan pemasaran akan sektor penghasilan devisa ini dapat terus ditingkatkan.

Selasa, 05 Juni 2012

KEPARIWISATAAN (TERUSAN)

BATASAN MASALAH Dari keikutsertaan penulis pada suatu produksi pementasan teater yang menjadi kendala dalam pembuatan sebuah pertunjukan drama adalah masalah konsep pertunjukan, tempat dan biaya. Tiga poin inilah sebuah tantangan yang sulit untuk menghasilkan sebuah produksi teater apalagi teater kampus. Kebetulan teater Tema, merupakan teater yang baru hidup kembali selama setahun setelah dua tahun vakum. Untuk permasalahan konsep pertunjukan. Sejauh ini dari keseluruhan anggota, Tema selalu mengadakan suatu pertunjukan pada peringatan-peringatan hari penting. Misalnya pada hari jadi Tema Gunadarma yang kesembilan belas tahun kemarin. Konsep kami sesuaikan dengan acara ulang tahun, sehingga pertunjukan berkesan adalah hajatan ulang tahun Tema, tidak terlalu terfokus akan penampilan namun syukuran hari jadi Tema. Namun sebagai anak-anak teater istilahnya, kami tetap dievaluasi dari segi keseluruhan pementasan, baik konsep, actor, penyutradaraan dan manajerialnya. Tempat sebenarnya mudah-mudah gampang. Karena untuk sebuah pertunjukan teater dibutuhkan panggung standar ukuran melebar dari kiri ke kanan 10 meter dan panjang panggung dari atas ke bawah 8 meter. Dari jenisnya, konsep panggung (tempat) pertunjukan untuk sebuah pementasan teater terdiri dari tiga jenis yaitu : 1. Jenis panggung arena. Panggung/tempat ini merupakan panggung atau tempat bermain teater yang sangat simple, efisien dan efektif. Karena hanya membutuhkan sebuah tempat yang lapang dan disekat oleh kain-kain (backdrop dan wings) sebagai tembok penyekat panggungnya. 2. Jenis panggung presenium. Panggung jenis inilah yang sulit ditemukan kampus non-seni. Di Universitas Gunadarma sendiri ada panggung presenium seperti yang dimaksud yang dimiliki fakultas Sastra Gunadarma. Jenis panggung ini yang sangat ideal untuk pertunjukan teater. 3. Jenis panggung tapal kuda. Merupakan gabungan 2 jenis panggung anatara panggung arena dan panggun presenium. Panggung tapal kuda adalah panggung di mana tempat bangku penonton menyerupai tapal kuda, dan panggung bermain berada di tengah-tengahnya. Jenis panggung ini berada di Taman Ismail Marzuki Cikini Jakarta Barat. Namun untuk menarik penonton pensiasatannya adalah menggunakan panggung arena, karena penonton mudah untuk menyaksikan pertunjukan ketimbang jenis panggung lain dan juga kalau panggung arena dapat dilakukan di luar ruangan. Biaya, merupakan suatu hal yang sangat penting sekali dalam sebuah pertunjukan teater. Namun aka nada timbale baliknya apabila teater dapat dijadikan sebagai objek pariwisata. Dari pengalaman yang pernah dialami. Minimal biaya untuk melaksanakan sebuah pertunjukan teater idealnya membutuhkan dana kurang lebih Rp. 3.500.000,- ini di luar biaya alat-alat dan keperluan panggung. Melihat biaya yang dibutuhkan cukup besar. Maka teater tidaklah disebut sebagai aktor numpang mentas atau main naskah tetapi pembelajaran akan kesenian dan kebudayaan. Karena naskah-naskah teater jauh berbeda dengan naskah film, dan lebih ekspresif. Dari ketiga unsur permasalahan di atas dapat disimpulkan menjadi poin-poin penting sebagai poin batasan masalah dalam upaya pembuatan objek pariwisata dengan teater. Adapun pertanyaan-pertanyaan dari batasan masalahtersebut adalah : 1. Apa saja cara mempromosikan suatu pementasan teater sehingga dapat menjadi daya tarik bagi orang-orang untuk menyaksikannya ? 2. Di manakah teater seharusnya di pertunjukan agar dapat memancing masyarakat umum untuk menyaksikannya ? 3. Kapankah baiknya sebuah pertunjukan teater di pentaskan untuk menjaring orang- orang datang dan berkumpul menyaksikan sebuah pementasan ? 4. Siapa sajakah yang seharusnya menjaga dan mengembangkan nilai-nilai kesenian dan kebudayaan khususnya seni teater ? 5. Bagaimana upaya yang sangat progresif untuk memajukan teater di dalam pariwisata seni dan kebudayaan ? 6. Layakah teater di jadikan sebagai objek pariwisata ?

Kepariwisataan (Lanjutan)

TUJUAN Mengapa Teater ? Pertama Saya sendiri sebagai penulis dalam tulisan ini merupakan aktifis organisasi kampus yang bergerak dalam bidang kesenian atau teater. Tema Gunadarma. Merupakan wadah yang menampung segala hobi dan bakat kesenian mahasiswa khususnya teater. Sebagai orang yang ikut aktif memajukan teater di lingkungan Kampus Universitas Gunadarma, Saya pribadi memiliki mimpi untuk membuat teater menjadi sebuah objek pariwisata di sector kesenian dan kebudayaan. Bila teater berhasil dijadikan wadah kepariwisataan bukan tidak mungkin teater akan lebih diminati lagi bagi mahasiswa ketimbang berpariwisata di balik layar kaca (menonton televisi). Sebagai pengurus pula di organisasi teater ini, Saya memiliki sahabat yang juga katif di bidang teater ini. Jumlah anggota kai kini berjumlah 68 anggota. Sungguh luar biasa banyaknya anggota dari teater kampus Tema Gunadarma ini. Semuanya aktif, dan berteater. Teater banyak mengajarkan kehidupan, karena teater bermain realis kehidupan dan surealis tentang imajinasi. Selain media hiburan, teater pun sebagai wahana penyampaian aspirasi dan cara seni berkomunikasi dan bereksperi. Jadi jelaslah bahwa teater dapat menjadi objek pariwisata kesenian dan kebudayaan, tanpa melihat dari sisi marketing, namun pengembangan nilai-nilai seni yang ingin dikomersilkan nantinya kepada turis atau pelancong dengan menyaksikan pertunjukan teater ini. Adapun poin penting tujuan dari kepariwisataan teater ini antara lain : 1. Memperkenalkan tradisi dan budaya. 2. Memperkenalkan budaya teater kampus (khususnya teater Kampus Universitas Gunadarma). 3. Memancing gairah berkesenian di lingkungan kampus. 4. Mempromosikan teater kampus. 5. Menjadi sektor pemasukan pendapatan bagi teater. Melalui berbagai macam pertunjukan dalam kesenian teater, diharapkan banyak yang tertarik untuk datang dan meyaksikan pameran kesenian dan kebudayaan itu dalam bentuk panggung sederhana namun sangat menarik dan energik sehingga banyak penonton (pengunjung) yang datang dan menyaksikannya. Sebuah naskah drama atau naskah monolog bahkan naskah puisi apabila sang kreator (pemainnya) dapat menyulap sebuah naskah itu menjadi wah maka bukan hal yang tidak mungkin tujuan-tujuan di atas tersebut dapat terealisasikan. Biasaya pertunjukan yang disuguhkan dalam perhitungan waktunya. Untuk membuat sebuah pertunjukan teater (drama) seminimal mungkin proses pembuatannya adalah 6 bulan. Jadi mulai dari skala yang kecil terlebih dahulu teater mulai membuat pertunjukan tiap semesternya dengan target pengunjung adalah mahasiswa atau teater kampus lainnya. Namun tidak menutup kemungkinan di saat-saat hari peringatan besar misal hari lahirnya Pancasila tanggal 1 Juni kemarin, teater akan menampilkan pertunjukaannya sesuai dengan tema yang menyangkut hari lahirnya pancasila. Dan sekaligus mengingatkan kembali kepada penonton akan hari Pancasila (dampak positif teater dalam menyampaikan informasi). Arnz

Minggu, 13 Mei 2012

KEPARIWISATAAN

Bukankah bumi Indonesia kaya akan keindahan yang membentang dari Sabang hingga Merauke ? Keindahan yang dimiliki negera Indonesia merupakan suatu limpahan karunia dari sang maha pencipta yang patut selayaknya dijaga dan dimanfaatkan. Bukan hanya keindahan alam namun juga keindahan akan keberagaman budayanya. Perpaduan antara keindahan alam dan keindahan budaya yang terdapat di bangsa Indonesia marilah kita sebut sebagai keindahan bangsa Indonesia. Salah satu upaya pemanfaatan keindahan bangsa yang dimiliki bangsa Indonesia adalah dengan cara memperkenalkan keindahan bangsa yang kita miliki ke seluruh warga dunia dengan cara mlestarikan dan menjaganya tetap utuh. Bidang yang sangat berkompeten menangani pemanfaatan keindahan tersebut salah satunya adalah bidang kepariwisataan. Pariwisata di Indonesia merupakan sendi perekonomian yang vital bagi bangsa Indonesia demi menopang pemasukan uang Negara di sisi devisa asing, nomor ketiga terpenting bagi pemasukan Negara setelah gas dan minyak bumi. Dari masa permulaannya sejarah pariwisata di Indonesia sudah cukup tua. Masyarakat Indonsia telah mengenal pariwisata sejak 600 tahun silam. Di mulai pada abad 14 dipercontohkan oleh seorang raja dari provinsi yang dikenal sebagai provinsi Jawa Timur kini yaitu kerajaan Majapahit, Raja Hayam Wuruk telah mengelilingi kerajaannya yang didampingi dengan iring-iringan penjabat dan pengawal kerajaan. Deskripsi tersebut menggambarkan contoh pariwisata. Dari sejarah yang mengenalkan pariwisata kepada kita, maka sudah sepatutnya lah kita menghargai warisan leluhur tersebut dengan terus mengembangkannya. Tidak hanya terbentur dengan keindahan alam yang dapat dipariwisatakan, namun budaya pun dapat dipariwisatakan, juga kesenian. Dengan pariwisata seseorang di samping tujuannya dapat menghibur diri dan batin, namun juga banyak belajar tentang keindahan yang terkandung dalam kunjungan yang bersifat pariwisata tersebut. “Sambil menyelam minum air”, mungkin peribahasa tersebutlah yang dapat mengungkapkan betapa pariwisata memiliki banyak khasiatnya. Walaupun tidak dapat dipungkiri apabila berpariwisata adalah tujuan mengunjungi atau mendatangi suatu tempat dengan tujuan hiburan dan refresing namun menyelam lebih dalam ternyata apabila diselidiki lebih memaknai lagi, pariwisata merupakan sebuah study yang dapat memuaskan jasmani dan rohani serta pikiran tentang pengetahuan pula. Sehubungan dengan ingin membuktikan bahwa pariwisata merupakan juga sebagai media menambah pengetahuan, maka Saya penulis membawa para pembaca untuk ikut sama-sama berbicara tentang kebudayaan dan seni yang kurang diminati kaum seumuran Saya di masa kuliah. Diserangnyah dengan kemajuan teknologi yang tiada terhenti berkembang, teman-teman seangkatan seperti Saya lebih menyukai keseniaan atau kebudayaan yang modern sehingga mereka menyebutnya gaul. Memang benar menurut pepatah lama “Lain lubuk lain ikannya”, mungkin pepatah tersebut berkesesuaian dengan keadaan jaman sekarang. Bila kita boleh membandingkan antara jaman dulu (jaman setelah penjajahan semua serba tradisional) dengan jaman sekarang (serba canggih), remaja menggandrungi kesenian dan kebudayaan yang dibawa oleh Negara maju dengan tingkat kemajuan teknologi yang lebih dari bangsa ini. Mereka kini lebih senang menyenangi kesenian atau kebudayaan yang serba digital tidak lagi yang analog atau tradisional. Salah satu kesenian yang seharusnya bisa menjadi objek pariwisata yang baik di sisi hiburan dan pembelajaran pengetahuaannya adalah teater. Untuk itu Saya sebagai penulis sangat tertarik menulis makalah ini dengan bahan-bahan teater. Teater merupakan kesenian sekaligus kebudayaan dunia yang sudah dikenal sejak jaman Mesir Kuno dan romawi dahulu kala. Teater berisikan orang-orang yang memang totalitas dalam melakukan kesenian dan kebudayaan tanpa mengagungkan teknologi jaman sekarang walaupun tidak dapat dihindari teater pun dapat memanfaatkan teknologi modern seperti sekarang ini. Namun teater dilihat dari sisi pariwisata akan menarik bila bisa direalisasikan apabila setiap sanggar dalam hal ini penulis mengambil batasan kampus, apabila teater-teater kampus bisa membuat sebuah tradisi pertunjukan teater sesuai tradisi kampusnya masing-masing maka, setiap kali diadakan sebuah pementasan maka tentulah kesenian teater tersebut memungkinkan bisa menjadi objek pariwisata di bidangnya. Dengan mengiklankan sebuah pertunjukan, pnonton yang datang bisa disebut sebagai wisatawannya. Dengan tiket murah seseorang bisa belajar kehidupan dengan menyaksikan sebiah pementasan teater. Karena teater adalah kehidupan. Arnz

Selasa, 24 April 2012

TERROR AND TERROR

An old theme if we want talking about terror, terrorist, and terrorism. Why ? Because the problem was long time in every country in the world lift the problem about terror, but it has still never been found out the good solution for this problem. Neither the powerful country nor ordinary country in the whole of the world which fight against and again for terror, it still like trying to stand up wet yarn. So still useless, there is still much case which interconnected with terror. The every government in every country just can give an order to players whom can handle this terror although it was sacrifice many people whom didn’t sin or generated the losses, good material or soul. So what we have to do ? I can’t understand further. Lets we see, what is the terror, terrorist, and terrorism means in fact or from in the meaning of the word terror itself. Although the act of terror almost same with war, but in fact both of them is different. The act of terror or lets we change the word with the force of terror is differ with war because the force didn’t bow to the rules like war which bowed to the rules of war. Terror act frequently and suddenly and also generated the victim (civil) which doesn’t sin. And also different with war, if in the war always signed when the war started and ended. Terror also always using the brutal and cruel or in other named they always using everything solution to reach their goal even if they must sacrificing themselves, killed themselves, and killed people around them, the important objection for them is generating terror and get what they wanted. So why the action of terrorism often happened, and like it will never can stop ? The answer is still bewildering. It never been clear reason why many people or many teams which mentioning themselves as terrorist did terror force. If there any, it just a reason for necessary some teams itself. So it was reasonless with killed people that not sin. And why must the attacking of this terror must in the crowded areas and anytime, when many people at there are stand, walk, sit, talk, and do anything activities which in fact never any interconnected with terror ? It so anxiety, if we back to the years behind us, when there was many tragedy which there any relation with terror likes, bomb or brutal attacking and also suicide bomb that swallowed many people that not sin. It was very important for them to generate damage, losses, or victimize, just to reach their willing, I think it was very egoist and mean. Whatever the reason and whatever the reason how can it happened to some people want to do that terror act, I think it still call with stupid, not humanity, reasonless and egoist solution or way to get what which was to be their goal. How if their family who become as the victim about one attacking of terrorism. So for some family (but almost every family if they in this condition) want to revenge and didn’t accept well. Like the sentences, so blood paid blood and kill paid by killing. So the victim family will attack back with terror too. So it will appear the phenomenon of terror and terror. If it was happen like that, so terror it will never been ended until whenever. The terror will jump and jump again and again without the back part. As we as good people, good world people who has humanity and realize each other about world peace, ought to we had good solution to reduce, to disappear and to stop the terror act with good way of course. Don’t look who must responsible about the result of the terror attacking. And don’t blame anyone. That was happen leave that happen and elapsed. We as good people were very knowing and understand if the problem about terror never used up or finished. When people still egoist and just want what they want with want do everything way to get the goal and also use short thinking if just they whom very right, so terrorism still will be happen. Never there is a good solution for solve the problem. Only stopped it a minutes, and it will come back generate in society live. If that happen like it, so the people whom not sin who will be the victim, and some people who to be victim and can’t accepted will be do revenge with terror too, because they were stressed and frustration and also can’t believe anyone else, so with revenge perhaps they think it will solve their grudge, we see, it very egoist if people do like that. But it’s true if terror often anxious, and government officer which obliged to along with government assumed tardy fight against this terrorizing. The disappointed people to government as act of blame in fact always happened in the society, especially for this problem. So terror will against with terror. Terror and terror. So, what it perhaps people who as the victim reaction to the act of terror do same as their fight with terror too ? It surely perhaps I think. Why ? Because we can see the government or our government with his players handle this problem with terror too. Much accident which entangling the government officer when defeated terrorist, with act terror too. Although that correct way to defeat terrorist and successes, it was still indirectly, the government was show to their citizen about terror. So although people don’t want blame anyone, they have to blame their government and was to be tradition if always the government which had been blamed. If like that, ought to the government must thinking and as fast as they can, they must to find out the good solution for this problem. It is true is not easy matter to look for solution besides the physical contact of government officer in handling this terrorist cases. Terrorist there will always and continue to expand. For that make proper to government know where from that terrorist coming and can always expand and many. So, it’s good if in every studying media good in institution or in house, well the teacher or parents can guide with good and right education to their teenagers so that don’t mislead to the wrong way (terrorism cases). We realized many teenagers in now to be victim in terrorism cases. And the teenagers was become fuel for the big teams of terrorism for recruit and to be part of terrorist and do act terror. Because the teenagers who very easy to give doctrine and incitement so that they want to be a terrorism because the teenagers very labile and easy to brain washer. So, the terror which fight with terror too, it will never been finished the terrorist to do terror act, even the terrorist will more dangerous and more. But, the government seems only had one act to handle this problem, it’s with physically contact to face terrorist. So it can means terrorist must killed, because most of the terrorist never compromised with government officer. They will fight until dead or arrested and or they prefer to kill themselves. So, what the government can do else ? That was the good solution until now to defeated terrorist. As preventive effort, the government can socialize to the people about terrorism, good in school or society. So perhaps it will stop the expand of terrorist and the link of terrorist can be finished. But, for defeated terrorist who appear in society and true they are terrorist, the government only had one solution, it is arrest them or kill them. Never happened when terrorist want to compromised with government and surrender, it never been happened. Never good solution for terrorist, and terrorist always give terror, egoist and absolutely wrong. Always generate the losses for their necessary. So the problem must face with terror too. Terror never ended, because terror will fight with terror too. Terror and terror. and until now the government with the government officer still difficulty to face and defeated terrorist although with terror too. With counter attack and crowded attacking the government officer face the terrorist. It’s still to be good reaction for the terrorist. Terror and terror.

JUST BREATH AND EXHALE IT

A general thing if someone that has a solid activity like studying or working they will meet the bored point in their activity that. Same as like someone that desire to drink a glass of water when they were thirsty. In the first glass they didn’t feel satisfying, they still thirsty, and then the second glass they drink it, but still they didn’t feel satisfying until only for the example that people stop in fifth glass, that people finally feel satisfying because his thirsty fulfilled. But lets we see besides because the reason of that people stop in fifth glass, that people didn’t want to drink the water again ? It’s so simple for the answer and we can concluded if the answer because that people bored to drink more water again, so that people stop drink in fifth glass. This analogy alike the case when some people become stress for their activity, studying or working. Perhaps they feel bored and saturated because everyday they always do same activity day by day, although in studying and working there is task which different in every day, but still the general meaning of studying and working is still just studying and working, and both are related, studying for working and working need studying, so surely every people that studying or working will experience the symptom ( bored and then stressed ) because they need the free space for themselves to do anything which can make them feel fresh again from first they feel bored and saturated. An important thing if we do anything that as our obligation or as our thing that so priceless for us, we must love our activity. Not only love because we have it, but love it from the side of the risks, the consequence, and the responsibilities. With we’re understanding all of that, I can make sure if we can do it all what we want good it is working, studying or anything else well, without we will feel bored, saturated, tired or stress. We can pretend it all. So we might can protected mislead to the bored and become stress. But, undeniable almost people particularly in the work orientation become stress because their work or job. These peoples unsuccessful to effort to themselves, so that they can’t protect from the dangerous of bored and stress. An article told if people are under stress, they may be anxious and irritable. It’s true, people that become stress showed the symptom like people as they are. They a little change, they may be more can angry or more sensitive, especially to the people that doing a mistakes to the people that under stress. And people that under stress are often reaction harsh to the people even he harsh to himself. It’s very generating a great deal of losses. And from the little symptom when people are under stress like to be anxious and irritable and then they to be harsher in action and last that people do not close possibility if that people will be crazy, it’s the biggest losses for someone if they can’t be able to stay far away from the symptom of stress. There is not good herb which efficacious can help people that was suffering of the symptom of stress. The only good herb and as the good solution too for everyone that inside the symptom of stress, they can effort anything activity which make fun for them, so it can be refreshing their bran and soul. People that with good thinker and well they can passed they obstruction well, and they far from the stress, because they can thinking about what thing that was to be their responsibilities which they must account everything the consequence, good if that studying or working, so they must fun and love it. If it’s true and everything advise to keep us from the stress unsuccessful made us still struggling to face our activities, we have to find out the good and best solution so that we can’t falling down to be crazy because the reason of stress. So, what are they which we can conduct for us to leave our stress ? In fact there is so many things that we can do it for ourselves. Seems like we do our hobby that can make us feel happy, fresh and wash our soul. But we realized if everyone was different. All of us have had the solution to release our stress. For me as the writer on this paper I suggesting if we want to release our symptom of stress and stress there are three suggest for this case. First, try to find your enjoy. For the example do anything activity which we very love it or very addict (singing, playing music, hang out, or anything else), in essence that activity we love and we think it can reduce the damage of stress in our soul and mind. Second, stop your subject activity for a while. Try to sleep. We sometimes need addition to sleep. With we can rest our body for a while we rest our mind and soul to from the busy activity that just make us stress, and it just destruct our body and soul until we can be sick. With sleep, we can light mind burden, after sleep our mind and soul in the good condition again, so we can think well. And the last, keep struggling and keep smiling. Whatever the obstruction which we will face, we must make sure if we can to pass it or struggle. With struggle it’s meaning we can strong to face anything will block us, and we can’t be stress. Keep smiling it doesn’t mean we are surrender because we have tired to face our obstruction, so we smile and smile and smile every time. But, we keep smile so that we can still calm and enjoy. With keep smiling we have given to ourselves the spirit, the aura and the power to walk our activity in everyday especially when we face our obstruction. A little thing but big we can get for we want to keep smiling. So we can concluded all of the good solution for us to keep far away from stress are, we must healthy, fresh, rest, keep going forward and smile. So if we can fulfill that, I can make sure if we won’t protect from stress symptom and stress. And last every problem or obstruction which will block us, make sure ourselves ready to fight that and just breathing and exhale it. Every problem has every solution, and every solution has every obstruction too, but every obstruction can be solve with good attitude, so once again, just breath and exhale it.

‘OUGHT TO THIS IS WE ASSIST WITH’ THE ORPHAN

In fact this is governmental responsibility of us. but it's stupid likely if we just silent , only seeing, simply knowing and justly pay attention of life of ownerless orphan children. So that they do not far only becoming public road children and beggar. This a situation very anxiety, ad for in area capital of situation of picture like this is a horrible paradox. As normal fellow being which have idea and feeling, when us placed as motherless children, how feeling of us and idea of us to people around us which is very know of our situation require help but people do not care. Honestly, witnessed situation of very sadly is we surely tell if very egoist people in era now. see attempt example and fact when us becoming children which do not have mother or father in other name is orphan, of course orphan children around us even also feel illness do not be paid attention. By we have got wise to tolerance we ought to know what ought to be done to the problem of this. Problem of ownerless orphan children. Ought to we assist with. As society also, orphan children have basic rights is the same as with complete other normal children have parent. So, how about governmental responsibility ? Absolutely, government which must really pay attention this problem. Government, justly tell of slip forget about their child of which was their parent loss and they do not have place wings of and food and also education. possible Governmental of business with possible business far heavier than at thin emotion of motherless children. So, with using statement ‘talk less do more’, so, what we can do for take a part to help a little to the our Government, when they very busy about their problems which very important than for managing the orphan. A few or to the number of matters which we can do to be thin of orphan children specially start from area of around our own environment is do not too take as problem, but how we to make they will put trust of them to us to join in to shared by them with excess which our which was themselves do not have. Make they feel to be protected and balmy with heartfelt attention of us to their condition without little even also touch they are situation of them. Some possible matters which maybe we can conduct to a little help them and amuse them are with the ways as following : 1. By becoming volunteer, we give Iesson looking like in schools to them, in order not to blind them about science and give them describing about a little how situation of that school like what. Thereby, orphan children which at first do not have big ambition of moment time to be able to wait felt science bench become more and have obsession to become a which fond of look for science, specially positive knowledge. 2. Made a team, peripatetic to assist orphan children in levying of fund for eating orphan children. Raised money pass event devote social or had recourse from other parties directly which care to orphan children. 3. Teaching them a matter which is creative in character. Specially creative matter able to dig their potency. To later can continue and continue can be developed along time walked. And can good for and yield a worthwhile matter in life of them. The example, we earn to teach they are procedural transplant crop, fruit crop of especially. By them knowing how to transplanting, they will open opportunity of is effort them in the case of crop sales transplant definitively of yield. 4. Teaching them concerning manner of decent respectably. Why they have to be taught by concerning decent respectably ? The answer is very simple, that is, because they do not have peer namely their parents to be able to teach them concerning how to decent respectably. Release observation of their parents, most from them shall no longer recognize manners, because clear nothing that teach always concerning manner of decent respectably. 5. Competent House Reformatory developing dwell and have things of clothes,food and board for all motherless children to occupy this reformatory. This is biggest matter which in fact earn surely we do for the shake of benefaction name. This matter it is true very difficult isn't it without other party aids which is have money. But with effort which continue glowed, surely to build reformatory with capital alone even also can be realized. A team with member which is consistence and solid and also commitment to do this august matter assisted motherless children, surely to look after fund of effort alone to get capital to build reformatory not impossible can be done. A team with his member, can creative to collect fund for the shake of the awaking up of a reformatory for motherless children, specially motherless children which unemployed. If fund less, team can raise proposal to party which will assist and also care to orphan children chance to will follow to assist gave aid in the form of money. Possible in collecting fund later, we get difficulty to get aid of selected party which will assist. But this matter make proper trying and fought for, for the shake of benefaction word, fund to build reformatory can be realized. Because are the big of benefit and function of reformatory specially for motherless children which unemployed. That a few our which can matter do to a few at least to assist and pay attention the condition over orphan children by extant and real action. Still many our which can matters do to finish this problem. But a few from people now will do this matter. Because assuming that mentioned is not their business. Attitude like this is egoist attitude and do not have heart. Why must the Orphan ? This is a simple question to answer. Why ?, because we are human who have humanity. If we don’t have it, so it’s okay we leave this problem. But, we realized, we are human and humanity. In every lesson of life, all of them have been telling us for helping to each other. Especially In Islam, we are ordered to love orphan because Muhammad SAW, very love to orphan. So as Moslem, people have to pay attention to this case and do more to this case. So, orphan can make their life well. Because everybody have same rights to good life.